Ekonomi

Miris, Indonesia Terseok-Seok di ASEAN

Presiden Joko Widodo/R.K Lovely's photos
Presiden Joko Widodo/R.K Lovely's photos

NUSANTARANEWS.CO – Baru-baru ini Koordinator Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno, Salamudin Daeng, melihat pemerintahan Jokowi sudah ‘sekarat’ sejak dari awal. Menurut Salamudin, alam tidak berpihak kepada pemerintahan sejak awal mula meletakkan dasar dasar ambisi ekonominya.

“Bagaimana bisa? Begitu presiden Jokowi berkuasa, harga komoditas langsung jatuh, langsung ambruk, tanpa tedeng aling harga minyak berada pada titik terendah sepanjang sejarah krisis. Padahal Indonesia sangat bersandar pada harga komoditas, yakni pendapatan dari minyak, ekspor ke luar, jual ke rakyat mahal,” ujarnya.

Bagi Salamudin, meningkatnya suku bunga global merangkak naik, membuat rating utang Indonesia merosot tajam. Indonesia mendapat utang tapi bunganya setinggi langit. Ironisnya, kata Salamudin, pemerintahan Jokowi bahkan mau mengais utang pada tingkat bunga di atas 10%.

“Pemerintahan Jokowi membangun ambisi di atas ideologi kapitalisme neoliberalisme. Dia masuk dalam neoliberalisme tahap akhir yakni finansialisasi sektor infrastruktur. Menyerahkan barang publik seperti jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, telekomunikasi, rumah sakit dan fasilitas publik lainnya di bawah kendali swasta untuk dijadikan dasar pemulihan pasar keuangan,” beber Salamudin Daeng.

Tabel Pertumbuhan Ekonomi ASEAN. Sumber tabel via macroeconomicdashboard

Tabel Pertumbuhan Ekonomi ASEAN. Sumber Tabel Via Macroeconomicdashboard

Merujuk pada data pertumbuhan ekonomi Indonesia terakhir, prosentase pertumbuhan Indonesia sangat memiriskan. Dimana Indonesia kalah telak dalam bersaing dengan Kamboja, Filipina, Laos dan Myanmar yang notabenenya tak memiliki kekayaan sumber energi dan alam yang melimpah.

Laporan terakhir quartal pertama pemerintahan Jokowi 2014 lalu, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,21 persen, sedang di quartal kedua turun menjadi 5,12 persen. Sementara itu, Kamboja pada quartal pertama capai 7,2 persen, Laos 7,6 persen dan Myanmar 6,5 persen. Realitas ini tentu merupakan tamparan keras, mengingat ekonomi Indonesia hari ini masih berjalan terseok-seok.

Menurut Salamudin Daeng, setidaknya model pembangunan Jokowi diletakkan di atas tiga pilar utama. Pertama, pembangunan ditopang oleh investasi asing dan utang luar negeri negeri. Kedua, pemenuhan kebutuhan rakyat bersandar pada barang barang impor. Ketiga, pembiayaan negara dilakukan dengan memasak rakyat dengan pajak tinggi dan mobilisasi utang negara.

“Ketiga dasar kebijakan tersebut jelas menistakan Pancasila dan UUD 1945 ideologi dan dasar negara RI,” tegasnya. (Adhon/Emka)

Komentar

To Top