Hukum

Sekalipun Jokowi Mengecam, Kasus Novel Akan Sia-Sia Jika Polisi ‘Diam’

Fahira Idris/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews
Fahira Idris/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris menilai bahwa semua kecaman atas insiden Novel Baswedan hanya akan sia-sia jika polisi tidak mampu mengungkap dengan cepat siapa otak di balik teror biadab ini. Sekalipun Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut mengecam.

“Negara harus kerahkan semua sumber dayanya untuk segera ungkap aktor intelektual dibalik teror dan serangan keji ini. Polisi harus yakinkan publik mereka mampu ungkap kasus ini dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kerena jika penanganan kasus ini tidak cepat, maka agenda pemberantasan korupsi dalam kondisi bahaya,” ungkapnya kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (13/4/2017).

Fahira mengatakan, teror penyerangan fisik yang dialami Novel Baswedan membuka mata kita semua bahwa orang-orang yang selama ini menjadi ujung tombak membongkar korupsi yang merupakan tindak kejahatan luar biasa, tidak mendapat perlindungan keamanan sesuai dengan tugas berat yang diembannya sehari-hari.

Kenyataan ini, lanjut Fahira, tentunya sangat miris dan memprihatinkan di tengah gegap gempitanya bangsa Indonesia yang sedang melawan korupsi. “Saya tidak paham bagaimana mekanisme pengamanan para penyidik KPK sehari-hari. Namun, kalau kita pakai akal sehat, seharusnya mereka mendapat pengamanan yang melekat jika melihat ‘bahayanya’ tugas yang mereka kerjakan sehari-hari. Mereka ini kerjanya menguak sebuah tindak pidana yang masuk dalam kategori kejahatan yang luar biasa. Bagaimana mereka mau bekerja tenang kalau keselamatan diri dan keluarganya tidak terjamin. Saya harap ke depan ada pembenahan soal keamanan penyidik KPK,” ujar Senator Asal Jakarta itu.

Fahira menilai, aktor di balik penyerangan Novel Baswedan tersebut ingin mengirim pesan ketakutan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa jihad bangsa ini memberantas korupsi akan berhadapan dengan aksi-aksi teror dan kekerasan fisik dengan harapan menyurutkan langkah semua elemen bangsa melawan korupsi.

Penyerangan tersebut, Fahira menegaskan, adalah bentuk pelecehan terhadap hukum dan negara karena baik aktor dan eksekutornya yang menganggap teror yang mereka lakukan tidak akan bisa dilacak dan diungkap.

“Negara tidak boleh lama-lama membiarkan orang-orang penebar teror seperti ini masih berkeliaran. Negara harus tunjukkan tidak ada tempat bagi mereka di Indonesia. Dalam tempo sesingkat-singkatnya polisi harus ungkap tuntas kasus ini,” katanya. (DM)

Editor: Romandhon

Komentar

To Top