Para Penyinyir, Penjilat dan Pencela – Puisi Pilihan Riepe

Para Penyiyir dan Penjilat. (ILUSTRASI: NUSANTARANEWS.CO)

Para Penyiyir dan Penjilat. (ILUSTRASI: NUSANTARANEWS.CO)

Para Penyinyir

lidahlidah terjulur panjang dari mulutmulut busuk
menganga penuh ulatulat cacing belatung
menetes liurliur darah nanah;
kental amis lengket menjijikan
mulutmulut menyemburkan katakata
tajam menusuk jantungjantung
membuat lukaluka seperih dendam
terpendam dalam hatihati lara

kepalakepala tak lagi mampu memilah
katakata yang terserak di hampahampa udara
berhamburan tanpa makna
menghujan membasuh tanahtanah
tempat jiwajiwa kerontang memijak
menghirup napasnapas membara
membakar darahdarah mendidih

lidahlidah racun penebar bisa
meluluhlantak tiraitirai nurani
menyerang benteng akalakal sehat
mengacau tatanan jiwajiwa mulia

tahukah engkau?
saat tiba gergajigergaji suci
merobek mulutmulut bangkaimu
memotong cabangcabang lidahmu
membuang katakata dari sudut gelapmu
membiarkan, tangan dan kaki yang akan bicara
kau tak bisa lagi mencari alibi!

(Pangandaran, 2018)

Para Penjilat

liur menetes bergalongalon, dihisapnya lagi
sebagai penghapus dahaga
meski tlah jatuh ke tanah becek
bercampur darah debu kotoran
tapi tak peduli

terus saja lidah menjulur
menyusuri tapaktapak sang majikan
dijilatinya seluruh tubuh
berpeluh keringat, berpadu
bau dan rasa
juga borokborok
tapi tak peduli

asal tuan senang, bisiknya

lidahnya adalah nyawa,
tombak berracun
menghamburkan katakata
membius
merobek, membunuh
akalakal sejati
melambungkan
segala puja puji
membuai harap dan imaji

tapi kosong!
Asal tuan senang, bisiknya

dan, lidahnya adalah sihir
menyembur mantra, membuta jiwa
lalu, membelit tubuhnya sendiri!

(Pangandaran, 2018)

Para Pencela

bukan kesturi tercium dari mulutmu, melainkan
bangkai busuk, dan
jarumjarum tajam menusuk jantungjantung
bukan pualam berkilau di dadamu, tapi
panas api, dan
pisaupisau berkarat memotong hatihati

katakatamu adalah racun
membunuh jiwajiwa suci mulia,
tunastunas mimpi, yang
mengecambah di tepian asa
memaksa layu, lau kering, lalu mati
jatuh tersungkur
di ujung lidahlidah keji
basah dihujani liurliur kentalmu

dengannya kau tergelak
di atas perih, lukaluka yang kau cela
dada membusung, membesar kepala
mata memicing, memandang hina
pada setiap mereka,
tak pernah ada putih!
selalu bernoda

jumawa!
tidakkah kau peluk sebuah niscaya,
semua kan kembali!
membelenggu darah dan nadi
melemparmu pada nadir
kehampaan

(Pangandaran, 2018)

Riepe. Lahir pada 30 Oktober. Mengaku telah menyukai dunia menulis sejak SMA, tapi selalu kesulitan membuat paragraf pertama. Novel pertamanya berjudul ‘Rumah Sharing’ (Nuansa Aulia, 2008). Beberapa cerpennya pernah dimuat di media, dan menjadi headline di Kompasiana. Tinggal di Pangandaran. Email: birhacorp@yahoo.com

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Exit mobile version