Tuntaskan Masalah Cinta dan Lingkungan pada Remaja Masa Kini

Buku The Lives Grees. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

Buku The Lives Grees. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

Pink Berry Club - The Lives Green. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)
Pink Berry Club – The Lives Green. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

Judul : The Lives Green
Penulis : Nabila Dinantiar
Penerbit : DAR Mizan
Cetakan : I, Desember 2017
Tebal : 168 Halaman
ISBN : 978-602-420-567-6
Peresensi: M Ivan Aulia Rokhman*

NUSANTARANEWS.CO – Buku The Lives Green menceritakan tentang anak remaja yang ingin peduli terhadap lingkungan. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Bahkan ada menikmati hari biasa di sekolah bersama teman sebaya dan memunculkan segala keharmonisan cinta di sekolah. Selain mengisi waktu di sekolah bahkan keluarga bakal membicarakan masalah keluarga yang mengalami konflik rumah tangga. Lalu di tengah cerita bakal menemukan surat misteri yang tidak diketahui oleh penulis sengaja diserahkan oleh Alya secara kelembutan hati yang dicintainya. Buku ini dikemas dengan cerita keseharian remaja yang dimulai dari kebiasaan ujian, melahirkan buku novel, sambil membaca buku di perpustakaan, mencenderai hubungan orang tua dengan anak, sampai meraih kekompakan dalam lomba daur ulang tingkat pelajar.

Cerita pertama dibuka ketika Alya dan tim The Lives Green niat untuk menciptakan peduli terhadap lingkungan. Di sekolah Alya sedang menulis novel lewat laptopnya. Rahma dan Alya selalu asyik membahas novel kesukaan. Tiba-tiba ia pingsan gara-gara maslaah persahabatan di Kantin. Ia khawatir kondisi kesehatan Alya kurang fit terus melarikan ke UKS demi mendapatkan perawatan. Di kelas Pak Firman mengabsen kehadiran kelas kecuali Alya. Sempat bingung Pak Firman ditanyai oleh tim The Lives Green tentang kemana Alya. Sepulang sekolah kondisi Alya kian membaik, sedangkan teman-teman pada pulang dengan naik angkutan umum.

Di Rumah, ia  mengalami konflik rumah tangga diakibatkan kondisi rumah dalam keadaan berantakan. Bapak dan Ibu bertengkar terus melempar vas bunga pada kening Ibu hingga berdarah. Kira berusaha memeluk Ibu untuk saling memeluk kasih sayang.

Keesokan harinya siswa hendak mengerjakan ujian matematika. Seusai ujian nilai sungguh bagus. Sedangkan nilai jelek juga sebagai pengalaman yang bisa memperbaiki nilai belajar siswa. Di samping itu Kira membaca surat yang tidak diketahui oleh penulis. Isi surat mencintai Kira dan tidak memberitahukan siapa yang sebenarnya. Surat tersebut menyebut misteri terhadap surat itu. Malam hari, Kira memikirkan siapa yang mengirimkan surat misterius. Hampir penasaran banget sosok mana yang hendak diketahui.

Sedangkan siswa lainnya fokus belajar matematika untuk menempuh ulangan harian besok. Saat bel tiba guru matematika mengumumkan bahwa yang tidak remedial hendak keluar kelas. Sedangkan Kira, Bilqis, dan Marya tetap berada di kelas untuk melaksanakan remedial matematika.

Event yang paling ditunggu-tunggu oleh siswa yaitu melaksanakan lomba daur ulang sekaligus menghadiri perkemahan sabtu minggu (persami) pada minggu depan. The Lives Green sibuk memikirkan produk yang dibuat untuk daur Ulang. Tiba-tiba Kira mendapatkan surat dari orang yang tak dikenal. Isi surat tersebut sangat tidak paham terhadap Kira soal kondisi tubuh.

Cerita ini sungguh luar biasa dengan motivasi dan sangat menarik oleh tim The Lives Green. Permasalahan ditengah cerita adalah menyelidiki siapa sosok misterius yang berani mengirimkan surat kepada Kira terkait hubungan cinta yang tidak jelas terhadap sosok tersebut.

Mereka bekerja keras demi memberikan hasil yang terbaik dalam lomba itu. Tekad mereka tidak untuk menang. Tetapi ikut aktif dalam menjaga lingkungan yang semakin hari semakin memburuk (hal 89).

Artinya mereka sama-sama memberikan semangat kerja keras dan tekadnya senantiasa mendapatkan kesuksesan. Selain berusaha tetapi ikut aktif berperan dalam menjaga lingkungan yang asri. Novel ini sangat terkesan karena bumbu cerita keseharian remaja berpikir bagaimana cara menciptakan kreatifitas untuk menyembuhkan global warming terhadap lingkungan di sekitar kita. Di akhir cerita kelima anak mengikuti perkemahan yang bisa menumbuhkan rasa kecintaan lingkungan hijau dan asri sebagai paru-paru dunia. Mari menjaga lingkungan dari sekarang.

*M Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996. Lelaki berkebutuhan khusus ini meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Exit mobile version