Ilustrasi Ekonomi Indonesia/Net/Istimewa/Nusantaranews
Ilustrasi Ekonomi Indonesia/Net/Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi walau dibayangi kebijakan rasionalisasi anggaran. Caranya, Kadin meminta pemerintah mengoptimalkan serapan anggaran.

“Pemangkasan atau apa namanya itu rasionalisasi, sebenarnya tidak terlalu menjadi soal, selagi serapannya optimal,” ujar H. Andi Rukman Karumpa dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (21/8/2016). Andi mengatakan, walaupun anggaran besar namun serapannya lemah tidak akan berdampak kepada perekonomian. Dia mengatakan, pelemahan serapan anggaran ini yang membuat ekonomi susah tumbuh dengan baik.

Sebab itu, meski postur anggaran negara kali ini tergolong langsing, yang terpenting kredibel dan gampang terserap. Kadin meminta pemerintah menyiapkan formula agar serapan anggaran lebih optimal. Formulanya bisa punishment and reward bagi pelaksana anggaran atau perlindungan hukum bagi kuasa dan pelaksana anggaran. Kadin mengusulkan dilakukan perlindungan hukum bagi pelaksana atau kuasa anggaran. Pasalnya, ancaman kriminalisasi pengambil kebijakan dan pelaksana anggaran sangat kencang. “Akibatnya, tidak ada yang berani jadi panitia tender atau ikut tender. Semua ketakutan,” ujar Andi.

Dia mengatakan, pemerintah perlu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik. Konsistensi pertumbuhan ini mesti dijaga baik pada kuartal III dan VI nantinya.”Secara siklus, kuartal III dan IV mestinya lebih baik, sebab berbagai proyek pemerintah sudah jalan dan pembayaran serta belanja makin kencang,” papar dia.

Kadin menilai, pemangkasan anggaran keuangan sebesar Rp133,8 triliun tidak terlalu mengganggu program pembangunan. Sebab pemangkasan hanya untuk pos-pos anggaran tidak terlalu penting dan bukan diambil dari pos anggaran yang produktif. “Pemangkasan hanya sekitar 5-7% dari belanja negara sebelumnya yang berjumlah sekitar Rp2.000 triliun,” ujar Andi.

Namun, Kadin menilai, ancaman melemahnya pertumbuhan ekonomi datang dari lemahnya serapan anggaran. Andi mengatakan daya serap anggaran belanja negara terus melemah dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2010 serapan anggaran sebesar 92,54% dari pagu anggaran sebesar Rp 1.125,15 triliun.

“Pada akhir 2015 lalu, serapan anggaran hanya sebesar 90,5% dari pagu anggaran Rp1.984,10 triliun. Serapan cukup besar hanya terjadi pada tahun 2011 yakni sebesar 98,05% dari pagu anggaran sebesar Rp1.294,99 triliun,” pungkas Andi.

Sementara itu, laju pertumbuhan menurut konsumsi pemerintah sempat menguat pada tahun 2013 yakni sebesar 6,75% namun kemudian anjlok pada 2014 hanya sebesar 1,16%. Pada 2015, sedikit membaik menjadi 5,38% dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,79%. Pada kuartal II-2016, mengejutkan, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,18%.

“Dari data-data ini kita berkesimpulan bahwa serapan anggaran atau konsumsi pemerintah pemerintah harus tetap terjaga. Tapi juga serapannya berkualitas untuk menjaga momentum pertumbuhan,” pungkas Andi. (eriec dieda)

Komentar