Kekasih yang Kera, Racun Belukar Malam – Puisi Surya Gemilang

Ilustrasi 'Kekasih yang Kera' by SelArt/Sumber Lukisan: Jonas Kunickas - Kaunas - Lituania via Arts, Artists, Artwork

Ilustrasi 'Kekasih yang Kera' by SelArt/Sumber Lukisan: Jonas Kunickas - Kaunas - Lituania via Arts, Artists, Artwork

– Surya Gemilang, lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-­tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa. Publikasi puisi-puisi Surya Gemilang di nusantaranews.co minggu ini adalah “Kekasih yang Kera“, “Hari Ini Bukan di Denpasar“, “Pan Kasim, Dongengi Aku“,  “Pun Sajak Bisa Merambat“,  “Racun Belukar Malam“, “Sajak Pedang“, dan “Serat“.

Kekasih yang Kera

kekasih yang kera menginginkan
benakku. padahal, aku mempunyai
pisang yang panjang dan setajam
kata!

“tapi, tampan, hanya di benakmu
ada kerah buat kera.”

aku membalas, “jangan lupakan
gerah pada kerah!”

kekasih yang orang, kuinginkan
igau terpanjangmu. jangan yang
berdaging. jangan yang setajam
kata.

“jangan juga yang seramai kota!”

(Denpasar, 2016)

Hari Ini Bukan di Denpasar

hari ini lelucon enggak mampir
ke denpasar. atau mungkin sebenarnya
mampir, cuma saja ia berdiam di sudut-
sudut teranyir yang siapa pun
ogah menggapainya.

“apa yang membuat kamu nungguin
lelucon?” ucapmu. “bukankah lelucon
nungguin kamu dalam sembahyang?”

mungkin lelucon lagi mampir ke
kota-kota lain. semisal jakarta,
hongkong, atau new york. siapa
yang tahu?

“semakin hari, lelucon semakin
keparat!”

beberapa tahun yang lalu, lelucon
datang dari arah barat. atau mungkin
arah timurlah yang mengundangnya.
atau lelucon memang hobi banget
keliling dunia—dari sudut-sudut
purba sampai sudut-sudut modern.

“siapa yang peduli?!”

yang jelas, hari ini lelucon enggak
mampir ke denpasar. kayaknya.

(Denpasar, 2016)

Pan Kasim*, Dongengi Aku

/1/

yang capai berburu kayu bakar di hutan
bolehlah duduk bersandar padaku
sampai seekor ular yang bisa bicara
memanggil namamu!

“kau ular!” kata pan kasim. “kau seharusnya
enggak bisa dan enggak boleh bicara!”

ular itu besar—lebih besar dari ular di balik
celana pan kasim—dan tubuhnya terjepit
batang pohon yang tumbang sebab
raja langit bersin.

“kau manusia,” kata si ular. “kau seharusnya
bisa dan boleh membantuku dengan
menyingkirkan batang sialan ini.”

/2/

dan waktu pan kasim pulang, didapatinya
gubuk reot tempat ia tinggal telah berubah
jadi rumah yang bagus!

“aku enggak tahu kenapa bisa begini!”
sang istri, men kasim namanya, bingung.

“si ular enggak bohong!” pan kasim berseru. “aku
nyelamatin dia dan dia mau ngabulin apa pun pintaku!”

malam yang lugu dan gagu pun mengalirkan
aroma kentut keangkuhan.

/3/

“aku mau istana!
aku ingin jadi raja!
aku pengin istriku jadi ratu!”
demikian kalimat pan kasim ketika keesokan
harinya ia kembali ke hutan dan nemuin si ular.

“kau manusia, boleh tinggal di istana.
kau pria, bisa jadi raja.
kau punya istri manusia, berhaklah jadi ratu.”

/4/

“matahari pengin membakarku!” jerit ratu
kasim. “aku enggak mau jadi babi panggang!”

sebab raja kasim adalah anggota dari
“ikatan suami takut istri”, ia cepat-cepat lari
ke hutan—lagi-lagi buat nemuin si ular.

/5/

“jiwaku panas!” seru pan kasim.
“aku berhak jadi matahariii!!!”

si ular geram.
penginnya ia nerkam si egois.
si ular geram:
diam-diam
ia
jatuh cinta
pada
ular di balik celana pan kasim.

/6/

enggak ada matahari. enggak ada istana.
enggak ada raja-ratu. enggak ada rumah bagus.
enggak ada …

enggak ada kamu!

(Denpasar, 2016)

*) Cerita rakyat Bali.

Pun Sajak Bisa Merambat

nada yang merambat pengin nyusup
ke dalammu, melewati lubang
yang diinginkan tenggat
waktu.

can your hear me?

dan nada yang merambat hendaklah
mengantarmu tidur, bahkan
menjadi bagian dari
kentutmu yang tak
kausadari.

because you’re my blood, come
out from my ears!

*

kekasih, kenapa di antara kita enggak ada
yang peduli sama nada pun sajak?

“soalnya ada sekat kematian!”
kekasih menjawab.

coba tebak, kekasih, kenapa “kasih”
mesti pakek “logika”?

“jangan coba-coba menghubungkan mereka
berdua!” kekasih marah. “nanti bisa-
bisa kita diputus takdir!”

lho, enggak boleh, toh?
tapi bolehkah aku
menghubungkan
“kasih”
dengan
“etika”?

“hati-hati, sayang!” jerit kekasih.
“nanti kasih kita tanpa ‘ketika’!”

(Denpasar, 2016)

Racun Belukar Malam
mungkin teringat salah satu
puisi m. aan mansyur

pada akhirnya, belukar malam
alirkan racun ke nadi mimpimu.
mungkin itu adalah ketika kau
lagi mimpi (ke)basah(an),
atau lagi iseng mengotak-atik
jejaring mimpi yang melangkahi
ketegangan sajak mbelingmu.

“apa yang lebih jahat dari
racun belukar malam, kekasih?”

“belukar kata-katamu! juga belukar
kota-kota!”

“ah! kalimatmu itu … pasti terinspirasi
dari salah satu puisi m. aan mansyur!
benar, kan, kekasih?”

aku ngakak. bukan menjawab tanyamu.
aku memasukkan penyair itu ke nadi
racunku. bukan ke nadi mimpiku.
soalnya di mimpiku sudah ada “kamu”
dan “basah”!

“tapi, kekasih, kamu di mimpiku
adalah gelisah yang berkisah.”

“jadi, kamu enggak basah?”

(Denpasar, 2016)

Sajak Pedang

“apa yang buat kamu berpikir
aku ini berpedang?”

“sebab kamu
gemar menusukku!”

“apa yang membuatmu merasa
aku tusuk?”

“ada rasa sakit dan nikmat
yang enggan berpisah!”

(Denpasar, 2016)

Serat

serat-serat kata kita enggak
sepanjang surat-surat cinta.
serat-serat kota kita enggak
seriuh surat-surat kata.

“cinta, kau ingin kuberi apa?
surat atau serat?”

“darimu, kumau urat.”

(Denpasar, 2016)

________________
*Penulis kini mukim di Jalan Tukad Yeh Sungi D No. 4, Renon, Denpasar, Bali, 80226, ponsel: 081239325699. Surel: surya.gemilang69@yahoo.com

Exit mobile version