Berita Utama

Indonesia Darutar Grand Strategy Energy Security

Geothermal Energy/Ilustrasi/Istimewa/Nusantaranews
Geothermal Energy/Ilustrasi/Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Demi mencanangkan program energi hingga 2030 mendatang, secara tidak langsung pemerintah Saudi Arabia tampaknya telah menyiapkan grand strategy energy security. Sebagaimana yang disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jum’at (24/2/2017) kemarin, pemerintah Arab berupaya melakukan kerjasama untuk meningkatkan investasi di luar minyak dan gas (non migas) di Indonesia.

Saat ini, banyak negara-negara berkembang seperti India, Cina, Amerika, Jerman dan Belanda memikirkan tentang grand strategy energy. Dimana negara-negara ini lebih banyak tertarik untuk mengembangkan sektor non-migas. Dengan kata lain menyiapkan cadangan energi di masa depan.

Mereka sadar bahwa sektor minyak dan gas pada titik kulminasinya akan mengalami kelangkaan. Sebab sektor energi ini termasuk ke dalam sumber energi yang tidak bisa diperbaharui. Untuk itu, banyak negara-negara maju justru lebih banyak mengembangkan sektor energi baru terbarukan (EBT).

Hal serupa, nampaknya juga tengah disadari oleh pemerintah Arab Saudi. Dimana mereka tahu bahwa cadangan sumber energi berupa gas alam yang dimilikinya lambat laun akan habis. Demi menunjang program sampai 2030, maka Raja Arab Saudi Salman al-Saud melirik Indonesia. Untuk pertama kalinya, Raja Arab tersebut bertandang ke Indonesia pada bulan Maret 2017 mendatang.

Kenapa Indonesia dilirik oleh pemerintah Arab? Sebab Arab tahu bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi melimpah dalam menghasilkan sumber energi baru terbarukan. Untuk itu, penting kiranya Indonesia perlu membuat sebuah grand strategy energy security jangka panjang guna mengamankan sumber energi dimasa yang datang.

Lalu bagaimana cara mendekati Indonesia? Banyak model pendekatan kerjasama investasi yang telah digariskan oleh kitab WTO. Seperti membangun pelabuhan, membangun dok bahkan India membangun kapal di Medan. Pola itu juga diterapkan di Vietnam. Model ini menjadi sangat strategis dalam konsep perdagangan dan at the same time, mereka juga bisa berada di situ, a new colony. Punya pelabuhan artinya bisa menjadi akses untuk mendapatkan sumber energi. Kuncinya akses. Karena energy security itu kuncinya 4A, accesability, availability, affordability dan acceptability.

Fakta menunjukkan bahwa Indonesia kini adalah sebagai negara net oil importer yang perlu segera mengembangkan sebuah grand strategy jangka panjang untuk tetap survive sebagai sebuah negara merdeka yang mampu menjaga integritas dan kedaulatan nasionalnya. Kita harus belajar dari negara lain dalam hal kebijakan energy security.

Editor: Romandhon

Komentar

To Top