Connect
To Top

Pengamankan Mental, Menyelamatkan Bangsa

NUSANTARANEWS.CO – Rasa frustasi dan putus-asa tampaknya telah mencapai ubun-ubun rakyat Indonesia. Generasi muda semakin menjadi-jadi usai terjangkiti virus apolitik kebangsaan. Para aktivis mahasiswa sibuk mencari pos-pos strategis untuk mengabdikan diri sebagai cantrik-cantrik partai politik.

Tak kalah parah, para petinggi negeri terus saja membual dan berkongsi dengan asing. Mental koruptif menjadi banalitas akut. Akademisi linglung. Pun demikian dengan para pemuka agama sibuk mengamankan dunia akhiratnya masing-masing. Ketahan pangan, ekonomi, dan agraria nampak sangat rapuh.

Anehnya kita tidak pernah menyadari itu, bahwa pembangunan dan kemajuan yang dicapai selama ini ternyata semu. Sektor ekonomi sepenuhnya telah dikuasai kekuatan asing. Pun demikian dengan lahan-lahan sumber daya alam diambil alih orang non pribumi.

Ekonomi tak mampu bersaing lantaran ketertinggalan kita dalam memutar otak. Aspek pangan tak kalah memiriskan. Persedian pangan berada dititik nadir. Alih-alih berswasembada pangan, cangkul pun harus mengimpor dari asing.

Indonesia harus segera memilih, diam tertindas atau mati melawan, tetapi terhormat. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Ketika segalanya telah terpapar putus asa, lantas siapa peduli? Apa perlu didongengkan tentang sosok ratu adil, sang juru selamat yang hanya ada dalam ingatan semu? Itu hanya igauan.

Kiranya kita perlu merenungkan perkataan seorang tokoh revolusioner Iran Imam Khumaini bahwa sia-sia jika menunggu sosok Imam Mahdi untuk menyelamatkan kita, sebab diri kita sendirilah Imam Mahdi itu. Artinya manusia harus berdiri di kaki sendiri dan jangan mati berpangku tangan.

Mental tatag (kuat) meski kita daur-ulang. Tak ada yang perlu ditakutkan. Betrand Russel pernah menyatakan bahwa dalam bentuknya yang paling ekstrim, perasaan takut diakui sebagai salah satu bentuk ketidakwarasan.

Jika rasa takut, kita biarkan tumbuh dan mengakar kuat di dalam mental, bukan hal mustahil sebuah bangsa tinggal menunggu detik-detik kehancuran. Wabah apolitik kebangsaan yang mendera generasi muda dan segenap elemen bangsa ini menjadi bukti atas betapa ‘sakit’ negeri ini.

Kita meski bergegas melakukan ‘konsolidasi’ ideologi Pancasila. Mengapa harus Pancasila? Sebab Pancasila adalah jawaban untuk membentuk mental, cara bersikap, dan berbudaya. Ingat, modal awal adalah menciptkan kepercayaan dan optimisme. Mental skeptis dan apatis hanya akan mempercepat Indonesia tenggelam dalam kubangan kesengsaraan.

Siapa yang mesti bertindak dalam hal ini, presiden, gubernur, bupati, ataukah kepala desa? Jawabannya adalah nafsi-nafsi (individu). Wejangan Ki Ageng Suryomentaram tampaknya relevan untuk kembali dihayati.  Bahwa seseorang harus memiliki mental tatag. Berani dan bertanggung jawab, untuk menjadi manusia Nusantara yang seutuhnya. Indonesia bukanlah negara kerdil. Kita pernah jaya lewat peradaban dan kebuyaan besar.

Penulis: M. Romandhon Emka

Komentar