Puisi Urban III- Puisi Gracia Asriningsih

spY: Madrid, Spain. Foto: Dok. matadornetwork.com

11.

Pintu gerbong kereta menutup sore

Tubuhku menjadi anonim

Diantara pemadat kota siang hari

tak berjarak

 

berhimpit dalam pengap

berdesak dalam uap keringat

bersesak dalam debu padat

 

Gesekan keintiman pun sirna

Dalam perebutan setarik nafas

 

Masing-masing jiwa

Sedang menanam mimpi buruk

Yang bisa menumbuhkan duri

Dari kulit mereka

 

12.

Transaksi pernikahan terjadi antara perawan dan hypermetropolitan

 

Ia menukar kepolosannya dengan kekacauan

Bersenggama dengan bangku taman yang jenuh

Mencium tikungan tempat matanya terurai

Meneriaki air menyembur di jalan melingkar

Memandang patung kuda berangkat perang

 

Ia memberikan dirinya dua puluh empat jam

Menghapus masa lalu

Menguburnya dalam gedung pencakar magma

Sebuah gedung yang dibangun terbalik ke dalam tanah

 

Kota yang cemburu

Menutup langit dengan asap

 

Bekas perawan itu terpenjara

Diantara lava membatu di hatinya

Dan menyebut dirinya

bahagia

 

13.

Perempuan renta  berjalan mencari panti wreda

Sepanjang usia lansia

Untuk mengisi teka teki silang

Saling merajutkan kaus kaki

Dan mentertawakan gigi yang tanggal

atau berteduh saja

Ketika gerimis jatuh tepat di airmatanya

 

Ia telah bertanya ke semua instansi

Di kota ini

Tidak ada panti wreda

Karena semua orang telah mati mud

 

14.

Kota ini telah membangun legendanya

Sebagai kota yang tak pernah minta maaf

 

Pertama,

Ia tidak pernah mengakui kesalahannya

Bahwa ia dibangun

Bukan untuk manusia atau kucing

Melainkan untuk robot

 

Kedua,

Kata maaf memang tidak lagi ada

Dalam perbendaharaan kata miliknya

Semenjak maaf

Dijadikan nama perusahaan asuransi

 

Lalu akhirnya

Manusia kota itu

Berhenti melahirkan dirinya sendiri

 

15.

Tiap jendela dalam apartemen

Menyimpan teaternya

Dengan tirai yang tak pernah terbuka

Mereka memilih bermain

Dalam kegelapan

Sampai tubuh berubah

Menjadi dekorasi panggung

Terbunuh sebelum menua

 

Gracia Asriningsih. Foto: Dok. Satu Harapan

Gracia Asriningsih, lahir di Jogjakarta,  lulusan jurusan Sastra Prancis, Fakultas Sastra 1994, UGM dan   Master Desentralisasi dari Universitas Paris 8 (2004) Prancis.  Kini  bekerja sebagai penulis lepas dan penerjemah.  Telah menerbitkan 2 novel ‘Place Monge’ dan ‘Sesiang Terakhir’ serta 1 kumpulan puisi Bilingual ‘hampir aku tetapi bukan.’ Tahun 2012, ia menjadi penyair keliling dalam Festival Pernyair International Indonesia. Editor buku Menolak Hukuman Mati, Perspektif Intelektual Muda (2015).

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Exit mobile version