Kesehatan

Penderita TB di Jatim Terbanyak Kedua Se-Indonesia

wagub jatim Saifullah Yusuf di acara jambore Tuberkolosis kader Aisyah di UIN Surabaya/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews
wagub jatim Saifullah Yusuf di acara jambore Tuberkolosis kader Aisyah di UIN Surabaya/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Surabaya – Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf  mengungkapkan bahwa penderita TB (Tubercle Baacillus) yang dahulu lebih dikenal dengan TBC (Tuberculosis) Jawa Timur terbanyak nomor dua setelah Jawa Barat. Hal tersebut dikarenakan, masyarakat Jatim mulai ikut peduli terhadap penyakit menular yang ada di tengah masyarakat sehingga banyak sekali penderita TB yang terdeteksi dan mulai mendapatkan penanganan medis.

“Gambaran tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Pemerintah tidak akan mampu menangani sendiri tanpa bantuan dari masyarakat,” ungkapnya saat menghadiri Jambore Kader TB se-Jatim yang diadakan PW Aisyiyah Provinsi Jatim, di Sport Center UINSA Jl. A. Yani Surabaya, Minggu (26/3/2017).

Menurut Gus Ipul panggilan akrab Wagub Jatim ini, tidak hanya TB, tetapi penyakit kusta di Jatim juga termasuk salah satu penyakit yang terbanyak di Indonesia nomor satu dan nomor tiga di dunia. Demikian pula penyakit katarak. Hal tersebut dapat terjadi karena banyak kader-kader yang terbentuk di tengah masyarakat untuk membantu pemerintah dalam menjaring sekaligus penanganan pengobatannya sampai sembuh.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Dr. dr. Kohar Hari Santoso mengatakan bahwa saat ini di Jawa Timur terdapat penderita TB sebanyak 123.414 orang, dari jumlah tersebut baru 39 persen yang ditemukan dan dari jumlah tersebut sebanyak 89 persen telah mendapatkan pengobatan secara optimal.

“Program pemerintah sebaik apapun tidak akan dapat terlaksana dengan baik tanpa bantuan dari masyarakat,” jelasnya. Masih minimnya penderita TB yang ditemukan menurutnya ada bermacam penyebab diantaranya rumah penderita jauh dan terpencil sehingga tidak mampu berobat secara rutin,   badan tidak kuat untuk pergi ke balai pengobatan karena kurang gizi, penederita masih ragu dengan tenaga medis.

“Dengan birsinergi dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, di tahun 2050 target pemerintah untuk menjadikan Indonesia bebas TB mudah-mudahan dapat tercapai,” ungkapnya peuh harap.

Penulis: Tri Wahyudi

Komentar

To Top