Lapisan Es Gunung Jayawijaya Papua/Foto via Karin Pratama Arka/Nusantaranews
Lapisan Es Gunung Jayawijaya Papua/Foto via Karin Pratama Arka/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah Wamena, Provinsi Papua menyatakan bahwa lapisan es di Puncak Jayawijaya terancam musnah pada 2020 jika tidak ditangani dengan baik. Penebangan hutan besar-besar diduga sebagai penyebabnya.

Kepala BMKG Wamena, Benny Marlissa mengatakan bahwa penebangan hutan yang cukup tinggi berpeluang melenyapkan es di Puncak Jayawijaya.

“Melalui aktivitas yang berlangsung terus tanpa pengawasan dari pemerintah maka dampaknya lapisan es yang tebal makin menyusut. Kita lihat di Wamena penebangan di mana-mana tanpa kontrol, karena masyarakat merasa bahwa mereka punya hak ulayat,” ujar Benny di Wamena, sebagaimana ditulis, Sabtu (10/6/2017).

Menurut Benny, sebenarnya penebangan hutan memang didasari kebutuhan ekonomi. Namun diharapkan ada tindakan penanaman ulang pohon dari masyarakat maupum pihak-pihak yang menebang pohon di sana.

“Bukan hanya masyarakat adat, masyarakat pengelola ekonomi yang hanya mengejar keuntungan tanpa mempedulikan lingkungan, sebaiknya jika ada penebangan ada juga penanaman ulang,” ucapnya.

Benny menjelaskan, rata-rata wilayah pegunungan Papua memiliki lapisan tanah yang sedikit dibandingkan bebatuan sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk pertumbuhan pohon.

Untuk diketahui sebelumnya, Kepala BMKG Pusat Andi Eka Sakya mengungkapkan, jika tidak ditangani dengan baik, maka lapisan es di Puncak Jayawijaya akan hilang pada 2020. Berdasarkan hasil observasi terakhir, November 2016 es di puncak itu menyusut 1,42 meter sejak Mei 2016.

Menurutnya, tebal es di Puncak Jayawijaya tersisa 20,54 meter. Sejak Mei 2016 es di puncak itu menyusut 4,26 meter dari November 2015 yang disebabkan el nino kuat pada 2015/2016.

Andi menyampaikan bahwa perlu langkah strategis dari pemerintah dan masyarakat dunia guna menekan pencairan es di Puncak Jayawijaya yang menjadi salah satu dari tiga puncak bersalju di khatulistiwa selain di Benua Afrika dan di Peru. Langkah tersebut adalah menghindari perilaku yang memicu pemanasan global seperti penebangan hutan liar, tingginya produksi emisi karbon.

Reporter: Richard Andika
Editor: Romandhon

Komentar