SEAFDeC, Pemusyawaratan 10 Negara ASEAN Tangani Masalah Perikanan

Wagub Jatim saat Fifty First Meeting of The Council Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDeC) di Hotel Shangri-La Surabaya. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Setya)
Wagub Jatim saat Fifty First Meeting of The Council Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDeC) di Hotel Shangri-La Surabaya. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Setya)

NUSANTARANEWS.CO, Surabaya – Keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan sektor perikanan sangat diharapkan. Pengembangan tersebut dilakukan untuk mewujudkan perikanan yang berkelanjutan.

“Perikanan memiliki potensi dan prospektif yang sangat besar. Tidak hanya Jatim, tetapi di negara ASEAN juga. Masyarakat harus berada di depan untuk pengembangan perikanan berkelanjutan ini,” ujar Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat menghadiri Fifty First Meeting of The Council Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDeC) di Hotel Shangri-La Surabaya, Senin (18/3/2019).
Ia menjelaskan, yang perlu dipikirkan dalam mengembangkan perikanan adalah pada masyarakat itu sendiri. Sehingga pertemuan SEAFDeC ini diharapkan bisa menghasilkan rekomendasi menempatkan masyarakat di dalamnya.
“Yang kita pikirkan masyarakatnya, nelayannya, ekonominya. Kalau bisa satu kata, apa yang direkomendasikan mempertimbangkan menempatkan masyarakat di depan. Bukan elite atau siapapun, tapi masyarakat,” kata Emil Dardak panggilan akrab Wagub Jatim.
Sementara itu, Pertemuan SEAFDeC berlangsung pada tanggal 18-22 Maret 2019. Pertemuan ini secara periodik dilakukan Kementerian Perikanan dari ASEAN yang dihadiri sebanyak 10 negara dan negara mitra pengamat (observer) seperti Jepang, Australia, Amerika Serikat, serta organisasi perikanan dunia.
Tujuan kegiatan SEAFDeC yakni membangun kesamaan persepsi terkait pengelolaan perikanan secara berkelanjutan. Nantinya akan dihasilkan guideline yang bersifat mendorong masyarakat di ASEAN untuk bersama-sama menangani isu seperti memerangi Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, serta sustainable culture untuk budidaya. (Setya/nn)
Editor: Achmad S.
Exit mobile version