Aku Bintang Narsis - Lukisan Nasirun (Istimewa)
Aku Bintang Narsis - Lukisan Nasirun (Istimewa)

Puisi Muhammad Alamsyah Alam

MARTA DWIPANGGA

Adalah Gibran di urat-urat nadimu
Tapi sesekali Chairil di ujung lidahmu
Cekik diksi dalam puisi
Semakna salju bertamu pada gersang
Tumbuhlah secang dan setangkai sakura gemini

Semudah itukah kau melipat malam ?
Apungkan di atmosfer jadi pajangan
Mengarsip di mega jingga
Tandang di rak langit ketiga

Secepat inikah kau berlari ?
Selintas limbubu sekejap killat melaju
Seperti lindu ngangah rasanya
Masuk melimbo getar
Dahsyat
Sayang
Memilih jalan ke tenggara
Memahat nisan di lembabnya gua-gua purba
Bertinta lumpur-lumpur sumur dari kota mati

Marta Dwipangga
Kau adalah femeo
Tercatat pada tripleks kapur berhapus
Bangkitlah
Karena kau penyair, bukan penyihir

MIMPI SUNYI

Mentari terbangun bulan terbakar
Cairlah embun di daun mendayung
Bukit di timur tergulung  ombak berpasir
Nafas pertama  bersandar di awan lembab
Langit menitip rindu pada bumi yang nyala
Lahirlah senja peluk lengkung cakrawala
Pada batas warnanya terlukis lembayung mencumbu biru
Bergaris pelangi di langit tenggara
Benarkah batas hidup ada padanya?

O, angin khatulistiwa jawablah!

Wahai badai yang membawa suara malaikat
Kikislah nista pada karang benua
Yang padanya melekat mutiara laut  arabia
Biar malam melempar kesah pada buih
Menggunduli asa pada nafas berkalung pasrah
O, burung sintar dan camar angkasa terbangkanlah  aku
Tinggalkan bumi yang lena
Di kubah langit mendulang kisah
Bermimpi mimpi sunyi

TEKA-TEKI NEGERI

Seribu eja jadi ilusi
Remuk hasrat memaknai negeri
Tetap teka-teki negeri bertahun lalu kembali

Benarkah bendera lama berkibar  kembali ?
Jadi sapu tangan bagi tangan yang licin
Puluhan  tahun dikutuk muncul kembali
Menggulma pada wajah disandera kuasa

1948-1965 betapa kejamnya palu tuan menghantam kuku tercangkul di tanah kering
oh… ho..ho.. ho..ho..
Perih, dikuliti celurit dilesungi cabe pada luka yang jahitannya belum hilang berpuluh tahun silam

Sementara langit menitip murka
Belum sembuh hidung yang mimisan
Masih retak tulang disumpit sum-sumnya
Datang lagi tuan bertopeng mencekik
Mengiris ari pada hari yang bening

Benarkah  “anak-anak zaman “ membangun?
Benarkah segunduk kerikil purba tersisa di istana garuda?
Segenggam pasir neraka memandikan tubuh raja yang kurus pura-pura buta ?

Manalagi separuh budak-budaknya jadi bencong bertameng baja
Mengiya lempar pistol di sudut remang, bisu disumbat nafsu tak nurani
Separuhnya lagi jadi kasim, menggendong breem,
Terkekang intimidasi kemudian diludahi di empat arah negeri

Waspadalah
Sejarah berulang, berliuk, bersolek cekam masa yang keruh
Langitlah cerminnya
Nyanyian pilu anak-anak pasar di kampung demokrasi, mengadudomba pribumi

Bumi merah, air putih, ternoda kembali
Bahteranya meluncur ke negeri sipit
Bernahkodakan tuan yang tak bertuhan

Muhammad Alamsyah, lahir di Maros, 17 September 1985. Menulis puisi, cerpen dan esai. Aktif dalam kegiatan kebudayaan baik skala lokal maupun nasional. Saat ini dalam proses persiapan penyelesaian studi pasca sarjana di Universitas Negeri Makassar jurusan seni Rupa.  kecintaanya terhadap seni sastra tidak membuat bakatnya dalam seni lukis terlupakan. Giat melahirkan lukisan-lukisan eksperimental yang abstrak dan natural. Separuh Karya-karrya lukisnya dapat ditemukan di galeri Benteng Fort Roterdam Makassar. Untuk menjalin komunikasi dapat dihubungi melalui via WA : 085230739973 / [email protected].

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar