Kebangkitan Nasional, Pergerakan Radikal dan Kepemimpinan Aktivis?

Lukisan Yakub Kelana (Nampak muda-mudi Indonesia menuju lambang Garuda Pancasila). Ilustrasi: NusantaraNews.co
Lukisan Yakub Kelana (Nampak muda-mudi Indonesia menuju lambang Garuda Pancasila). Ilustrasi: NusantaraNews.co

NUSANTARANEWS.CO – Tanggal 20 Mei kita peringati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Peringatan itu tidak terlepas dari peran organisasi yang bernama Boedi Oetomo, munculnya pergerakan nasional, 1908 muncul akibat politik etis yang awalnya dari kelompok-kelompok studi kritis yang mana para terpelajar mendiskusikan keadaan negeri yang masih terjajah.

Kelompok terdidik ini melahirkan organisasi seperti Boedi Oetomo, National Indies Partij dan lain-lain. Organisasi-organisasi yang awalnya bergerak dalam bidang sosial semata, menyebarkan pendidikan, Namun lama kelamaan gerakan ini berubah menjadi gerakan politik, menyebarkan nasionalisme melawan penjajah. Kebangkitan perlawanan radikal tersebut kemudian diikuti dengan mulai bermunculan partai-partai politik seperti Indische Partij (Partai Hindia), Partai Rakyat Hindia Belanda, Perserikatan Komunis India, Partai Nasionalis Indonesia dan lain-lain. Semuanya jelas merupakan gerakan politik, menginginkan Indonesia merdeka, terlepas dari cengkraman kolonialisme Belanda.

Kebangkitan Nasional lahir melalui proses radikalisasi pergerakan nasional Setelah kemunculan dari Budi Utomo dan Sarekat Islam, pergerakan Nasional Indonesia masuk pada masa radikal atau masa di mana organiasi tidak lagi bergantung atau berhubungan dengan penjajah tetapi organisasi nonkooperatif seperti munculnya IP atau Indische Partij pada tahun 1912 oleh Tiga Serangkai, IP merupakan organisasi radikal pertama di Indonesia yang bertujuan untuk Kemerdekaan Indonesia.

Gerakan radikalisasi dari Budi Utomo merupakan barometer bagi derajat konservatisme dan dan sifat reaksioner penjajah, menjelang pembentukan Dewan Rakyat,dan Budi Utomo juga tergabung pada Radicale Concentratie (RC) bersama sama dengan SI, ISDV dan Insulinde pada 16 November 1918. Tuntutan RC ialah pembentukan pemerintahan parlementer dengan pemerintahan yang bertanggung jawab pada parlemen dan parlemen di beri kekuasaan legislatif dan di pilih oleh rakyat.

Pada tahun 1915 murid-murid STOVIA memulai gerakan dengan mendirikan Trikoro Dharmo pada tahun 1915, selain itu berbagai Organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatrenan Bond, Jong Ambon, Jong Celebes dan lain-lain. Terbentuknya Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922 di Belanda, kegiatan semula diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik. Dan untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia, tahun 1925.

Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain, seperti: Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam ,dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxis, dll menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik

Pergerakan Nasional juga di inisiasi kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo dan Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925. Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an. Baru dengan prakarsa Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), beberapa organisasi kedaerahan dilebur menjadi Indonesia Muda (IM) tahun 1930.

Namun pergerakan tersebut juga harus melewati masa-masa sulit yang ditandai dengan kelumpuhan pergerakan nasional akibat pemerintahan kolonial yang semakin represif, setelah pemberontakan PKI 1926 dan 1927 serta pemogokan-pemogokan buruh.

Manifesto Politik Persatuan Indonesia (PI) di Belanda tahun 1925 adalah penegasan pertama dari sikap bersama kaum nasionalis vis a vis rezim kolonial. Pergerakan yang bersifat Lokal, kedaerahan, keagamaan dst Itu kemudian menjadi dengan Sumpah Pemuda I pada 1926 dan Sumpah Pemuda II pada 1928, yangmana pada akhirnya yang mereka perjuangkan tentu bukan sekedar kemerdekaan itu sendiri, melainkan suatu cetak biru (blue-print) Indonesia Merdeka. Cetak biru Indonesia Merdeka suatu kompas, pedoman, untuk mencapai tujuan tertinggi terletak dalam Pembukaan UD 1945, termasuk di dalamnya rumusan Pancasila. Isinya antara lain ialah:

– Terbentuknya pemerintahan yang melindungi segenap anak-bangsa
– Menyejahterakan rakyat (negara kesejahteraan);
– Mencerdaskan kehidupan bangsa dan bukan membodohinya.
– Ikut berperan serta dan setara dalam kancah internasional.

Itulah produk pemikiran terbaik dari para pendiri bangsa ini yang tak lain dan tak bukan adalah buah karya para pemuda dan para aktivis atau kaum terdidik.

Sekarang ini makna radikal telah mengalami degradasi makna yangmana kata radikal dalam KBBI mendefinisikan “1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip); 2 amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak.” Walaupun kita ketahui mempunyai makna yang berbeda dengan radikalisme, KBKI mendefinisikannya sebagai: “1paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2 paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dalam aliran politik.”

Kata radikal telah disejajarkan dengan fundamentalisme, ekstrimisme yang mana itu fundamentalisme, ekstrimisme adalah kata yang digulirkan penjajah pada bumi putera yang memang mempunyai gerakan radikal kepada penjajah, bahkan pendiri bangsa ini, Bung Karno dalam penyadaran bewust rakyat di dalam Mentjapai Indonesia Merdeka mengatakan kita pun harus menggerakkan rakyat jelata di dalam suatu pergerakan radikal yang bergelombangan seperti banjir, menjelmakan pergerakan massa yang tadinya onbewust dan hanya raba-raba itu menjadi suatu pergerakan massa yang bewust dan radikal, yakni massa aksi yang sadar akan jalan dan maksud-maksudnya

Bahkan tanpa pergerakan radikal mungkin tidak akan bergulir gerakan reformasi yang pada bulan Mei ini adalah puncak dan peringatannya, yangmana kita telah melewati rezim ordebaru yang otoriter dan tirani, dimana kebebasan berpendapat kita masih dipasung, kebebasan pers dibatasi, penegakan hukum tumbuh keatas dan tajam kebawah, tidak ada perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) dan KKN merajalela.

Atas hal tersebut sudah barang tentu reformasi yang telah bergulir hampir 20 Tahun lamanya ini akan menghasilkan kepemimpinan aktivis hasil tempaan dari proses pergerakan dari tahun ke tahun hingga bergulirnya reformasi itu sendiri, di mana kepemimpinan aktivis tersebut telah menjadi pemimpin suatu ormas, partai sebagai wadah perjuangan politik dari buah reformasi itu bukan justru menghamba atau ikut pada yang dilawannya bila ini terjadi akan ada paradoks gerakan, tentunya sekarang adalah generasi Y dan Z, yang tidak punya beban masa lalu akan berpandangan jauh kedepan menghadapi era digital yang serba kompetitif.

Akhir kata dihari kebangkitan nasional ini semoga membawa spirit persatuan, toleransi yang makin besar antar warga bangsa, dan semakin radikal dalam melawan kemiskinan, pengangguran, kebodohan dan ketimpangan.

Merdeka!

Penulis: Cahyo Gani Saputro, Wasekjen DPN Keluarga Besar Marhaenis (KBM)

Exit mobile version