Connect with us

Budaya / Seni

Wanita di Balik Kabut

Published

on

Marianna, Kahlil's Sister. Paiting by Kahlil Gibran. (Marianne)
Marianna, Kahlil's Sister. Paiting by Kahlil Gibran. (Marianne)

Cerpen: Anas S. Malo*

Ketika hendak mengucapkan sepucuk kata dari mulutku, tentang suara yang tak bertuan, terlintas di benakku sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang membuat aku benar-benar mendalami ke dalam otak. Celingukkan, mencari sumber suara di pagi yang belum terang. Isak tangis masih terdengar miris. Suara tangisan itu terdengar seperti pisau yang terdengar mengiris-ngiris hati dan membuat bulu kuduk berdiri. Tiba-tiba di hadapanku telah ada sesosok wanita yang tak kutahu asal rimbanya. Pagi masih buta dan terselimut kabut. Embun-embun pagi masih banyak bergelantungan di pagar besi pembatas jalan. Kulangkahkan kakiku dengan ritme agak cepat. Terdengar, sepatuku mengentak menginjak aspal. Keringat pun mulai keluar dari pori-pori kulit. Suara tangisan itu terdengar lamat-lamat, seiring aku meninggalkan wanita itu.

Satu jam berlalu. Di sepanjang jalan Pantura, aku masih memikirkan wanita yang menangis tadi. Dan sejujurnya, sempat ada pertanyaan dalam pikiranku, kenapa aku tidak bisa menangis, seperti wanita tadi? Kemudian pikiranku berkelana, mengungkap setiap jengkal dalam kisah hidupku. Ah… Mungkin hidupku belum pantas untuk sekedar mengeluarkan air mata, seperti wanita yang barusan aku lewati. Aku tak tahu, apa yang membuat wanita itu menangis begitu menyedihkan. Sementara kendaraan mulai bergemuruh melintasi jalan. Jalan yang menghubungkan antara dua pelabuhan penyeberangan, yaitu Merak di ujung barat pulau Jawa dan Ketapang di ujung timur pulau Jawa. Matahari mulai beranjak dari peraduan, sinarmya kemerah-merahan.

Lantas pertanyaan menyeruak dalam kepala tak juga ada ujungnya. Mungkin, ia adalah wanita yang dicampakkan oleh lelaki. Lelaki memang seperti itu. Lelaki adalah mahkluk yang mengerikan, tak ubahnya seperti monster. Buas seperti buaya. Tetapi, pikiran-pikiran yang ada di kepalaku sirna seketika. Aku dapat menepis segala keburukan tentang seorang lelaki, ketika aku teringat ayah. Aku kira, tak semua lelaki menjijikkan, bukti nyata adalah ayah. Bagiku ayah adalah ayah yang baik, setia, perhatian, dan sayang dengan keluarga. Meskipun, ia menikah lagi dengan orang yang sama sekali tak sayang padaku. Ibu tiriku tak banyak bicara denganku, bahkan aku tak benar-benar merasa mengenalnya setelah hampir lima belas tahun hidup satu atap dengannya. Ia telah meninggal setahun yang lalu, akibat serangan jantung.

Baca Juga:  SBY Ajak Ulama Bantah Islam Identik dengan Teroris

Kata ayah, ibu kandungku meninggal waktu aku masih kecil, akibat kecelakaan. Tepat, di jalan ini ibu meregang nyawa. Memang, orang-orang menyebutnya dengan jalur maut, menikung tajam, serta kondisi jalan yang tidak rata. Dan jalan yang dirintis oleh Deandels ini sudah sering terjadi kecelakaan. Dan konon, ribuan orang menjadi korban kerja paksa atas pembangunan jalan ini. Banyak orang-orang mati akibat kelaparan dan mengidap penyakit yang secara biadab langsung ditanam jalan dengan tidak layak.

Aku selalu bertanya kepada ayah, bagaimana sosok ibu? Lalu ayah menarik nafas dalam, dan mulai bercerita, “Ibumu adalah wanita yang baik, cantik lahir batin. Ia sayang padamu. Segala yang baik ada padanya. Hanya saja, ia wanita yang kurang beruntung,” kata ayah.

Namun beberapa tetangga mengatakkan, ibuku mati bunuh diri, menabrakkan tubuhnya dengan tronton yang melintas dengan kecepatan penuh, karena sudah tidak tahan hidup dengan ayah. Dengan alasan tak kuat hidup dengan ayah, karena sering dikhianati, disiksa lahir batin,. Tetapi, semua itu tak ada yang aku percaya. Bagiku, ayah adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui selama ini.

Tetapi tak akan ada foto ibu di rumah atau di tempat lain. Kata ayah, ibu tak suka foto, alasannya ia tak suka mengenang kenangan. Baginya kenangan hanya menyisakan luka. Seindah apapun kenangan, pasti akan menimbulkan rasa sakit.

Aku selalu berharap sesuatu saat nanti, aku dapat bertemu ibu. Mustahil. Aku percaya dengan keajaiban. Jelas aku sedih, tak dapat bertemu dengan ibu dalam usia dewasa. Terakhir kali, aku bertemu dengan ibu, saat berumur dua tahun. Dan, dengan waktu yang terus bergulir, aku tak ingat, bagaimana ibu merawatku, apalagi ingat dengan wajahnya. Tetapi, setiap malam aku merasa ibu selalu berkunjung di rumah. Selalu melihat aku tertidur pulas, mendoakan keselamatanku, lalu pergi, jika fajar akan terbit. Sejak dulu aku tak benar-benar percaya, bahwa ibu telah mati, tetapi kenyataanya ibu telah mati. Aku berani menentang kenyataan dengan keyakinan, keyakinan yang mungkin tak masuk akal untuk diyakini.

Baca Juga:  Breaking News! KPK OTT Anggota DPRD Mojokerto

Pernah aku bermimpi bertemu dengan ibu. Mimpi adalah bunga tidur, tak ada arti apa-apa, kata ayah. Tetapi dalam mimpiku, ibu terlihat menyedihkan. Terlunta-lunta. Dan aku percaya dengan perkataan ayah, bahwa mimpi adalah bunga tidur yang tak mempunyai makna.

***

Aku tiba di rumah. Setelah kupikir-pikir, tentang wanita itu, aku merasa merinding. Kejadian tadi sungguh mengerikan, mematahkan nyaliku. Seperti mimpi buruk.

“Tenangkan pikiranmu. Dan, mulailah bercerita.” Tiba-tiba ayah dari belakang, menepuk pundakku.

“Aku baru saja bertemu dengan wanita misterius di tikungan jalan itu, Ayah. Apa mungkin, dia adalah hantu?”

Lelaki setengah baya itu terkekeh, seperti ada yang lucu. “Sudahlah, jangan kau pikirkan tentang kejadian itu. Ayah, sama sekali tidak percaya dengan hal yang tak rasional seperti itu. Mungkin, kamu terlalu sering menonton film horror. Cepat mandi lalu sarapan,” perintah ayah.

***

Keangkeran jalan itu sudah menjadi alibi. Kecelakaan sering terjadi di jalan itu, terlebih orang-orang sering melihat sesosok wanita berwajah buruk rupa. Kisah demi kisah terus bergulir dari mulut ke mulut. Jika malam menjelang, orang-orang tak berani lewat di jalan itu kecuali terpaksa.

Seperti biasa, hanya aku seorang diri berlari-lari kecil, menyusuri jalan pantura di pagi yang masih gelap. Aura mistis tampak pekat sekali. Bulu kuduk tegak berdiri. Suasana dingin menyelimuti kulit, ditambah suara-suara ranting-ranting pohon saling patah tertabrak angin. Aku biasa lari pagi setelah subuh, tetapi pagi ini terasa berbeda. Sementara kendaraan satu dua melintas, mungkin jalan ini tak seramai jalan-jalan lain.

Aku merasakan ada keanehan. Tiba-tiba dihadapanku ada wanita yang kemarin pernah bertemu denganku. Wanita yang sama persis dengan yang aku temui kemarin. Jantungku terasa terhimpit, darahku seperti berhenti mengalir. Mulutku terkunci, keringat sebiji-biji di keningku tak sempat aku seka. Tak bisa kupungkiri, jika aku memang penakut. Aku lari sekencang-kencang mungkin. Dan wanita ta itu terus menatapku lalu tawanya berderai.

Baca Juga:  Pelacur Negeri (Bagian 3: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand

Dalam batin bertanya, apa mungkin ia hantu? Tentunya, kalian bertanya-tanya, siapakah wanita itu. Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. (*)

Anas S. Malo, lahir di Bojonegoro 16 Juli 1997. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Terpopuler