Artikel

Focus on Potus: Cermati Fundamental Acuan Untuk Cuan

Budi Hikmat (Chief Economist and Director for Investor Relation)/Foto: Istimewa

Oleh: Budi Hikmat (Chief Economist and Director for Investor Relation)

Statistik 1

Statistik 1

NUSANTARANEWS.CO – Perhatian investor global, sejak sepanjang pekan lalu dan khususnya pekan ini, akan terpusat pada pemenang pemilu presiden di Amerika Serikat. Peluang kemenangan Hillary Clinton berdasarkan jajak pendapat cenderung merosot sejak merebak berita FBI akan menyelidiki skandar email. Sementara itu, seperti terlihat pada peraga Bloomberg diatas, peluang Donald Trump justru melonjak berkat berbagai janji kampanye kebijakan populis-proteksionis. Dengan mempertimbangkan margin of error, kemenangan Hillary dinilai masih belum aman untuk terpilih sebagai the President Of The United States (POTUS).

Dinamika Sepekan

Dinamika Sepekan

Itu sebabnya selama pekan lalu, bursa saham di Amerika Serikat cenderung bereaksi negatif dengan SPX turun 1,94%. Lihat Tabel. Memang penurunan ini lebih kecil dibandingkan yang terjadi pada bursa NKY Jepang (-2,49%) dan SX5E Eropa (-4,05%).

Selama pekan lalu, pada kelompok asset terjadi penurunan yield T-bond, pelemahan dollar, kejatuhan harga minyak dan kenaikan harga emas. Yield T-bond untuk tenor 10 tahun pekan lalu ditutup pada angka 1,78% setelah sempat naik menjadi 1,85%. Penurunan ini bisa jadi merespon kejatuhan 8,31% harga minyak setelah investor ragu pada upaya OPEC untuk menyepakati pembatasan produksi. Sementara penguatan dollar 1,3% bisa jadi akibat keputusan the Fed tidak menaikkan suku bunga pada pertemuan 3 November lalu. Bloomberg melansir probabilita kenaikan pada pertemuan Desember sebesar 76%. Pencermatan historical menunjukkan penurunan yield T-bond ini memberi peluang untuk pemulihan harga SUN terutama bila investor asing menyakini currency risk rupiah terkendali.

Bursa domestik sendiri diwarnai oleh faktor unik terkait dengan unjuk rasa besar-besaran yang menuntut tindakan hukum kepada Gubernur DKI Bapak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). IHSG sempat menguat menguat 0,62% ketika diyakini kegiatan unjuk rasa bakal berlangsung damai tanpa kerusuhan. Walau memang sepanjang pekan, IHSG tertekan 0,88% sejalan dengan kejatuhan bursa global dan regional (MXAPJ terkoreksi 1,64%). Sementara kurs rupiah juga relatif stabil.

Memang sangat disayangkan bila kemudian pada malam hari terjadi bentrokan yang menyebabkan perusakan kendaraan petugas selain luka baik dari sisi petugas maupun partisipan unjuk rasa. Media melansir pernyataan Presiden Jokowi bahwa kerusuhan didalangi oleh aktor politik. Memang sulit untuk tidak menepis dugaan bahwa unjuk rasa dilandasi atau dimanfaatkan oleh politisi mengingat sedang berlangsung pemilihan gubernur DKI Jakarta. Kepiawaian politik Presiden Jokowi kini senang diuji.

Media melansir bahwa proses hukum terhadap Bapak Ahok dijadwalkan rampung dalam waktu dua pekan. Dapat diduga bila perkembangan politik dalam negeri cenderung memanas. Sementara itu, ketidakpastian terhadap pemilihan presiden di Amerika Serikat mungkin baru mereda pada hari Kamis (Rabu waktu Amerika Serikat) sehari setelah pemungutan suara usai.

Cermati Fundamental Acuan Untuk Cuan

Adalah wajar bila pada masa yang diwarnai peningkatan ketidakpastian biasa diwarnai oleh aksi jual untuk mengamankan diri. Kami selalu mengingatkan panduan “acuan untuk cuan” dengan memperhatikan faktor fundamental ketimbang riak. Perbaikan administrasi melalui reformasi fiskal dan hukum melandasi faktor fundamental yang positif. Terkendalinya inflasi yang diwarnai dengan penurunan biaya transportasi bisa jadi sebagai leading indicator bahwa pengerjaan berbagai projek infrastruktur transportasi telah memberi manfaat kepada kegiatan distribusi dan produksi. Seperti terlihat pada peraga dibawah ini biaya transportasi selama setahun terakhir turun 2,7%. Inflasi lebih dipicu oleh komoditas makanan terutama bumbu-bumbuan yang umumnya terkait faktor musim.

34Model kami menduga inflasi secara umum hingga akhir tahun 2016 sebesar 3,42%. Semoga angka ini konservatif mengingat sepanjang tahun baru menca[ai 2,11%. Peluang penurunan suku bunga tetap terbuka, tidak hanya karena proyeksi core inflation yang sekitar 2,66% pada akhir tahun. Namun terkait juga statistik moneter yang kurang menggembirakan. Seperti pertumbuhan tahunan M1 pada bulan September 2016 yang merosot menjadi 5,9%. Sementara pertumbuhan M2 – sebagai indikator penyaluran kredit, juga cenderung lebih lambat. Lihat tabel.

Kami duga hal ini sebagai one-off impact dari tax amnesty yang menyedot dana masyarakat untuk pembayaran tebusan dengan tarif termurah dengan batas waktu pada akhir September. Penurunan M1 inilah yang kami duga akan melandasi statistik GDP triwulan ketiga 2016 lebih rendah dari yang diharapkan. Bank Indonesia telah mengisyrakatkan hal ini. Semoga pelaku pasar menyadari untuk kemudian fokus pada triwulan keempat. Bila mencermati proyeksi BI atas likuiditas perbankan yang mulai melonggar, kami menduga pengeluaran pemerintah telah kembali mengalir setelah sempat tertahan pada bulan September.

Kita juga menanti pengumuman cadangan devisa sebagai proxi apakah dana repatriasi telah mulai masuk ke dalam sistem perekonomian. Seperti diketahui, pemerintah menetapkan akhir tahun 2016 sebagai batas waktu dana repatriasi melalui program tax amnesty. Masuknya dana repatriasi ini sangat dibutuhkan untuk memperkuat fundamental industri keuangan dalam negeri. Dengan rasio deposito terhadap GDP yang hanya 30%, sulit untuk mengharapkan suku bunga domestik dapat turun secara signifikan. Itu sebabnya, untuk memacu inflows dana masyarakat yang lebih besar, kami menyarankan pemerintah untuk menurunkan tarif pajak pendapatan baik bagi badan maupun perorangan. Kami dengar pemerintah sudah mempertimbangkan hal ini.

Hoping for the best, but expecting for the worst. Keep investing regularly… (Humas Bahana, Sub BUMN)

Komentar

To Top