Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian, Muhammad Syakir/Foto Andika / NUSANTARAnews
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian, Muhammad Syakir/Foto Andika / NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Biltbang) Kementerian Pertanian (Kementan) akan menggencarkan sosialisasi pengembangan penggunaan varietas bibit cabai merah amfibi lokal ke beberapa daerah secara menyeluruh. Hal itu dilakukan, untuk mendorong peningkatan produksi, atau ketersediaan pasokan ke pasaran.

Diketahui dari pemberitaan beberapa media massa, dalam sebulan ini terpantau harga.cabai terus melonjak hingga menyentuh harga Rp 200 ribu per kilogram (kg). Sementara Menteri Pertanian (Mentan) mengungkapkan hal itu disebabkan karena kondisi cuaca atas curah hujan yang tinggi.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Muhammad Syakir menyampaikan, penggunaan bibit cabai amfibi secara masif bisa menjadi alternatif solusi agar cabai bisa dipanen saat hujan, guna menstabilkan harga.

“Karena musim hujan dengan curah hujan tinggi. Kami merekomendasikan penanaman cabai yang bersifat amfibi,” ujar Syakir dalam Paparan Hasil Litbang Pertanian di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat(6/1/2017).

Menurutnya, pengembangan penanaman bibit cabai amfibi ini untuk daerah produksi yang memiliki curah hujan cenderung rendah. Pengembangan bibit cabai merah amfibi dilakukan di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara. Sedangkan basis produksi cabai jenis biasa, saat ini masih mengandalkan dari daerah Jawa Timur, Jawa Barat.

“Tetapi, tentunya dibutuhkan teknologi dukungan untuk potensi genetik amfibinya itu bisa beradaptasi,” kata dia.

Teknologi itu, di antaranya biodekomposer yang dapat mengefisienkan kebutuhan pupuk organik tinggi dalam pengolahan tanah yang dapat meningkatkan bahan organik tanah.

Untuk soal rasa dari varietas cabai amfibi ini tidak berbeda dengan cabai pada umumnya. Yang membedakan adalah sifat adaptif dari bibit terhadap curah hujan. Bahkan, kata dia, potensi produktivitas dari cabai merah amfibi ini bisa mencapai sekitar 24 ton per hektare.

“Sudah ada produksi panen 24 ton (per hektare, 20 ton (per hektare). Kalau hujannya tinggi sekali, bisa 18 ton (per hektare. Sudah ada di Jabar, Sulawesi, Jatim,” papar dia.

Selain itu, Syakir berujar, dengan penggunaan bibit cabai amfibi ini, tentu dapat menekan harga di pasaran. Sesuai dengan target, batas cabai di tingkat konsumen, yakni sekitar Rp28 ribu per kilogram. (Andika)

Komentar