Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur

0
Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin
Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin

Oleh: Hafash Giring Angin*

NUSANTARANEWS.CO – Siapa yang menyangka jika bekas galian batu kapur di wilayah desa Badur Kecamatan Batu Putih menjadi salah satu tujuan objek wisata di kabupaten Sumenep Madura. Kesan eksotis tampak sekali terlihat pada kemegahan batu kapur yang berdiri tegak di tengah-tengah galian dengan pahatan-pahatannya yang menyerupai bangunan Piramida Mesir. Hamparan gunung pada batu dengan pilar-pilar menjulang setinggi 10 meter dan diameter 5 meter ini tidak diketahui asal-usulnya. Keberadaan batu yang berdiri tegak dengan struktur bangunan bernilai artistik tersebut, menjadi pesona tersendiri dan menghasilkan hamparan visual panggung yang mengagumkan.

Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin
Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin

Di bekas galian batu kapur inilah pertunjukan “manusia kapur” ini dipentaskan untuk memotret kenyataan sosial. Pertunjukan teater yang ditampilkan di atas hamparan tanah kapur ini lahir dari sebuah proses kolaborasi berbagai unsur antara teater, tari, musik dan unsur seni rupa. Sebagai produk kolektif, materi-materi dasar yang ada dalam pertunjukan ini merupakan hasil rajutan dari bahan-bahan yang berpijak pada spirit tradisi. Seperti macopat yang ditembangkan oleh Bangun Tapa (48), di awal pertunjukan merupakan bentuk puisi klasik yang digolongkan sebagai puisi tinggi yang ada keterkaitannya dengan nafas teater tradisional itu sendiri.

Tembang macopat yang dilagukan oleh Bangun Tapa merupakan media ungkap yang menonjol untuk menghadirkan sebuah suasana spritual atau suasana magis, dimana tembang macopat ada keterkaitan erat dengan nafas teater tradisional itu sendiri. Tembang macapat ini memiliki kondisi struktur fisik dan struktur batin yang bisa mengaitkan dengan alur dramatik pertunjukan. Dikatakan demikian karena dalam tembang berisi tentang puji-pujian kepada Tuhan Sang Pencipta Semesta. Melalui tembang macapat setiap manusia diketuk untuk lebih mendalami tentang makna hidup; ajakan untuk bersama-sama membenahi kerusakan moral dan mencari hakikat kebenaran sejati.

Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin
Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin

Keberadaan Bangun Tapa (48), sebagai penembang macapat kala itu menjadi bagian penting untuk menghidupkan suasana. Dari ujung tebing ia menembang dan bergerak di atas gundukan batu-batu kapur. Gerakannya semula lambat menelisik pada serpihan debu bata. Tapi ketika musik saronen mars muncul, gerakannya mulai tangkas mengikuti irama musik dengan hentakan-hentakan di kedua kaki dan badannya yang bidang. Musik saronen yang berbentuk kerucut dalam pertunjukan ini dimasukkan sebagai ilustrasi dan pengiring suasana. Instrumen musik ini sangat kompleks dalam penggunaannya yang mampu menghadirkan berbagai suasana dan karakter adegan. Walaupun musik instrumen ini merupakan perpaduan dari beberapa alat musik, namun yang paling dominan adalah liukan-liukan alat tiupnya dan menjadi warna dan ciri khasnya sendiri.

Seni teater tradisional memiliki peran penting pada laju pengembangan budaya kerakyatan. Teater tradisional disamping menjadi bagian dari kultur masyarakat, juga memiliki peran sebagai sarana penyampai informasi, komunikasi,  dan penyebar pesan sosial yang berhubungan dengan adat istiadat. Di Indonesia, banyak sekali daerah-daerah yang memiliki kesenian dalam bentuk teater dengan ciri khas daerahnya masing-masing. Salah satu teater tradisional yang masih aktif sampai saat ini ialah teater tradisonal Arja yang berada di Bali. Bentuk penyajian teater tradisi ini sangat unik, yaitu penyajian dengan tarian dan nyanyian diiringi tetabuhan. Hal ini juga terlihat pada drama (Noh) di Jepang. Atau Teater Cina (Kabuki) yang menampilkan teater dengan kata-kata, nyanyian, dan gerakan-gerakan yang bersumber dari beladiri tradisional. Dalam hal ini syarat utama pemain dalam teater Kabuki adalah pandai menari.

Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin
Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin

Pertunjukan Manusia Kapur ini juga memperlihatkan pemaknaan yang sama dalam beberapa sisi, yang secara total menyajikan tarian, nyanyian dan  tetabuhan dengan penekanan pada alur cerita. Beberapa adegan ditampilkan dalam struktur dramaturgi mengadopsi pertunjukan lakon-lakon sendratari (Jawa) atau pertunjukan topeng dhalang (Madura). Dalam lakon sendratari dan topeng dhalang ini kita bisa melihat antara gerakan dan nyanyian tampil secara bersamaan yang dikendalikan oleh seorang dhalang.

Kolaborasi dari beberapa struktur penyajian ini, menasbihkan bahwa teater dalam konsep ketubuhan adalah aspek penting dalam seni pemeranan. Oleh karena itu gerak harus dibangun secara maksimal. Gerak yang dibangun adalah gerak yang lahir dan berangkat dari titik sukma. Dalam hal ini tubuh memiliki sense, memiliki ruang dan memiliki bahasa untuk mencipta dan mengatakan sesuatu terhadap lingkungannya. Tubuh akan berbicara sesuai dengan kehendak dari dalam tubuh. Tubuh yang terlatih akan mudah mengeksplorasi bagian-bagian penting dalam pentasnya. Sebagaimana yang dikatakan Hanindawan dramawan Solo bahwa “tubuh dan gerak menjadi paralel yang menghidupkan suasana panggung sehingga terciptalah ruang panggung yang mempunyai jiwa”. Dalam hal ini, kesenian itu tidak lahir dari sebuah ruang kosong dan hampa. Kesenian itu hasil sebuah proses yang diciptakan oleh seniman untuk menyampaikan kebenaran; memetakan kembali kebudayaan dan menemukan kembali spirit berkeseniannya.

Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin

Pertunjukan “Manusia Kapur” di Kampung Badur/Ilustrasi Foto: Dok. Hafash Giring Angin

Hafash Giring Angin, Alumnus Fakultas Pertunjukan Jurusan Teater “Seni Urban dan Industri Budaya” di IKJ. Praktisi seni pertunjukan, pengajar di Cantrik Padepokan Seni Bagong Kussudihardjo Yogyakarta.

Komentar