Sarapan Kembang

Sapan Kembang (Ilustrasi Mawar dan Lipstik). Foto: Dok. Wallpaper Cave

Ilustrasi Mawar dan Lipstik). Foto: Dok. Wallpaper Cave

Puisi Wyaz Ibn Sinentang

RESTUNG JIWA

KETIKA rasa sejuk telah kehilangan definisi isyarat keadilan menyurut
tapi tidak sepantasnya embus garis keraguan menghindar laksana pengecut
daun-daun di tepi taman menggugur setia lindap frustrasi beringsut

Adakalanya lakon kehidupan selalu dituntut untuk toreh sekuku kebencian
sementara itu di balik layar terekekeh alur cerita tersampaikan
lantas bergesek ranting-ranting kering terkecoh aroma yang memang dikondisikan

Saat ini kita selalu disuguhkan dengan warna-warni demokrasi kebablasan
kata-kata jadi senjata menakutkan dan mematikan gores silet terbantahkan
air mata ngucur di penghujung borok napas pasti menyesakkan

Bumi Ale-Ale, 9 Mei 2017

SEPAPAN KEMBANG

TAMPAKNYA keindahan alami kini beralih guna seiring menggunung murka
wangi tak perlu dinikmati sebab hanya butuh simbol belaka
dan jangan heran berapa pun harga tak jadi perkara

Sepapan kembang sesungguhnya hanya lampiaskan nafsu terkekang kemajemukan pikir
peduli sebatas ragu setia di permukaan makna begitu sumir
sebab ini sebagian dari fatamorgana simpatik lembut tapi nyinyir

Duka lara atau suka cita bedak dunia berlabel kemuliaan
dikemas apik penuh pesan terselubung senyum pongah pun bermekaran
sementara jiwa-jiwa linglung bertebaran berimajinasi tentang pertarungan semu kehidupan

Bumi Ale-Ale, 9 Mei 2017

D O G M A

NEGERI awak krisis kepercayaan semuanya semrawut membumikan kesejahteraan rakyat
hari ini ceritanya tak beda menyongsong kehidupan leher terikat
lagi-lagi kasak-kusuk harga serius menjadi komoditas para pengadu debat

Listrik biarpet, kebutuhan pokok melambung, bbm melaju kantong terbengkas
kalian yang duduk manis hanya tersenyum tiada rasa welas
janji tinggal janji wajah hipokrit berlenggang tanpa itikad jelas

Adagium gemah ripah loh jinawi ternyata isapan jempol belaka
negeri ini makmur bagi serigala pemuja harta tahta wanita
sementara rerumputan terinjak-injak nantikan secuil keadilan hingga melumut kata-kata

Bumi Ale-Ale, 6 April 2017

WYAZ (Wahyudi Abdurrahman Zaenal) IBN SINENTANG lahir di kota Pontianak tanggal 24 April. Mulai menulis puisi sejak tahun 1980. Selain puisi juga menulis cerita pendek, dan artikel. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media lokal, nasional, maupun negeri jiran. Karyanya juga terangkum dalam beberapa kumpulan bersama. Antologi Puisi tunggalnya BERSAMA HUJAN (Kelompok Empat Kreatif, 2011), HIJRAH (Kelopak Poedjangge, 2012), NYANYIAN LILIN PUTIH (Shell-Jagad Tempurung, 2012), PERJALANAN SAJAK BULAN KOSONG (Kelopak Poedjangge, 2013), REKAH CAMELIA DI LANGIT DESEMBER (Kelopak Poedjangge, 2014), TIGA IBU (Guepedia, 2016) dan Kumpulan Cerpen tunggalnya PUING (Jentera Pustaka, 2014).

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Exit mobile version