Connect with us

Ekonomi

Vice President Bidang Perencanaan SKK Migas: Industri Energi untuk Semua

Published

on

Vice President Bidang Perencanaan SKK Migas, Elan Biantoro dan Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Waryono Abdul Ghafur (Dari kiri ke kanan). (FOTO: Lapmi Sinergi)

Vice President Bidang Perencanaan SKK Migas, Elan Biantoro dan Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Waryono Abdul Ghafur (Dari kiri ke kanan). (FOTO: Lapmi Sinergi)

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Sinergi bekerja sama dengan Front Pemuda Madura (FPM) menggelar soft launching Majalah Sinergia Volume 23 soal ‘Bayang-Bayang Darurat Energi’ dan Seminar Nasional bertajuk ‘Teropong Gerakan Mahasiswa dalam Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional’ di Gedung Teatrikal Perpusatakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu siang, (12/12/2018).

Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya mahasiswa lintas perguruan tinggi di Yogyakarta. Bertindak sebagai pemateri Vice President Bidang Perencanaan SKK Migas, Elan Biantoro dan Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Waryono Abdul Ghafur.

Direktur Utama Lapmi Sinergi HMI Cabang Yogyakarta, Muchlas Jaelani mengatakan edisi kali ini pihaknya sengaja mengangkat soal isu energi. Pasalnya kata Muchlas, isu kedaulatan dan ketahanan energi belum populer di kalangan mahasiswa.

“Majalah ini berupaya untuk membangkitkan ghairah aktivis mahasiswa, terutama dalam memberikan ruang-ruang dialog soal ancaman krisis energi dan upaya mewujudkan ketahanan energi nasional. Karena mesti disadari, dalam beberapa tahun ke depan, energi fosil akan habis akibat konsumsi yang semakin besar. Pada sisi lain, mahasiswa apapun minat dan jurusannya memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendukung program ketahanan energi nasional,” kata Muchlas saat launching Majalah Sinergia.

Sementara itu, Waryono Abdul Ghafur mengatakan salah satu kontribusi yang dapat diberikan mahasiswa dengan melakukan penelitian, guna mencari energi baru terbarukan.

“Oleh karena itu, Perguruan Tinggi (PT) mesti mendukung kegiatan research mahasiswa untuk mencari energi baru terbarukan, sebagai alternatif penggunaan energi fosil. Ini seharusnya menjadi tugas yang mesti diperankan oleh mahasiswa,” kata Waryono.

Vice President Bidang Perencanaan SKK Migas, Elan Biantoro membuka penjelasannya dengan menguraikan wilayah kerja SKK Migas. Menurut Elan, SKK Migas hanya bekerja pada sektor hulu migas yang meliputi eksplorasi, pengembangan dan produksi.

“Jadi tiga hal itu yang menjadi wilayah kerja SKK Migas,” kata Elan.

Selain itu kata Elan, jumlah produksi migas di Indonesia dari beberapa sumur produksi setiap hari hanya mampu mencapai 700.000 barel. Sedangkan tingkat konsumsi tembus 1,5 juta barel.

“Sehingga untuk menutupi kekurangan itu, Indonesia mesti impor minyak,” tegas Elan.

Milik Semua Orang

Menurut Elan, bisnis migas di Indonesia sebagian besar atau sekitar 24% masih dikuasai Pertamina. Sisanya ada yang dikelola swasta dan perusahaan asing.

Kendati demikian kata Elan, kontraktor asing di Indonesia dalam mengelola sektor migas meski mengikuti mekanisme dan aturan main dari SKK Migas. Salah satunya sistem yang diterapkan adalah produktion sharing contrak.

“Jadi perusahaan asing yang mau melakukan kegiatan eksplorasi migas di Indonesia mesti menggunakan duit sendiri, bukan uang negara. Karena industri migas resikonya sangat besar. Kalau eksplorasi gagal, uang bisa menguap. Tetapi kalau berhasil, maka sistem bagi hasilnya 85% untuk kontraktor dan 15% untuk negara, karena negara memang sepeserpun tidak mengeluarkan uang. Jadi skema kerja sama ini menguntungkan negara,” tegas Elan.

Tidak semua aspek yang dikelola asing, termasuk industri migas kata Elan merugikan Indonesia. Pasalnya sudah ada skema dan aturan main yang jelas bagi semua kontraktor, termasuk perusahaan asing.

“Sekarang kita sedang berupaya untuk mengundang investor sebanyak-banyaknya dalam melakukan eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru. Karena tingkat konsumsi semakin besar, maka kita upayakan jumlah produksi juga naik,” kata Elan.

Menurut Elan, SKK Migas ingin mempopulerkan bahwa industri migas itu milik semua orang. Termasuk pemuda dan mahasiswa di kampus. Karena selama ini industri migas dianggap komunitas yang eksklusif, hanya milik para mafia-mafia saja dan pengusaha-pengusaha besar.

“Tetapi jika pemuda melek informasi terkait kegiatan migas, semua bisa jadi transparan. Tidak ada lagi yang ditelikung, tidak ada lagi orang yang dibodoh-bodohi. Maka melek masalah migas bukan hanya tanggung mereka yang jurusan perminyakan, tetapi apapun jurusannya punya tanggung jawab yang sama dalam mengawal upaya ketahanan energi migas nasional” tandas Elan. (red)

Editor: Achmad S.

Advertisement

Terpopuler