Sebelum Pedamaian Aceh Takut Pakai Seragam PNS

 Sebelum Pedamaian Aceh Takut Pakai Seragam PNS
Sebelum Pedamaian Aceh Takut Pakai Seragam PNS/Foto: Chairul Bariah, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI).
Pada tahun 2004 tepatnya 26 Desember, tanah Aceh mengalami bencana Tsunami. Banyak Masyarakat yang meninggal, menjadi janda, duda, banyak pula yang menjadi yatim piatu. Banyak yang kehilangan tempat tinggal, fasilitas hancur porak poranda karena Tsunami.
Oleh: Chairul Bariah

 

Di balik musibah besar ini ada hikmah yang menjadikan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan damai.  Sebelum satu tahun Tsunami Aceh pada tanggal 15 Agustus 2005 ditandatanganinya perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Perdamaian ini ditempuh karena semua pihak yakin Aceh dapat dibangun kembali pasca Tsunami dengan perdamaian. Masyarakat Aceh yang sudah bertahun-tahun hidup dalam suasana konflik sangat bahagia dengan perjanjian ini.

Kenangan yang saya alami dimasa konflik tak akan pernah saya lupakan. Pada  tahun 1998 saya melahirkan anak pertama, saat itu di Jakarta  sedang berlangsung demo mahasiswa, menuntut  reformasi, hal ini juga berpengaruh di daerah. Masa konflik, saya pernah bersembunyi dan tiarap di bawah tempat tidur  bersama anak saya  karena suara peluru berdesing di atas atap rumah,  itu pertanda sedang terjadi baku tembak,  kebetulan rumah kami di pinggir jalan Banda Aceh Medan tepatnya di desa Pante Gajah Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen.

Pernah juga kami tiarap di lantai kantor karena ada bom yang meledak di markas koramil Peusangan yang berbatasan langsung dengan kampus Universitas Almuslim. Semua karyawan perempuan tidak dibenarkan keluar dari ruangan sementara yang laki-laki harus berbaris di halaman kampus dekat tiang bendera, rata-rata mereka mendapat sanksi.

Kenangan lainnya saat saya lulus PNS dan bekerja di kantor bupati Bireuen, saat pergi kerja dari rumah memakai baju biasa, kemudian sampai di kantor menggantinya dengan seragam PNS. Masa itu PNS banyak yang diteror, tak ada yang berani mengatakan dirinya PNS.

Saya ingat waktu itu menjelang Peringatan HUT Kemerdekaan 17 Agustus, rasa takut yang teramat dalam membuat saya dan keluarga mengungsi jauh dari tempat tinggal. Setiap rumah wajib menaikan Bendera Merah Putih, disatu sisi kami juga takut di ancam. Setiap hari kami berdoa menenangkan jiwa semoga segalanya akan berakhir.

Alhamdulillah doa-doa masyarakat Aceh terkabulkan dengan adanya perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan GAM di Helsinki Filandia 15 Agustus 2005, pasca Tsunami. Turut serta waktu itu sebagai anggota juru runding GAM adalah Bapak Nurdin Abdul Rahman, yang meninggal dunia pada 8 Juni 2020, beliau juga merupakan dosen senior Universitas Almuslim Bireuen, putra terbaik Aceh.

Gencarnya pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami, untuk mengejar ketertinggalan,   banyak pihak yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri turut membantu secara langsung membangun fasilitas yang diperlukan oleh masyarakat terutama rumah penduduk, sekolah, tempat ibadah dan fasilitas lainnya. Ada juga yang menyumbangkan dana.

Kehidupan masyarakat Aceh perlahan pulih kembali. Akhirnya  masyarakat Aceh dapat  menikmati kehidupan yang layak, beraktivitas aman dan nyaman dan hilang sudah rasa takut, sayapun dengan  dapat memakai seragam PNS kembali.

Kenangan lainhya pada tahun 2007 saya dan teman-teman dari Universitas Almuslim mengikuti pelatihan di Universitas Indonesia Jakarta. Suatu malam saya dan teman sekamar sedang membahas materi pelatihan untuk esok harinya, tiba-tiba kami mendengar suara seperti tembakan senjata, spontan kami lemas dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Anehnya setelah suara itu hilang ada sekelompok orang yang tertawa, kamipun penasaran apa yang sedang terjadi, perlahan kami keluar dari tempat persembunyian dan menyibak tirai jendela, alangkah malunya ternyata suara itu adalah kembang api acara perpisahan orientasi mahasiswa baru. Kami tertawa geli, trauma masa konflik Aceh terbawa sampai ke Jakarta. Kini Aceh telah damai, masyarakatpun bahagia, sungguh indah perdamaian.[[]

*Penulis: Chairul Bariah, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), Dosen Fakutas Ekonomi Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen. chairulb06@gmail.com
Exit mobile version