Berita Utama

Simulasi Pertemuparan Darat di Natuna, Ini Kata Analis Pertahanan dan Alutsista TNI

Latihan Tempur Angkasa Yudha di Natuna 2016/Foto Istimewa
Latihan Tempur Angkasa Yudha di Natuna 2016/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Pulau Natuna sebagai pulau terluar Indonesia, belakangan menjadi sorotan dunia, khususnya Cina. Natuna yang dinilai memiliki sumber daya alam yang melimpah bahkan disebut-sebut menjadi perebutan negara-negara adikuasa. Demi menjaga kedaulatan laut dan darat Indonesia, militer Indonesia usai mengelar simulasi pertempuran darat di Natuna. Simulasi ini bukan untuk yang pertama kalinya namun untuk yang kesekian.

Analis pertahanan dan alutsista TNI, Jagarin Pane, mencoba menunjukkan maksud di balik simulasi pertempuran darat yang dilakukan bersama aneka ragam alutsista dan lebih 4000 prajurit matra darat tersebut. Menurut Jagarin, secara diplomatis, simulasi pertempuran dilakukan di Natuna lantaran letak teretori berada di garis depan, pulau terluar Indonesia.

“Jadi Seluruh matra TNI wajib mendiagnosa detail wilayah perbatasan yang lagi demam sebagai antisipasi. Jawaban militernya, jangan coba-coba menganggu wilayah teritori NKRI, berani masuk digebuk. Jawaban Presiden Joko Widodo lebih sederhana lagi, ini perintah langsung dari saya sebagai Pangti. Ayo para jiran mau ngomong apa,” terang Jagarin lewat opininya berjudul “Kembali Mengasah Pedang” yang diunggah di Blog Pribadinya, analisisalutsista, 2 November 2016 lalu.

Seperti diketahui, kata Jagarin, selama dua pekan ini Natuna didatangi kiriman alutsista dari Jawa. Ada yang lewat laut ada yang lewat udara. Tank Leopard yang bobotnya 63 ton harus dilayarkan dengan kapal ADRI bersama panser Anoa, Tank APC M113, Tank Marder, Tank AMX, Tank Scorpion. Namun, ia menyayangkan pada saat diperlukan kapal khusus angkut tank Leopard KRI Teluk Bintuni 520 masuk dok. Yang menarik MLRS Astross dan artileri 155mm Caesar Nexter bisa diangkut dengan Hercules sehingga mempercepat pergerakan alutsista.

Tidak hanya itu, berbagai jenis Helikopter tempur yang dimiliki TNI AD dikerahkan ke Natuna misalnya Heli serbu Mi35, Bell 412Ep, Mi17 dan lain-lain. Begitu seriusnya latihan ini sampai-sampai Penerbad menarik pulang 3 Helikopter Mi17 yang sedang bertugas menjalankan misi PBB di Mali. Heli Mi17 diangkut pulang dengan menggunakan pesawat Antonov langsung ke Halim. Simulasi pertempuran darat ini diyakini akan menjadi unjuk kekuatan yang terbesar dengan pengerahan alutsista modern yang dimiliki TNI AD.

“Dengan pergerakan dan penggelaran alutsista di Natuna, tentu berdampak bagus bagi rasa nasionalisme patriotik warga kita yang berdomisili disana. Dan memang harus begitu, dipertunjukkan bahwa kalian yang berada di garis depan teritori RI ada dalam perlindungan TNI, kalian dipayungi oleh tentara pengawal republik. Siapapun yang ada di perbatasan,” kata Jagarin.

Cina, lanjut Jagarin, walaupun tidak menampakkan reaksi diplomatik tetapi jujur saja akan mengintip suasana latihan tempur itu. Ini hal yang biasa dalam kacamata militer. Apalagi dengan kecanggihan teknologi satelit dan UAV. Termasuk juga AS dan Singapura akan memantau serius jalannya latihan tempur itu. Latihan antar satuan tempur TNI AD melibatkan batalyon kavaleri, artileri, infanteri mekanis, arhanud, zeni tempur, raiders, penerbad. Ini juga menguji kesiapan interoperability sistem komunikasi, koordinasi dan persenjataan.

“Nilai tambah latihan tempur TNI AD yang dijadwalkan dimulai tanggal 10 Nopember 2016 ini akan kembali disaksikan oleh Presiden Jokowi bersama seluruh Gubernur di Indonesia. Ini juga bagian dari pesan jelas itu bahwa Natuna bagian NKRI. Para Gubernur datang untuk merasakan suasana pertempuran di Natuna.  Kalau itu terlaksana maka hanya selang waktu satu bulan Presiden kita kembali lagi mengunjung Natuna. Bukankah ini sebuah pesan yang jelas,” ungakpnya.

Lebih lanjut Jagarin memaparkan analissnya bahwa, berbagai skenario jalannya pertempuran memang sudah disetting. Misalnya kalau “doktrin berani masuk digebuk” lebih banyak dijalankan oleh TNI AU dan TNI AL maka skenario “musuh sudah masuk baru digebuk” jelas menjadi domain TNI AD. Musuh yang masuk lewat sebuan pantai akan dijegal oleh tank Leopard dan kawan-kawan. Skenario serangan udara musuh maka Arhanud akan berperan memuntahkan rudal jarak pendeknya.  Penerjunan PPRC juga bagian dari serial latihan besar ini.

“Tetapi jujur saja, untuk ukuran republik yang luas ini, kuantitas dan kualitas alutsista TNI masih belum memadai termasuk sebarannya. Masih banyak yang harus ditambah dan disebar. Pembangunan pangkalan militer di Natuna yang sedang berlangsung tentu memerlukan banyak isian alutsista untuk ditempatkan disana. Juga di tempat-tempat lain seperti Biak, Saumlaki, Sorong, Kupang, Tarakan,” ujar Jagarin.

Masih dalam analisa Jagarin, jika pemerintah dengan dorongan kuat parlemen menjalankan program anggaran pertahanan berbasis PDB maka dalam lima tahun ke depan isian alutsista yang dibutuhkan (bukan yang diinginkan lho) dapat terpenuhi. “Alhamdulillah untuk anggaran tahun 2017 diperlihatkan awal korelasi berbasis PDB dengan koordinasi yang baik antara Menkeu, Menhan dan DPR. Kemhan mendapat alokasi anggaran sebesar 108 trilyun, ini yang terbesar,” ucapnya.

Jadi pembangunan pangkalan militer Natuna berjalan sesuai rencana. Dua tahun lagi selesai dan wajah pangkalan itu “bolehlah”. Ada bunker kapal selam, ada bunker jet tempur, ada rudal SAM jarak sedang, ada UAV, ada radar tiga dimensi, kapal perang striking force. Sementara di tempat lain republik ini isian alutsista akan terus berdatangan dalam tahun-tahun mendatang.  Latihan militer skala besar bisa berjalan dengan mulus. Tentu semua ini akan mematangkan dan memantapkan profesionalitas prajurit TNI.

“Karena Natuna ada di garis depan yang paling tinggi nilai ancamannya maka wajar dong pulau itu dibentengi dengan kekuatan militer yang besar. Termasuk kegiatan latihan militer seluruh matra TNI, adalah dalam rangka membiasakan suasana dan pengenalan medan garis depan. Kekayaan sumber daya alamnya harus dijaga dan dilindungi. Lebih dari itu kedaulatan dan kewibawaan teritori NKRI adalah segalanya. Jadi sering-seringlah mengasah pedang di teritori Natuna,” tegas Jagarin menutup analisisnya. (red-02)

Komentar

To Top