Berita Utama

Jokowi Tak Mampu Buat Generasi Milenium Miliki Hunian di Perkotaan

Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyuono. Foto Via Konfrontasi
Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyuono. Foto Via Konfrontasi

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, mengungkapkan bahwa banyak sekali penyebabnya jika generasi milenium sekarang ini tidak bisa membeli rumah, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan pemerintah yang menaikan pajak PBB yang sangat tinggi.

Selain itu, menurut Arief, penyebab lainnya adalah akibat sektor properti hunian di Jakarta dijadikan semacam produk di pasar modal dengan cara melakukan bubble (penggelembungan) harga hunian properti oleh para mafia pengembang, yang berakibat tingginya nilai harga properti di perkotaan.

“Lalu akibat bunga pinjaman kredit perbankan untuk properti yang sangat tinggi, di atas 12 %, dibandingkan negara-negara di ASEAN, dan ditambah lagi tingkat kenaikan pendapatan masyarakat yang makin menurun dan tergerus oleh inflansi dan nilai kurs Rupiah yang makin jeblok terhadap nilai US Dollar selama pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-JK (Jusuf Kalla),” ungkapnya kepada wartawan, Jakarta, Sabtu (18/02/2017).

Jika generasi milenium tidak mampu membeli hunian di kota akibat pendapatannya yang hanya naik 10% pertahun dan kenaikan harga tanah hingga 15-20% akibat permainan mafia pengembang, Arief mengatakan bahwa hal itu menunjukan kalau pemerintah Jokowi sudah gagal menciptakan kenaikan masyarakat kelas menengah di perkotaan.

“Apalagi buruh yang UMR (Upah Minimum Regional) hanya naik berdasarkan nilai inflasi, tidak akan pernah mimpi punya hunian tinggal di Kota, paling mampunya di rumah kontrakan petakan, itu pun patungan. Sudah jelas Joko Widodo gagal total.

Harga di Ibukota atau kota metropolitan negara anggota G20  memang harganya pasti  tinggi, tapi hanya Indonesia saja generasi mileniumnya yang nggak mampu beli,” ujarnya.

Yang harus dilakukan pemerintah, Arief menjelaskan, adalah harus menciptakan kota-kota Industri dan kota-kota satelit di daerah-daerah dengan fasilitas yang minimal sekali mendekati fasilitas Ibukota dengan sistim kepemilikan tanah yang lebih baik, sehingga bisa membuka lapangan kerja baru dan generasi milenium bisa bekerja dan tingkat pendapatan naik. Hal tersebut, lanjut Arief, secara otomatis akan menciptakan penurunan harga hunian di Ibukota akibat pindahnya warga kota ke kota-kota satelit tadi.

“Kalau dengan mengunakan cara-cara pengelolaan dan kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh Joko Widodo dengan konsep yang pasti gagal dan nggak jelas untuk menyediakan hunian murah di kota, maka generasi milenium tidak akan pernah bisa memiliki hunian di kota dan paling-paling ngontrak di apartemen dan rumah petakan di Jakarta,” katanya sinis.

Reporter/Penulis: Rudi Niwarta

Komentar

To Top