Foto Ilustrasi/IST
Foto Ilustrasi/IST

NUSANTARANEWS.CO – Militer dalam merespons perang asimetris terdapat empat kecenderungan yang terpola sebagai berikut:

Pertama, pencapaian mission orders akan cenderung semakin banyak ditentukan oleh aksi organisasi level bawah. Karena itu pengertian akan tujuan dari misi harus dimiliki oleh organisasi level terbawah sehingga mereka merespons perkembangan dengan secepatnya bertindak tanpa harus mengompromikan mission orders yang lebih besar.

Kedua, pergeseran unit terkecil harus mampu beroperasi secara mandiri dan tidak bergantung pada logistik terpusat. Setiap unit harus dapat hidup dari sumber daya alam dan sumber daya musuh yang berhasil dikuasai. Di sini perlunya kemampuan perorangan yang tinggi.

Ketiga, semakin pentingnya kemampuan manuver, dibanding­kan jumlah ataupun firepower, mengingat konsentrasi massa dan firepower justru membuat semakin mudah untuk diserang.Di masa yang akan datang, pasukan yang kecil, berkemampuan manuver yang tinggi, cepat dan lincah akan mendominasi pertempuran, karena perang asimetris sangat tidak normatif.

Keempat, kecenderungan untuk menyerang lawan secara internal dengan menghancurkan kekuatan fisiknya. Hal ini bisa dicapai, antara lain dengan menekan basis politik, finansial dan material lawan agar tidak lagi memberikan dukungan pasukan lawan, atau bahkan menekan basis tersebut untuk menghentikan perang.

Keempat kecenderungan ini membuat perang asimetris akan menjadi perang tanpa bentuk yang jelas. Garis pemisah antara perang dan damai semakin menipis, dengan front non linear, bahkan mungkin tidak ada medan tempur yang dapat didefinisikan dengan jelas. Garis pemisah antara rakyat sipil dan militer semakin tidak jelas. Perang akan terjadi dalam seluruh dimensi, termasuk pada dimensi kultural, maka perang psikologis menjadi salah satu dimensi yang sangat dominan.

Pada level strategi, target peperangan pada generasi ini adalah menyerahnya motivasi pembuat kebijakan di pihak lawan, sehingga kemenangan strategis diperoleh dengan serangkaian serangan terkoordinasi dan simbolik melalui ragam cara untuk menghacurkan infrastruktur ekonomi, sosial budaya dan politik negara, yang akan meruntuhkan semangat perlawanan pemimpin politik negara.

Strategi menghadapi Perang Asimetris

Dalam perjalanannya sesuai dengan trend yang semakin berkembang dan dinamis di mana perspektif ancaman semakin mengglobal, maka perlu adanya konsep yang bersifat strategis dan inovatif, melalui pengembangan taktik dan teknik dalam menghadapi perang asimetris tersebut, terutama dengan mengembangkan pengalaman dari beberapa negara yang sudah mengalami perang asimetris.

Amerika Serikat misalnya, sebagian di antaranya karena peran global, menjadikan aktor negara seperti Iran, Korea Utara dan Kuba maupun mereka yang memiliki kemampuan cyber seperti China dan Rusia sebagai ancaman asimetris (David E. Long: 2008). Amerika juga masih menganggap kekuatan insurjensi yang sering dihadapinya di daerah “operasi kemanusiaan” seperti Afghanistan dan Iraq merupakan ancaman asimetris. (Patrick Henrichon: 2002- 2003)

Sementara itu China dan Rusia menganggap kekuatan domestik, misalnya Tibet dan Chechnya, sebagai ancaman asimetris. Di Indonesia, seperti di Barat, peperangan asimetris diakui sebagai taktik perang kaum lemah melawan pihak yang lebih kuat. Namun berbeda dengan Barat yang condong mencari solusi strategis, Indonesia memilih menafsirkan perang asimetris sebagai perang modern, yang memerlukan jawaban komprehensif, dan terutama dengan memperkuat pertahanan negara. Sebagian karena konstruksi geostrategis dan historis, solusi Indonesia untuk meredam perang asimetris adalah strategi kesejahteraan didukung keamanan.

Bagi Indonesia perlu mempertimbangkan beberapa aspek. Pertama, pada skala nasional tataran operasional. Menata ulang taktik dan teknik perang konvensional, menyesuaikan evolusi taktik bertempur yang semakin berkembang sesuai trend yang paling mutakhir. Selain itu perlu dilakukan pelatihan dan pengembangan kemampuan segenap komponen bangsa dalam menghadapi kemungkinan terjadinya perang asimetris.

Bagi TNI, kehadiran perang asimetris perlu direspons dengan cara melakukan penyesuaian doktrin, sistem dan metoda serta meningkatkan kemampuan dan keterampilan agar lebih profesional dalam menghadapi lawan yang melakukan serangan non-konvensional. Hal ini karena dalam perang asimetris, tidak akan pernah bisa diperkirakan kapan, dengan cara apa, dan di mana lawan/musuh akan menyerang, serta apa yang akan dijadikan obyek sasaran. Untuk itu, apabila tidak bisa menyesuaikan, maka kita akan selalu terdadak meningkatkan kemampuan.

Peran Komando Kewilayahan dalam pemberdayaan wilayah pertahanan. Menjadikan pembinaan teritorial sebagai ujung tombak dalam menghadapi ancaman perang asimetris, Ipoleksosbud dan keamanan atau astra gatra dan memberikan saran kepada Menteri Pertahanan berupa konsep tindakan pada tataran operasional, serta kebijakan pada tataran yang lebih strategis, sehingga ancaman perang asimetris dampaknya dapat segera dieliminasi.

Tataran kebijakan dan regulasi. Merealisasikan produk legislasi yang berkaitan dengan keamanan nasional sebagai arahan strategis untuk merespons permasalahan nasional pada skala luas.

Kedua, kawasan regional. Kerjasama regional adalah satu-satunya modalitas yang feasible untuk menghadapi peperangan asimetris. Beberapa ancaman yang disebut di atas telah lama menjadi kecemasan bagi ARF, APEC, East Asian Summit, dan ASEAN.

Namun solusi Asia Pasifik masih amat terbatas, titik paling jauh yang dihasilkan adalah CBM (confidence building measures), preventive diplomacy, serta berbagai bentuk kerja sama untuk peningkatan kapasitas negara (legislasi, kompetensi penegakan hukum, tukar-menukar informasi, coordinated cooperation, community building). Untuk itu perlu dipikirkan meningkatkan formula kerjasama di kawasan regional yang lebih menguntungkan dengan negara-negara tetangga atas dasar saling menghormati, kesetaraan, dan saling menghargai.

Akhirnya dalam era perang asimetris di abad 21 ini ada kecenderungan Si-lemah tidak perlu takut menghadapi Si-kuat sepanjang ada kemampuan untuk mengolah skill-level dan kualitas intelijen serta yang paling utama kemauan keras untuk menang. Tetapi yang paling penting sebaiknya kita menjaga jangan sampai timbul asymetric enemy.

Dalam konteks pertahanan menghadapi perang asimetris, yang paling efisien dapat dilakukan adalah diplomasi antara pihak yang berhadapan. Hal ini lebih produktif daripada tindakan kekerasan yang menggunakan kekuatan militer walaupun diplomasi belum pasti dikehendaki oleh mereka yang sangat fanatik dan fundamentalis.

Komentar