Anak-anak membawa ember air bersih melintasi sawah di Dala, Myanmar, pada tanggal 1 Mei 2016/Lauren DeCicca-Getty Images
Anak-anak membawa ember air bersih melintasi sawah di Dala, Myanmar, pada tanggal 1 Mei 2016/Lauren DeCicca-Getty Images

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengingatkan bahwa pada tahun 2050 permintaan global untuk air tawar diproyeksikan akan tumbuh lebih dari 40 persen dan setidaknya seperempat populasi dunia akan tinggal di negara-negara dengan kekurangan air bersih yang kronis.

“Air, perdamaian dan keamanan sangat terkait erat,” kata Guterres seperti dikutip Time, Kamis (8/6/2017).

Sekjen PBB yang menggantikan Ban Ki-Moon Januari lalu ini menjelaskan bahwa tanpa pengelolaan sumber air yang efektif, dunia akan mempertaruhkan sengketa intensif antara masyarakat dan sektor serta meningkatkan ketegangan antara negara.

Untuk itu, politisi asal Portugal ini menegaskan PBB siap untuk melakukan diplomasi preventif guna mempertahankan persaingan agar tidak menimbulkan konflik. Presiden Bolivia Evo Morales, yang negaranya saat ini memegang dewan kepresidenan, mencatat bahwa sejak 1947, terjadi 37 konflik antara negara-negara yang terkait dengan air.

“Planet kita, keluarga manusia dan kehidupan di segala bentuknya yang menakjubkan di bumi berada dalam krisis air yang hanya akan memburuk dalam beberapa dekade mendatang. Jika pola konsumsi saat ini terus berlanjut, dua pertiga populasi dunia akan menghadapi kekurangan air sebagai kenyataan sehari-hari pada tahun 2025,” ujar Morales.

Saat ini, katanya, lebih dari 800 juta orang kekurangan akses terhadap air minum yang aman dan lebih dari 2,5 miliar tidak memiliki sanitasi dasar.

Morales mengatakan terbatasnya ketersediaan air tawar menggaris-bawahi pentingnya mengatasi masalah ini dan memastikan bahwa akses terhadap air bersih dibagikan dan tidak menjadi dalih untuk konflik domestik atau internasional. (ed)

Editor: Eriec Dieda

Komentar