Dermaga Persaksian Berperang Melawan Arus Gelombang Lautmu

puisi, kumpulan puisi, puisi indonesia, penyair indonesia, nusantaranews, dermaga persaksian, arus gelombang, gelombang lautmu, nusantaranews, nur iskandar
Dermaga Persaksian Berperang Melawan Arus Gelombang Lautmu. (Foto: Ilustrasi/victorynews.id)

Dermaga Persaksian Berperang Melawan Arus Gelombang Lautmu

 

Dermaga Persaksian

Salam rindu firda
Ternyata kau masih ingat
Tentangku yang begitu durja
semula kau campakkan dengan gelombang lautmu
begitu deras menghantam cadas bebatuan

aku masih tetap berdiri memandangi riak badaimu
yang menari-nari di atas penderitaanku
aku masih tetap sabar menanti kasihmu
dan menunggu rindumu memanggil-manggil bibir pantaiku

dengan kepak sayap doa-doa yang tak henti-henti kurapalkan
pada sang Ilahi Robbi
ternyata benar, purnama pun memancar
pada cakrawala di singgasana penantianku selama ini

sinar yang semula mulai meredup kau coba hidupkan lagi
saatku sudah pasrah pada kenyataan
dan dalam ketakberdayaan pada takdir Tuhan
ku kira kau sudah lupa dengan perjanjian kita untuk memutus tali cinta kita
namun ternyata kau masih mencoba menyambungnya lagi

kuharap rasa itu masih tetap sama dan tiada beda

Base Camp Takmir, 2019

 

Berperang Melawan Arus Gelombang Lautmu

Gelombang dan ombak
Masih tak begitu riuh sayang
Yang riuh adalah perjalananku
Mencintaimu yang kau akhiri dengan kepedihan

Ku coba berlayar di lautan cintamu
Yang penuh dengan ombak berhias indah berwarna biru
Namu tak berhasil melewatinya
Sebab kau menenggelamku bersama gelombangmu

Hingga membuatku terkapar ke tepi pantai
Lagi dan berkali-kali

Matanair, 2019

 

Semenjak Kepergianmu

Semenjak kepergianmu
Dan kau tinggalkan benih-benih perih
Yang tumbuh perlahan di dadaku
Lalu memekar hingga ku rapuh

Sungguh tak ku sangka
Kau sekejam itu padaku
Dua tahun lamanya aku menunggu
Ternyata kau menghianati janji kita yang berikrar tuk selalu setia

Annuqayah, 2019

 

Keindahan Matamu

Aku sangat suka
Membayangkan menjadi matamu
Mengetahui apa saja yang kau ingin
Dan yang tak ingin kau lihat

Belajar bagaimana caramu memandang sesuatu
Serta mengetahui apa saja warna yang kau sukai
Kuingin memahami bagaimana rasanya menjadi matamu
Mengerti yang kau rasakan disaat menatapku penuh kehangatan

Raas, 2019

 

Peluklah Aku Dengan Ketabahanmu

Aku masih bersedia, sayang
Menyediakan hati ini tuk mencintaimu, selalu
Tetaplah menetap di sampingku
Sebab, hidupku akan lebih baik
Jika bersanding denganmu

Menatap matamu sudah membuat duniaku penuh dengan rindu
Apalagi bisa memilikimu
Peluklah aku
Berjuanglah bersamaku

Annuqayah, 2019

 

 

Cahayaku yang Suram

Cahayaku yang suram
Kini pelan memancar
Setelah penantian amat panjang
Ku jalani walau dalam tapak duri penderitaan
Dan kini penantianku mulai terobati
Meski tak sepenuhnya tersinari

Annuqayah, 2019

 

 

Penulis: Nur Iskandar, asal pulau Raas Sumenep, sedang menyantri di PP. Annuqayah Lubangsa sekaligus siswa kelas XII MA 1 Annuqayah.

Exit mobile version