Kilas Dunia 2016: Energi Terbarukan Jadi Primadona Negara-Negara Adidaya

0
Energi terbarukan dengan memanfaatkan sinar matahari dan angin (udara). foto via climates
Energi terbarukan dengan memanfaatkan sinar matahari dan angin (udara). foto via climates

NUSANTARANEWS.CO – Ketergantungan negara-negara dunia terhadap sumber energi berasal dari fosil, batu bara, dan nuklir tampaknya sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa negara-negara maju dunia. Ini meyusul sepanjang tahun 2016, banyak negara-negara maju terpikat dan melirik pada pengembangan dan pendayagunaan energi baru terbarukan.

Di Amerika Serikat, perusahaan Tesla Motor telah mengeluarkan produk baterai terbaru dengan menggunakan panel surya untuk isi ulang baterai. Bahkan perusahaan besar sekelas Apple dan Google pada Agustus 2016 lalu juga berbondong-bondong melakukan investasi ke energi terbarukan yakni Solar Farm (ladang tenaga surya). Google bergabung dengan perusahaan Sun Power (tenaga surya) untuk menyediakan panel surya bagi pemilik rumah. Sementara Apple bekerjasa dengan toko online Amazon melakukan pembangunan sumber energi berbasis angin sebesar 253 megawatt (MW) di West Texas.

Tak hanya itu, Tesla Motor juga kian gencar memproduksi mobil listrik yang memanfaatkan energi tenaga surya. Demi melakukan ekspansi pasar masa depan, Elon Musk sebagai CEO Tesla motor setidaknya menyisihkan uang sebesar US$5 miliar untuk membangun pabrik barunya bernama Gigafactory di Sparks, Nevada.

Di bagian atap bangunan pabrik ini didesain dan dirancang dengan memanfaatkan solar panel yang dapat menghasilkan listrik dari sinar matahari. Demikian juga dengan dindingnya, terpasang pula panel matahari sebagai energi tambahan.

Tak hanya mengandalkan panel surya, perusahaan ini juga merambah ke tenaga geothermal dan angin untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Dengan menciptakan genteng yang mampu menyimpan energi tenaga surya, maka kelak kebutuhan energi masing-masing rumah akan tercukupi dengan sendirinya melalui genteng bertenaga surya.

Sementara itu pertengahan 2016 yang lalu, India juga tengah membangun mega proyek berupa Pohon Surya yang dicanangkan akan menjadi Taman Matahari penghasil energi masa depan. Ditargetkan sebanyak 100 GW tenaga surya hingga tahun 2022 akan memenuhi kebutuhan sumber energi di India.

Apa yang dilakukan pemerintah India ini menyusul pemenuhan kebutuhan energi listrik dengan menggunakan batubara yang dianggap kontra terhadap lingkungan. Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, pemerintah India hanya membutuhkan ruang seluas 400 meter persegi sebagai taman Pohon Surya.

Begitupun dengan Belanda, sekitar 194.400 MW energi listrik telah dihasilkan dengan memanfaatkan angin. Energi angin ini merupakan satu pilihan bagi pemenuhan kebutuhan energi alternatif ke depan. Angin merupakan sumber energi yang relatif bersih dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan karbon dioksida (CO2).

Layaknya Amerika, India dan Belanda, pemerintah Jerman juga tengah menggenjot pemaksimalan energi terbarukan dengan menerapkan Program Energiewende. Program ini mampu memutus mata rantai ketergantungan pada energi yang tak bisa diperbarukan.

Sejak 2011 lalu, Jerman mulai meninggalkan energi yang berasal dari bahan nuklir dan beralih ke Program Energiewende yang memanfaatkan tenaga angin sebagai sumber energi. Bahkan kini Jerman telah mampu memproduksi listrik dari solar panel dengan harga kisaran 8-9 cent euro/kwh.

Saat ini, negara-negara dengan kapasitas energi surya terpasang terbesar adalah Jerman (32,4 GW), Italia (16,4 GW), Amerika Serikat (7,2 GW) dan Cina (7 GW). Sementara energi angin terpasang dari China dan Amerika Serikat dengan kapasitas masing-masing sebesar 75,3 GW dan 60 GW. (Red-01)

 

Komentar