Rusia dan China Bela Korea Utara

Presiden Rusia, Vladimir Putin. (Foto: Máthé Zoltán/Mom.hu)

Presiden Rusia, Vladimir Putin. (Foto: Máthé Zoltán/Mom.hu)

NUSANTARANEWS.CO – Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Korea Utara tidak akan pernah membekukan program persenjataannya karena mereka menganggapnya sebagai satu-satunya alat untuk mempertahankan diri.

Berbicara pada Kamis (7/9), Putin mengatakan pemerintahan Donald Trump telah mengindikasikan akan meredakan ketegangan mengenai Korea Utara menyusul program senjata nuklir yang terus dipamerkan Kim Jong-un.

Putin juga mengomentari permintaan Washington yang akan mengembargo minyak terhadap Pyongyang dan membekukan aset milik pemimpinnya Kim Jong-un yang ada di luar negeri sebagai sebuah upaya dramatis untuk mengakhiri program nuklir berbahaya Korea Utara.

Namun Putin mengingatkan bahwa opsi militer dalam menghadapi krisis Korea Utara itu kontraproduktif. Bagi Pyongyang, kata dia, menghentikan program nuklir dan misilnya sama saja dengan bunuh diri bagi mereka.

“Tidak mungkin menakut-nakuti mereka. Kami mengatakan kepada mereka bahwa kami tidak akan menjatuhkan sanksi, yang berarti mereka akan hidup lebih baik, punya makanan enak di atas meja, berpakaian lebih baik,” ujar Putin.

Tak hanya AS, Uni Eropa juga tengah mempersiapkan langkah untuk meningkatkan sanksi terhadap Korea Utara. Kepala Diplomatik Uni Eropa, seperti dikutip Daily Mail, mengatakan bahwa langkah tersebut adalah bagian dari upaya internasional untuk menghukum Korea Utara karena terakhir Pyongyang melakukan uji coba nuklirnya (bom hidrogen).

“Saya akan mengirim seorang menteri untuk bekerja dalam beberapa hari mendatang guna meningkatkan sanksi dari Uni Eropa,” kata Federica Mogherini, Menteri Urusan Luar Negeri Italia.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mendesak masyarakat internasional untuk bersatu menerapkan tekanan paling berat kepada Korea Utara.

“Korea Utara meningkatkan tantangan terbuka terhadap perdamaian, kemakmuran, hukum dan ketertiban kawasan dan seluruh dunia,” kata Shinzo.

Pun Korea Selatan juga sama, menghendaki adanya embargo minyak ke Pyongyang. Rusia dan China adalah dua negara yang menolak usulan soal embargo ini. China beranggap, tindakan tersebut dapat memicu ketidakstabilan dan eksodus pengungsi ke perbatasannya.

Pada Rabu (6/9) Pyongyang menjadi tuan rumah dalam sebuah perayaan besar bagi para ilmuwan yang terlibat dalam program nuklir. Mereka berpesta dan menyalakan kembang api. Warga ibukota berjejer di jalan-jalan sambil melambaikan bendera kecil berwarna merah muda dan ungu sambil meneriakkan yel-yel penyemangat untuk sebuah konvoi bus yang membawa para spesialis nuklir ke kota di tengah perjalanan menuju Lapangan Kim Il Sung. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Exit mobile version