Ekonomi

4 Syarat Industri Manufaktur Indonesia Kembali Ke Level 11 Persen

Industri Manufaktur
Ilustrasi Industri Manufaktur/Foto via Kontan

NUSANTARANEWS.CO – Ndiame Diop, seorang ekonom Bank Dunia mengatakan sedikitnya empat syarat apabila industri manufaktur Indonesia kembali berjaya seperti periode 1990-1996 silam. Selain pemerintah harus memastikan kejelasan, kepastian, kemudahan dan konsistensi kebijakan, investor juga akan mau berinvestasi jika ada perbaikan kemudahan berusaha (ease of doing business atau EoDB). Dia berharap perbaikan EoDB gencar dilakukan agar peringkat Indonesia meningkat pada Oktober mendatang. Saat ini Indonesia berada di posisi 109.

Diop menyampaikan empat syarat agar penanaman modal asing berminat untuk berinvestasi di Indonesia.

Yang pertama, menjaga inflasi agar tetap rendah dan menghindari apresiasi kurs tukar valuta riil (Real Effective Exchange Rate/REER) yang terlalu besar.

Ia menjelaskan, REER di bawah 100 menunjukan bahwa nilai tukar rupiah masih kompetitif untuk mendorong ekspor. Kenaikan harga juga menjadi penyebab utama anjloknya sektor manufaktur, sebab industri ini merupakan penerima harga dan kesulitan meneruskan kenaikan (inflasi) itu kepada pelanggan.

Kedua, kenaikan produktivitas tenaga kerja. Meskipun sebagian berpendapat bahwa upah rendah merupakan keunggulan, sayangnya eminensi hilang lantaran kalah dengan produktivitas tenaga kerja sehingga menjadi lebih berdaya saing.

Ketiga, menurunkan biaya logistik. Ia menuturkan, biaya logistik di Indonesia sekitar 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), menunjukan besarnya biaya tidak langsung akibat kesenjangan dalam infrastruktur serta dibatasi oleh prosedur izin dan lisensi yang harus dibayarkan oleh perusahaan.

Dan keempat, menyusun strategi industri yang kuat dan menyentuh. Diop menegaskan, bahwa pemerintah harus membuat kebijakan yang konsisten, jelas dan memberi kepastian bagi pengusaha.

Lebih lanjut lagi, kata dia, pemerintah juga perlu mempermudah izin masuknya penanam modal asing di Indonesia. “Indonesia memiliki aturan yang paling banyak. Untungnya, dengan paket kebijakan sepanjang konsisten semestinya akan memperbaiki birokrasi,” papar Diop. (eriec dieda)

Artikel Terkait: Prediksi Ekonomi Indonesia di Mata Dunia

Komentar

To Top