Sembako Berjung Maut, MUI Sarankan Polisi Panggil Dulu Saksi, Baru Konferensi Press

Bagi Bagi Sembako Berjung Maut di Monas (Foto via Edunews)
Bagi Bagi Sembako Berjung Maut di Monas (Foto via Edunews)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Bagi-bagi sembako berujung maut yang digelar Forum Untukmu Indonesia (FUI) di Monas, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 28 April 2018 masih menyisakan duka mendalam. Komariah alias Kokom (49) ibu dari Muhammad Rizki Syahputra (10) korban meninggal, menceritakan penuh getir, bagaimana tak ada seorang pun yang peduli membantu saat putra bungsunya terinjak-injak kerumunan massa antrean.

Dirinya sudah mencoba meminta pertolongan, namun dari pihak penyelenggara maupun orang-orang ada di sekitar, lanjut Kokom tak ada yang memberikan bantuan. Beruntung ada dua anggota TNI yang mau menolong putranya dengan membawa ke posko kesehatan. Namun setibanya di sana, peralatan medis tak mendukung. Akhirnya putranya pun dilarikan ke RSUD Tarakan, Jakarta Pusat untuk dirujuk. Namun, nyawa Rizki tak tertolong setelah menjalani perawatan.

Peristiwa naas ini kemudian mengundang banyak simpati masyarakat. Bahkan aksi dua anggota TNI saat memberikan pertolongan kepada Komariah bersama putranya tak luput dari perhatian publik. Wasekjen Pimpinan MUI, KH. Tengku Zulkarnain misalnya dalam unggahannya di twitter mengaku bangga dua anggota TNI yang menolong Ibu Kokom.

“Bergetar hati ini saat mendengar penuturan Ibu Komariah hanya 2 Anggota TNI yang peduli membantu Almarhum Rizki. Kemudian satu anggota TNI pakai motor bergabung membantu. Walau akhirnya Rizki Wafat, tapi kalian bertiga dapat pahala besar dari Allah. Bravo TNI, Love You!” tulis KH. Tengku Zulkarnain dengan akun @ustadtengkuzul.

Meski demikian, dirinya mengaku sangat menyayangkan ketika saat kejadian, tak ada panitia dan massa yang mau membantu Ibu Kokom, kecuali 2 Anggota TNI. “Salam Hormat kami buat anggota TNI. Semoga keluarga ditabahkan Allah. Usut!”

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Selasa, 1 Mei 2018, menepis meninggalnya Rizki Syahputra bukan karena antre sembako, melainkan dehidrasi. “Kita dapat laporan ada seorang laki-laki pingsan di luar Monas. Jadi penyebab meninggalnya bukan karena antre sembako,” ujarnya. Ia menambahkan, “Satpol PP membawa anak berusia 13 tahun ke RS Tarakan pakai ambulans. Setelah dicek di RS Tarakan masih hidup, kemudian beberapa menit kemudian korban meninggal dunia dikarenakan suhu badan yang tinggi dan kekurangan cairan atau dehidrasi,” sambung Kombes Pol Raden Argo Yuwono.

Namun, pernyataan polisi ini seakan terbantahkan semua, ketika Kokom (ibu korban) memberikan pengakuan saat saat diwawancarai secara live iNews. Menanggapi hal itu, Tengku Zulkarnain mengingatkan dan menyarankan kepada pihak kepolisian untuk mengusutnya secara bijak dan profesional peristiwa naas bagi-bagi sembako di Monas bebera waktu lalu.

“Polisi semestinya panggil Ibu Komariyah saksi hidup dan 2 Anggota TNI serta RS-nya. Ujug-ujug BANTAH?”

“Polisi mesti bertindak profesional. Panggil dulu saksi saksi (Ibu dan 2 Anggota TNI serta Petugas Medis di RS). Proses verbal, baru konperensi press. Jangan sampai ucapan kepolisian bertolak belakang dengan ucapan saksi-saksi dan Ibu sang Korban. Ini Saran Saya. Polisi itu profesional,” tulisnya.

Pewarta: Alya Karen
Editor: Romandhon

Exit mobile version