Puisi Romzul Falah: Surat-surat untuk Daksayini

puisi romzul falah, romzul falah, surat-surat, untuk daksayini, puisi cinta, kumpulan puisi, nusantaranews
ILUSTRASI – Surat Cinta. (Foto: Dpchallenge)

Puisi Romzul Falah: Surat-surat untuk Daksayini

 

/Surat Pertama/

siapa pemilik matamu sebelum surat ini sampai
pada alamat menuju tempat aku dilahirkan
sebagai keraguan?

buku-buku, kalimat-kalimat diam yang menjamak
sebelum engkau benar-benar menuangkan kelelahan,
di atas meja, di bawah lampu neon, di antara rak buku
telah aku paripurnakan surat pertama.

semoga surat ini engkau baca
selepas tak ada lagi hitungan waktu di perpustakaan

bukankah aku terlalu pandai memandangi matamu?
mengelabui banyak lirikan yang begitu berbahaya
secepat bacaanmu pada paragraf dalam buku
selengkap gemetar bibirmu pada surat sunyi ini

akan aku tuliskan surat-surat
perihal lain dari mata yang entah milik siapa.

Sumenep, 2019
/Surat Kedua/

aku dapati selembar kertas sedang sendiri
di kursi tempat orang-orang tawarkan ketenangan
pada mata, pada kaki di taman

bersampul sedikit coklat di pojoknya, serta bekas jari
menyertai. romantis sekali.
ada tulisan kekasih di sana,
di antara pencarianku atas alamat atau tanggal,
atau nama, atau apa saja sebagai saksi kata-kata.

dada yang tenang, yang sesak, gemetar,
lalu pecah sebagai sepi yang tak disengaja.

adalah surat yang di tinggal atau tertinggal,
atau menjatuhkan diri,
itu penawar yang diracik atas kesalahan
hingga sakit betah melebihi saat darah dihidangkan
sebagai jamuan tamu-tamu malam.

bertuliskan namamu-nama lelaki,
yang jelas bukan aku. Jawaban atas pilihan ganda
perihal matamu milik siapa,
milikku, atau lelaki selain penulis surat ini.

Sumenep, 2019

/Surat Ketiga/

tidak mesti aku bakar surat-surat ini
amsal hujan dan gelombang atau pun badai
mereka akan reda dan tenang dengan sendirinya
begitu pula dada ini

berkisar antara matahari terbit dan angin dilepaskan
buru-buru kuurungkan surat yang kutitip
pada matahari sebelum gelap
barangkali tepat sebelum engkau terima surat itu

terkecuali suara yang kudendangkan setiap malam,
setiap pagi, setiap menjelang kopi kusedu,
tidak selekang mata dan wajamu yang bersih.
suaramu tentunya.

pada pemilik mata yang bukan dekapanku
surat-surat ini siasat engkau abadi

Sumenep, 2019

 

Romzul Falah, lahir di Madura, 2000. Merupakan alumni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Terate Pandian Sumenep. Sekarang tercatat sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Wiraraja Sumenep. Bergiat di Pabengkon Sastra Batuputih, UKM Sanggar Cemara, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UNIJA Sumenep.

Exit mobile version