Kata Menteri Rini: Garuda Indonesia Masih Biang Kerugian BUMN

Garuda Maintenance Facility AeroAsia/Foto: retailnews.asia

Garuda Maintenance Facility AeroAsia/Foto: retailnews.asia

NUSANTARANEWS.CO – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno memprediksi bahwa hingga akhir tahun hanya akan tersisa sekitar 13 BUMN yang akan mengalami kerugian dari 143 perusahaan. Tahun depan, tidak boleh ada yang rugi,” kata Rini di Balige, Sumatera Utara, Jumat (22/12/2017).

Rini menjelaskan bahwa sejak 2013 lalu jumlah BUMN yang merugi terus berkurang. Pada tahun 2013 total kerugian mencapai Rp 13 Trilyun dari 23 perusahaan. Untuk tahun ini prediksi kerugian sebanyak Rp 4 Trilyun dari 13 perusahaan.

Tahun ini, menurut Rini, kerugian terbesar masih di pegang oleh Garuda Indonesia dan Krakatau Steel. Keduanya terus mengalami kerugian karena tidak mampu bersaing. Krakatau Steel tidak mampu bersaing menghadapi dumping dari Cina dan Korea. Sementara Garuda Indonesia tidak mampu bersaing harga dengan maskapai lainnya yang menawarkan harga lebih murah.

Terkait dengan itu, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius K Ro mengatakan bahwa Kementerian BUMN tidak akan merubah kebijakan untuk mendorong anak usaha BUMN menggalang dana melalui penawaran saham perdana. Rencananya, ada 12 anak BUMN segera mencatatkan saham pada tahun depan.

Sepanjang tahun ini sudah ada tiga anak usaha BUMN masuk ke lantai Bursa melalui IPO. Ketiga perusahaan itu adalah PT Jasa Armada Indonesia Tbk (Anak usaha Pelindo II), PT PP Presisi Tbk. (PPRE) dan PT Garuda Maintenance Facility Tbk (GMFI).

Untuk Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) berencana membentuk perusahaan patungan (JV) bersama AFI KLM E&M dan Mitsui & Co Ltd guna membangun dan mengelola fasilitas maintenance repair overhaul (MRO) pesawat di kawasan Bandara Hang Nadim, Batam.

Pembangunan fasilitas MRO di Batam ditargetkan mulai tahun depan dan selesai pada 2019 dengan nilai investasi sebesar US$ 50 juta. GMFI telah menyiapkan anggaran segar sebesar US$ 19 juta, sedangkan sisanya sekitar US$ 31 juta dibagi dua dengan mitranya.

Dengan demikian Investor strategis akan masuk memegang 20-25% saham Garuda Maintenance GMFI, di mana 10% merupakan saham baru dan 10-15% lainnya merupakan saham milik induk perusahaan, yaitu Garuda Indonesia Tbk (GIAA). (Banyu)

 

 

Exit mobile version