Connect
To Top

Skema Peningkatan Kualitas Industri Gula Nasional dan Turunannya

NUSANTARANEWS.CO – Produksi Gula Kristal Putih (GKP) dalam negeri yang dihasilkan dari perkebunan tebu nasional dalam lima tahun terakhir baru mencapai rata-rata 2,5 juta ton per tahun. Namun pada tahun 2015 lalu, capaian produksi GKP hanya mencapai 2,49 juta ton, terjadi penurunan, dan meleset dari target yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian sebesar 2,7 juta ton.

Dalam Kongres Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) 2016 di Surabaya, terungkap bahwa selama ini, varietas tebu yang ditanam oleh petani Indonesia bukanlah bibit unggul, sehingga produksi gula nasional tidak maksimal. Untuk itu, petani tebu Indonesia harus segera mendapatkan varietas baru. Terutama untuk mengejar kekurangan produksi gula nasional yang ditargetkan mencapai 3,2 juta ton pada 2018 mendatang.

Menurut Tarsisius Sutaryanto, direktur produksi PTPN X, guna meningkatkan kapasitas produksi gula nasional, Indonesia perlu bekerjasama dengan Brazil untuk mendapatkan bibit tebu varietas baru yang hasil produksinya lebih bagus, termasuk pengembangan industri hilir tebu.

Sebagai informasi Brazil adalah salah satu produsen tebu terbaik di dunia yang mampu menghasilkan rendemen antara 10% hingga 14% dengan produksi tebu berkisar 150 ton sampai 200 ton per hektare. Bahkan dengan pengembangan industri hilir, selain gula juga menghasilkan bioetanol dari tetes tebu dan listrik dari ampas tebu

Oleh karena itu, sambil jalan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) perlu dihidupkan lagi, kita tidak bisa menunggu, kata Sutaryanto. Begitu didatangkan dari Brazil, kata dia, maka bibit tebu tersebut akan menjalani masa aklimatisasi dan pembibitan selama 6 bulan di lahan seluas 2.000 hektare di Desa Jengkol, Kabupaten Kediri.

Setelah itu, bibit baru disebarkan dan diuji cobakan ke beberapa lokasi lahan milik PTPN X, dengan demikian pada 2017 diharapkan sudah muncul varietas unggulan. Tak hanya Brazil, pihaknya juga akan mencari varietas tebu unggulan dari negara lainnya seperti Mauritius dan India. Hingga tahun 2018, diharapkan terdapat mencapai 3.000 hektare lahan dengan bibit unggulan tersebut. Satu hektar lahan kira-kira membutuhkan 6-8 ton bibit. (Banyu)

Komentar