Tadarus Bintang-Bintang Menjelang Lebaran

Nasirun - 1997 - Imaji Bintang Bima Sakti (145x250) Oil Paint on Canvas. Foto: Dokumentasi Edwin's Gallery/ archive.ivaa-online.org

Nasirun - 1997 - Imaji Bintang Bima Sakti (145x250) Oil Paint on Canvas. Foto: Dokumentasi Edwin's Gallery/ archive.ivaa-online.org

Puisi Daviatul Umam

MENYAMBUT RAMADAN

hamdalah meruap di dada usia
masih diperkenankan bersua kita
merenangi samudra keberkahan
cuaca sanubari saat ruh kita berpilin
tidak aku miliki di musim lain
serupa memulangi rahim kampung
penuh renjisan cahaya
dari cengkeraman kota
gerah menggulita

kukecup lagi kening rembulan
dengan dua puluh rakaat kemesraan
kembali kuserap rintik-rintik ayat
suburkan pohonan syariat
kembali berdebur jendela syukur
diguyur rayuan sahur

malam menguning
pagi terkibar bening
menahan lapar-haus ialah
merentang seutas jalan
dititi jelajahi arti kekosongan
sambil belajar menjerat setan
yang kabur dari pembelengguan

genggamlah ini nafsu
jangan lepas sepanjang sinarmu
bilamana lenyap kau dari dekap
langkah tak mudah jebak simpul gelap

Sumenep 2017

PUASAKAN DIRI PUISIKAN HATI

detik-detik kedahagaan merayap
dari kaca kulirik gerimis meletihkan pagi
tak biasanya wajah ramadan kusut begini
memeram dendam ingin bertemu
lebih berat ketimbang menunggu
beduk kemenangan ditabuh

burung dan ayam bertukar salam
mendung alam tak serunyam
kamar dinginku yang padam
berbaring kering layaknya daun
tak bernyawa dipermainkan angin
upaya menghindari jenuh berkepanjangan
walau kutahu akan menjadikan gabah itu
semakin menyetubuh

kupuasakan diriku darimu
puasa berbulan-bulan kesunyian
entah malam apa aku bakal berbuka
sembuhkan dahaga asmara ini
yang saban hari mengiris nadi
tawakal pada yang kekal
merupakan caraku yang bisu
tapi untuk menemuimu apakah harus
menyusun beribu puisi patah hati dahulu?

Sumenep 2017

TARAWIH

kekenyangan menguji
kelesuan melumuti batu nurani
menuju belaianmu
lorong sempit suram berliku
tetap kami berangkat
menafsir hayat pada tiap rakaat

tirai-tirai langit tersibak
seribu bulan ranum semerbak

di atas sajadah rahman-rahimmu
kami nyalakan sendi malam
setelah isya pamit tenggelam
takbir mendedah tabir
rukuk dan sujud mengalir
mencari ridamu tanpa hilir

tinggi-rendah gerak kami
mengukur jarak rohani

sepuluh salam ini seperti
sebuah tanjakan berkelok-kelok
penat didaki
mengejar ganjar di puncak
sebulan sebelum bunga pencapaian
menari dari kelopak

Sumenep 2017

DAPUR DALAM SAHUR

sepertiga malam betapa sulit
bangkit dari kabut mimpi yang erat melilit
ibu-bapak bergantian memanggil sukmaku
yang berkeliaran di langit-langit
aku terjaga
namun kantuk tidak sempurna pecah

angin merangkul kegaduhan
dari masjid
dingin membuih di bebulu kulit
aku berkumur
menyemburkan iblis dari bau mulut
basuh tangan
bunuh kuman nan nyenyak dalam ingatan

ke dapur yang hangat asih ibu
bercangkung berlantai tanah haru
di muka hidangan yang siap disantap
menikmatinya sesuap demi sesuap
sebelum akhirnya suara-suara kubungkam
dan godaan subuh nyaris jadi penyesalan

Sumenep 2017

TADARUS BINTANG-BINTANG

bintang menembang bergiliran
melengking
satu penjuru ke penjuru lain
retaklah kegelapan
leburlah keresahan

ayat-ayat rindu tercumbu
berdebam jantung angkasa
waqaf ke muqra’
muqra’ pada juz
hujani sebidang jiwa nan tandus

enggan rasanya dikau disentuh
selain di bulan maha teduh
hari-hari kemarin
hanya terbaca debu
senasib kembang kuyu

berkah bulan kelahiranmu ini
yang kuncup mekar lagi
yang redup berbinar lagi
kobarlah asma tuhan
bersaing mengagungkan

Sumenep 2017

MENJELANG LEBARAN

peperangan hampir menang
sebentar lagi sejuk pelukmu kutanggalkan
sebentar lagi merdu lagu muliamu
pengantar kantukku tak kan kudengar
kenangan bakal riuh menggelombang
impian kembali panjang tualang

aku pergi untuk mencarimu lagi
hingga rindu kita berhenti tuhan restui
tapi aku ingin tuntaskan napas di ribaanmu
biar sempurna perjuangan cintaku

peperangan hampir menang
meski tak begitu pantas untuk kurayakan

Sumenep 2017

Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa ini merupakan mantan Ketua Umum Sanggar Andalas, sekaligus aktivis beberapa komunitas teater dan sastra lainnya. Sebagian karyanya dipublikasikan di sejumlah buku antologi bersama serta media cetak dan online. Sesekali juga dinobatkan sebagai pemenang atau nominasi di antara sekian lomba cipta puisi, lokal maupun nasional. Berdomisili di Poteran Talango Sumenep-Madura. Email: petanipuisi@gmail.com

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Exit mobile version