Connect with us

Traveling

Ziarah Situs Sejarah Musem Radya Pustaka

Published

on

Museum Radya Pustaka/Foto: joglosemarnews
Museum Radya Pustaka/Foto: joglosemarnews

NUSANTARANEWS.CO – Jika edisi sebelumnya, rubrik Traveling Nusantaranews.co sudah bertandang ke Taman Sriwedari, maka tak jauh dari tempat ini yakni di Museum Radya Pustaka terdapat salah satu situs sejarah yang menarik untuk dikunjungi.  Di dalam museum ini terdapat benda-benda peninggalan bersejarah yang menjadi saksi bisu akan pergolakan sejarah tempo dulu.

Diantara benda-benda bersejarah tersebut antara lain terdapat arca, artefak, pusaka Kerajaan Kasunanan, teks-teks (serat) kuno dan masih banyak lagi. Sebelum berpindah ke Jl. Slamet Riyadi, kompleks Museum Radya Pustaka ini dulunya berada di Dalem Kepatihan Solo. Namun pada tahun 1913, musem bersejarah ini kemudian diboyong ke Jl. Slamet Riyadi yang bersebelahan persis dengan Bon Rojo (Taman Sriwedari).

Dalam sejarahnya, Musem Radya Pustaka  ini diprakarsai oleh Paku Buwono IX di tahun 1890, yang saat itu sedang bertakhta. Paku Buwono IX menilai kerebadaan museum sangat penting untuk mengamankan artefak-artefak peninggalan masa lampau. Kesadaran Paku Buwono ini berbuah manis, dimana museum yang ia bangun, kini masih berdiri kokoh dan menjadi penyambung lidah sejarah dari generasi ke generasi.

Adapun Musem Radya Pustaka yang sekarang ada di Jl. Slamet Riyadi ini dulunya bekas tempat tinggal orang Belanda bernama Busselaar. Setelah Belanda dipukul mundur tentara Jepang, kemudian pemerintah Surakarta memanfaatkannya sebagai museum. Di kompleks museum ini, kita bisa menyaksikan bangunan khas Eropa abad 19. Karena memang dulunya kediaman orang Belanda.

Museum yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV ini semula berada di dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890. Namun, dipindahkan ke lokasinya sekarang ini, yakni di Gedung Museum Radyapustaka di Jalan Slamet Riyadi, Solo, pada 1 Januari 1913, bersebelahan dengan Taman Sriwedari. Kala itu gedung museum merupakan rumah kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar.

Baca Juga:  Ngaji Laut, Maknai Nusantara di Museum Bahari

Selain menjadi cagar budaya (heritage), keberadaan Musem Radya Pustaka sangat membantu generasi sekarang untuk menilik kembali dinamika sejarah tempo dulu. Tak hanya itu serat-serat kuno masih terjaga di tempat ini. Salah satunya adalah serat Wulang Reh, Serat Rama, dan serat-serat lain peninggalan para pesohor Surakarta di abad 17. (Adhon MK)

Loading...

Terpopuler