Di Sini, Aku Tidak Kenal Musim

puisi, puisi cinta, luqman baday, kumpulan puisi, puisi indonesia, nusantaranews

Bunga sebagai simbol cinta. (Foto: Eriec Dieda/NUSANTARANEWS.CO)

Puisi Setiap Gerimis Jatuh. (Foto: Ilustrasi/IST)
Puisi Setiap Gerimis Jatuh. (Foto: Ilustrasi/IST)

Di Sini, Aku Tidak Kenal Musim

Bila cinta tak pernah tiada, datang dengan sengaja. Aku mendapatkan itu semua di manapun, kapanpun dan oleh siapapun. Ya, sebut saja aku dengan nama Aura. Aku hidup bahagia bersama keluarga dan teman-teman.

Jangan tanyakan kasih sayang mereka padaku. Dulu, nenek sering bercerita tentang masa lalunya yang menyenangkan. Katanya, dulu beliau suka sekali rintik hujan sampai-sampai demam akibat bermain hujan terus kala musimnya. Sekarang, walaupun aku tidak di samping nenek, namun aku tak kesepian seperti dulu. Aku miliki sahabat, Akila namanya.

Dari cara ia hidup dan disayang keluarga, ia sama sepertiku dulu. Bukan disayang, namun lebih suka ditinggal. Hanya dengan pembantu yang ia panggil bibi itu ia kerap habiskan hari-harinya.

Sudah berulangkali ia merengek pada mama papanya, tapi mereka hirau, abai pada perasaan Akila.

Akhirnya ia pun memilih sibuk di kamarnya sendiri. Ya sibuk mendengarkan ceritaku Cuma. Setiap hari aku pasti ke sana, menemaninya dengan tanpa siapapun tahu di dunia. Dia pun tak mau sekolah sebab iri pada teman-temannya yang diantar jemput orangtuanya. Berulangkali bibi itu memaksa tapi Alika ngotot.

Kalau dulu aku dan nenek suka hujan. Ia tak tahu harus suka apa dan siapa.

Yang kutahu ia senang bila aku menemaninya dan menceritakan banyak hal. Dia masih delapan tahun, aku pun belum tahu umurku berapa sekarang. Tapi sebelum aku bangun dari tidur panjangku, aku ingat nenekku bilang tiga hari lagi umurku sepuluh tahun. Selanjutnya aku ingat, ke luar dari supermarket, aku berjalan, berlari dan menyuruh ibu untuk mengejarku, aku senang sekali waktu itu, tanpa sadar dari arah belakang ada sebuah mobil meluncur kencang. Ibu berteriak dan aku tak sadar.

###

Aku terus berjalan, terus saja berjalan dan anehnya aku tidak mendengarkan siapapun menyapaku, dan merasakan panas dan dingin. Dari situlah aku baru sadar, kejadian yang menimpa diriku.

Sekarang aku masih terus berjalan tanpa merasa lelah sedikitpun. Tapi ada yang aneh di mataku. Seorang anak berumur 8 tahun tersenyum kepadaku, sebab hanya aku di tempat itu. Apa dia melihatku? Pikirku.

###

Ah, ruangan ini terlalu besar bagiku dan Akila. Bocah yang tersenyum adalah dia. Dengannya aku sebagai sepasang sahabat dengan dunia berbeda. Aku sudah lama berada di sini, sekitar satu minggu yang lalu. Dan dua hari belakangan Aqila memutuskan berhenti memutuskan sekolah. Sebagaimana sahabat, kami saling berbagi cerita. Ia suka membanding-bandingkan hidup kami sewaktu aku masih hidup.

“Aura aku ingin seperti dirimu” katanya.

Mendengar itu aku ikut sedih.

“Aqila kamu harus bersyukur dengan hidupmu. Kamu masih bisa merasakan hidup matahari. Dingin embun pagi, dan menikmati harum tanah sehabis hujan pertama kali. Sedang aku hanya bisa bercakap denganmu saja. Apa yang menyenangkan dari hidupku?”…

“Perlu kamu tau Aura, aku seperti tak dapat membedakan kapan kemarau dan penghujau tiba. Tak ada yang kusuka kecuali mendengar ceritamu, kamu memang sahabatku.”

“Aku berterima kasih padamu”.

Kita berpelukan di atas ranjang pagi itu.

###

Sejak saat itu Aqila kembali bahagia dalam dunianya, walau dia hanya di dlam kamar bersamaku. Aku senang berteman dengannya. Walau hanya bisa merasakan kasih sayang darinya.

Setidaknya akau memilikinya. Walau aku tak bisa dan tak kenal sesuatu yang ada di dunia ini.

Seperti hujan dan kemarau. Tetapi, aku hanya tinggal mencari waktu kapan Aqila akan berubah status sepertiku.

27 Desember 2019

 

 

Tentang penulis

Fajriyatur Rahmah, lahir 26 Maret 2007 di Batuputih Sumenep. Menempuh pendidikan di MTs 1 Annuqayah dan santri di PP Annuqayah Daerah Lubangsa Putri Guluk-guluk Sumenep Madura. Bergiat di Forum Literasi Santri.

Exit mobile version