Oleh: Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat,M.Sc

Kata pengantar Jalaluddin Rakhmat dalam buku “Perihal Kontrak Sosial: Prinsip Hukum-Politik” karya Jean Jacques Rousseau, Penerbit Dian Rakyat, Cetakan ke-2 Tahun 2010.

NUSANTARANEWS.CO – “Nabi Muhammad memiliki pandangan yang sangat sehat. Ia membangun sistem politiknya dengan baik dan, selama bentuk pemerintahnya dapat dipertahankan di bawah para kalifah yang menggantikannya, pemerintahnya tetap satu, dan baik karenanya. Akan tetapi, orang Arab yang menjadi makmur, beradab, berbudaya, lembek dan pengecut, dikuasai oleh orang biadab, maka pemisahan antara kedua kekuasaan terjadi lagi” (Rousseau).

“Bagaimana bisa terjadi, seorang lelaki yang lahir miskin, kehilangan ibunya pada waktu kelahirannya dan kemudian ditelantarkan ayahnya, ditimpa penyakit yang sangat pedih dan memalukan, dibiarkan mengembara selama dua belas tahun di tengah-tengah kota asing dan iman-iman yang bertentangan, dicampakkan oleh oleh masyarakat dan peradaban, mencampakkan Voltaire, Diderot, kaum Ensiklopedis, Abad Rasio, diusir dari satu tempat ke tempat yang lain karena dianggap pemberontak yang berbahaya, dituduh jahat dan gila, yang melihat pada bulan-bulan terakhirnya kemegahan dan musuhnya yang paling besar – bagaimana bisa terjadi orang ini, setelah kematiannya, mengungguli Voltaire, menghidupkan kembali agama, mengubah pendidikan, menaikkan moral bangsa Perancis, mengilhami gerakan Romantis dan Revolusi Perancis, memengaruhi filsafat Kant dan Schopenhauer, drama-drama Schiller, novel-novel Goethe, puisi Wordsworth, Byron dan Shelley, sosialisme Marx, etika Tolstoy, dan sekaligus lebih memengaruhi para pelanjutnya daripada penulis atau pemikir lainnya pada abad kedelapan belas?”

Dengan kalimat-kalimat itulah, Will dan Ariel Durant memulai jilid ke-10 The Story of Civilization. Buku ini menceritakan peradaban dunia pada Abad XVIII. Mereka menyebutnya sebagai Abad Jean-Jacques Rousseau. Abad XVIII telah membesarkan dan membentuk Rousseau; tetapi Rousseau telah membesarkan dan membentuk pemikiran umat manusia berabad-abad setelah itu.

“Pada zaman kita sekarang ini, Rousseau biasanya dikutip sebagai sebuah klasik dari filsafat politik modern yang awal. Ia lebih dari itu; ia adalah tokoh sentral dalam sejarah filsafat modern dan barangkali tokoh utama dalam budaya modern sebagai suatu keseluruhan” (Velkley 2002:31). Pemikiran Rousseau telah menjadi pemikiran filsafat klasik. Untuk disebut klasik, sebuah pemikiran harus relevan untuk berbagai zaman. Pemikiran klasik melintas ruang dan waktu.

Dalam sebuah pertemuan umat beragama, ketika kami membicarakan perkembangan politik berdasarkan agama di Indonesia, saya tiba-tiba diingatkan pada Du Contrat Social. Saya merasa Rousseau berbicara kepada saya dan bangsa saya. Problem yang dihadapi bangsa ini sudah dijawab oleh pemikir Perancis ini (Rousseau lebih senang menyebut dirinya un citoyen de Geneve, “seorang warga dari Geneva”), seratus tahun sebelum Perang Diponegoro. Pengalaman hidup saya, dalam era reformasi, saya bawa ke dalam pemaknaan terhadap tulisan Rousseau. Seperti kata Hans-Georg Gadamer (1960:184), pengalaman kita, seluruh riwayat hidup kita, prakonsepsi kita (Vorurteile) akan mewarnai pembacaan kita. Pada saat yang sama, cakrawala hermeneutic kita berubah sebagai hasil bacaan kita.

Ketika membaca buku ini, saya merasa saya menyambut sapaan Rousseau dalam pengantarnya pada Discours sur l’inegalite, Asal-usul Ketimpangan, “Karena pokok perhatianku adalah umat manusia secara keseluruhan, saya akan berusaha menggunakan gaya (style) yang disesuaikan dengan semua bangsa, atau dengan agak melupakan ruang dan waktu, untuk memperhatikan hanya orang yang saya ajak bicara. Saya akan menganggap diri saya berada di Lyceum Athena, mengulangi pelajaran dari guru-guru saya, dengan Plato dan Socrates sebagai penguji saya, dan semua umat manusia sebagai pendengar saya” (III:135).

Sebagai orang yang menyaksikan politik Indonesia pasca Tatatan Baru, apa saja namanya, saya memperoleh pencerahan tentang apa yang dialami bangsa ini, sebagaimana Rousseau melihat masalah itu pada zamannya. Dari pembacaan terhadap Du Contrat Social, saya melihat kerisauan kita pada posisi agama dalam kehidupan negara. Dari kritik Rousseau pada modernitas, saya mendapat inspirasi untuk melihat problem besar bangsa ini dalam kehidupan sosial. Dengan jelas saya melihat bangsa Indonesia memasuki globalisasi dan ditelan mentah-mentah oleh Raksasa Kapitalis. Saya melihat sistem ekonomi dan politik yang menindas. Ciri utamanya adalah ketimpangan – inegalite.

Pembahasan tentang Ketimpangan

Rousseau mengkritik keras perkembangan sains dan modernitas dalam bukunya Discours sur l’inegalite. Voltaire, dari pihak yang memuja sains dan kemajuan, menyebut buku itu sebagai “buku kedua yang menentang umat manusia”. Dalam buku itu, warga Negara Jenewa ini memuji “manusia primitif” yang belum dicemarkan oleh masyarakat. Pada awalnya, ketika manusia relatif terisolasi dari manusia yang lain, ia tidak punya ambisi untuk menguasai orang lain. Ia berbeda dengan Hobbes, yang justru mengatakan bahwa “tabiat” manusia ialah mementingkan diri sendiri. Ia ingin menundukkan dunia untuk melayani dirinya.

Hobbes, kata Rousseau, tidak dapat membedakan antara mementingkan diri (amour proper) dan mempertahankan kelangsungan hidup (amour de soi-meme). Yang kedua adalah watak le bon sauvage; sedangkan yang pertama datang ketika manusia sudah memasuki kehidupan bermasyarakat.

Alih-alih mendukung kemajuan, Rousseau mengajak kembali kepada alam, kepada masyarakat yang belum dirusak oleh sains dan teknologi. Voltaire mengecam buku Discours sur l’inegalite dengan keras:

“Belum pernah kecerdasan yang begitu cemerlang digunakan dalam upaya untuk mengubah kita jadi binatang. Kita ingin berjalan merangkak lagi setelah membaca bukumu. Tetapi karena aku sudah kehilangan kebiasaan itu lebih dari enam puluh tahun yang lalu, aku takut tidak bisa lagi melakukannya” (Voltaire, 1973:179).

Mengapa kemajuan telah membuat manusia menjadi buruk? Karena sistem sosial kita, termasuk sistem ekonomi kita ditegakkan di atas kepentingan diri. Mengikuti Adam Smith, bila setiap orang berjuang untuk dirinya, akhirnya akan datang “invisible hand” yang membawa kita kepada kemakmuran.“We address to ourselves, not to their humanity, but to their self-love” kata Adam Smith dalam An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (Smith 1776:26-27).

Karena self-love itu, yang terjadi bukan kedatangan “invisible hand”, tetapi ketimpangan. Lihatlah ke sekitar kita. Rousseau berkata, “Adanya orang-orang yang sangat santai di tengah-tengah orang-orang yang bekerja sangat keras …adalah bukti fatal bahwa kebanyakan dari penyakit kita dibikin oleh kita sendiri. Kita dapat menghindari hampir semuanya itu dengan mempertahankan hidup sederhana, teratur dan menyendiri seperti yang diajarkan alam kepada kita” (III:138).

Walaupun terjadinya ketimpangan itu dimulai dari saat ketika orang menutup sebidang tanah dan mengatakan “ini milikku”, Rousseau tetap menganggap bahwa hak milik adalah hak paling suci dari semua hak warga negara, “le droit de propriete est le plus sacre de tous les drots des citoyens” (III:263). Rousseau tidak sepakat dengan kaum komunis yang meniadakan hak milik. Ia hanya menentang akumulasi kekayaan pada kelompok tertentu. Menurutnya, kekayaan berlimpah adalah ancaman pada kebebasan. “Salah satu dari fungsi pemerintah ialah mencegah terjadinya ketimpangan yang berlebihan dalam pemilikan kekayaan,” (III:113).

Orang yang disebut Edmund Burke sebagai “Socrates gila dari Dewan Nasional”, dalam karya operanyaLe Devin du Village, meramalkan bahwa modernitas, bukannya membebaskan manusia tetapi malah memenjarakannya dalam sebuah sistem yang tidak ada jalan keluarnya, tidak ada harapan indah akan kehidupan setelah mati, dan tidak ada keselamatan. Dunia hedonisme dan materialisme yang garang, yang didasarkan pada pemujaan diri.

Adakah jalan keluar? Dalam Mon portrait (I:1120), Rousseau menjawab, “Aku hanya pengamat, bukan moralis. Aku botanis yang menguraikan tanaman. Biarkan dokter yang mengatur penggunaannya”. Walaupun begitu, selain pendidikan yang tidak mungkin dibicarakan di sini, ia mengusulkan ekonomi yang mungkin kita sebut sekarang sebagai ekonomi kerakyatan. Ia menganjurkan pengembangan pertanian, desentralisasi dan kemandirian. Ia menentang ekonomi modern yang kapitalistik dan perdagangan internasional. Dalam sejarah pemikiran ekonomi, filsafat ekonomi Rousseau itu hampir tidak diakui. Bahkan para pembahas Rousseau pun kebanyakan mengabaikannya. Bernard de Jouvenel menulis, “Gagasan politiknya dalam Du Contrat Social sangat mendalam memengaruhi kita; sedangkan gagasan sosialnya, yang paling banyak terdapat dalam karya-karya Rousseau sama sekali tidak.” (de Jouvenel 1965:18).

Kelahiran buku ini dalam bahasa Indonesia mudah-mudahan mengantarkan kita pada kajian mendalam tentang pemikiran sosial ekonomi Rousseau. Sambil membawa pengalaman kita pada pembacaan, karya-karya Rousseau akan memperluas cakrawala pemikiran kita. Sekarang, marilah kita bawa pemikiran agama kita untuk memahami Du Contrat Social bagian akhir, agama sipil. (Bersambung)

 

Komentar