Ekonomi

Indonesia Peng-ekspor Teh 7 Terbesar Dunia, Tapi Ekspor Masih Minim

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward/Foto Andika / NUSANTARAnews
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward/Foto Andika / NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Teh diketahui merupakan komoditas andalan ekspor Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. Namun, daya saing tehnasional terus merosot dikarenakan berbagai kendala.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward saaat membuka Forum Ekspor 2016 mengungkapkan, kinerja perdagangan dunia pada periode 2016-2017 tengah dihadapkan dengan masa sulit.

Tahun ini, Bank Dunia memperkirakan, perdagangan dunia hanya tumbuh 2,4 persen atau turun dari prediksi sebelumnya 2,9 persen di Januari 2016. Sedangkan untuk Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) pun menargetkan pertumbuhan 1,7 persen dari sebelumnya 2,8 persen.

‎”Kondisi ini berpengaruh terhadap kinerja ekspor teh Indonesia. Negara ini merupakan eksportir terbesar ke-7 di dunia, setelah China, India, Sri Lanka, Kenya,” ujar Dody Edward dalam acara Forum Ekspor Tahun 2016 dengan tema Peran Komoditi Teh Indonesia di Era Persaingan Global di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin, (21/11/2016).

Dody menyebut, nilai ekspor teh nasional sepanjang 2015 sebesar US$ 128,4 juta dengan volume 62,70 juta ton. Kinerja ekspor teh menurun pada Januari-September 2016 yang mencatatkan senilai US$ 86,32 juta. Sebelumnya di periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 104,30 juta.

‎Indonesia memasok produk teh ke 10 negara tujuan utama, seperti Rusia, Malaysia, Pakistan, Australia, Jerman, China, Amerika Serikat (AS), Polandia, Taiwan, dan Inggris.

“Penurunan ekspor ini karena hasil produksi teh Indonesia masih dihadapkan beberapa kendala. Diantaranya masalah area pertanian teh, produk teh belum memenuhi standar yang diinginkan pasar, kapasitas idle mesin, belum modern, sampai harga masih rendah di tingkat petani sehingga berdampak ke tata niaga teh,” tutur Dody.

Menurutnya, ekspor teh nasional masih bergantung pada produk primer sehingga nilai tambah belum maksimal. Kontribusi ekspor hilir teh Indonesia, sambungnya, perlu ditingkatkan karena kontribusinya masih kecil sekitar 6 persen dari total ekspor nasional.

“‎Tapi diproyeksikan konsumsi teh akan tumbuh 3 persen per tahun sehingga perlu disikapi dengan upaya konkret, seperti program pembinaan ke petani dan eksportir teh supaya produk sesuai dengan permintaan pasar global. Promosi ditingkatkan, agar produk teh nasional dapat bersaing di pasar global,” imbuh Dody. (Andika)

Komentar

To Top