Utang Pemerintah Gagal Dongkrak Produktifitas Ekonomi Dalam Negeri

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati dilansir dari Detik.com menegaskan, penarikan utang yang terus dilakukan pemerintah selama ini ternyata tak mampu mendorong produktifitas perekonomian dalam negeri. Pasalnya sesuai laporan neraca dagang, Indonesia terus mengalami defisit.

Dalam logika ilmu ekonomi, kata Enny, jika utang menghasilkan sesuatu yang produktif, maka seharusnya neraca perdagangan tak mengalami defisit, karena faktanya ekspor Indonesia justru tak menunjukkan hasil yang menggembirakan.

“Jadi kan utang itu produktif atau tidak bisa dilihat apakah utang itu dipakai untuk belanja atau investasi. Kalau buat belanja investasi, itu kan memberi stimulus fiskal. Misalnya ketika pemerintah bangun infrastruktur dari utang, itu akan jadi daya tarik investasi. Kalau investasi tumbuh, berarti akan tumbuh sektor riil. Itu yang akan kembali menyumbang pajak,” tegasnya, Kamis (15/3/2018).

Baca Juga:
Rasio Utang Luar Negeri Masih Sangat Aman (?)
LBP Pastikan Utang Bank Dunia Segera Cair
Menurut BI: Utang Luar Negeri Indonesia Hingga Akhir Tahun 2017 Tercatat Rp 4.562 Trilyun

Jadi mestinya, kata Enny, dengan adanya peningkatan utang, secara teori ekonomi seharusnya tax ratio meningkat. Kalau tax ratio meningkat, lanjut dia, mestinya keseimbangan primernya (defisit APBN) tidak semakin defisit.

Menurut Enny, pertumbuhan investasi yang meningkat harusnya berdampak kepada sektor riil yang meningkat. Sektor riil yang meningkat diyakini bisa memberikan dampak kepada ekspor yang meningkat.

Namun ternyata hasilnya sejauh ini malah menunjukkan ketergantungan akan impor yang semakin meningkat. Pertumbuhan investasi di Indonesia juga tak cukup mentereng jika dilihat dari defisit primer (APBN) yang saat ini terus melebar.

BPS mencatat selama tiga bulan terakhir, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit. Tercatat sejak Desember 2017 hingga Januari dan Februari 2018. Bahkan bulan Februari lalu, neraca perdagangan mengalami defisit mencapai US$ 0,12 miliar.

Baca Juga:  Rakyat Makin Sengsara, Bangsa Tergadai

Editor: Romadhon