Connect with us

Ekonomi

Utang Luar Negeri Pemicu Rupiah Terseok-Seok

Published

on

Utang Indonesia (IIlustrasi/Nusantaranews)

Utang Indonesia (IIlustrasi/Nusantaranews)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pengamat ekonomi Salamuddin Daeng menyebut ada beberapa penyebab mengapa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terseok-seok hingga tembus Rp.14.000 lebih. Dari sisi internal ada beberapa pemicunya. Diantaranya karena neraca transaksi berjalan mengalami defisit secara besar-besaran.

Sepanjang tahun 2017, defisit transaksi berjalan mencapai (-) Rp. 242,09 triliun. Ini dikarenakan defisit yang besar dalam neraca jasa-jasa dan defisit pendapatan primer. Ia mengatakan defisit transaksi berjalan menjadi penyakit permanen Indonesia.

Pemicu lain yang mempengaruhi rupiah melemah adalah posisi utang luar negeri pemerintah dan swasta meningkat pesat. Peniliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) ini membeberkan bahwa utang pemerintah bertambah Rp. 1.205,9 (2014 -2017) pada posisi kurs 14000/USD. Perningkatan pesat utang ini tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi.

“Malah sebaliknya kontraproduktif,” ungkap Salamuddin Daeng, dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu (9/5/2018).

Baca Juga:
PSI Tak Setuju Sri Mulyani dan Rizal Ramli Debat Soal Utang Pemerintah
Paradoks Slogan ‘Kerja’ Ketika Rupiah Melemah Tembus Rp.14.000

Daeng menambahkan posisi utang luar negeri pemerintah dan swasta sampai dengan akhir 2017 lalu mencapai RP. 4.931,5 triliun (kurs 14000/USD). Pemerintah dan swasta mengandalkan utang baru sebagai sandaran dalam membayar bunga dan kewajiban lainnya.

Faktor lain mengapa rupiah jatuh adalah karena utang pemerintah yang bersumber dari dalam dan luar negeri terus membengkak. Berdasarkan data kementerian keuangan, dalam APBN tahun 2018 Outstanding Utang Pemerintah mencapai Rp 4.227,3 Triliun (kurs 13500/USD) atau sebesar Rp. 4,381.9 triliun (kurs 14000/USD). Menurut Daeng kesalahan fatal pemerintah saat ini adalah menjadikan utang sebagai sandaran utama untuk menopang APBN.

Pemicu lainnya dikarenakan rata rata bunga utang pemerintah sangat besar. Dimana pada tahun 2016, mencapai Rp. 191,2 triliun, tahun 2017 sebesar Rp. 221,2 dan untuk tahun 2018 bunga utang tembus Rp. 238,6. Situasi ini kian diperburuk dengan adanya utang jatuh tempo 2018 yang mencapai Rp. 400 triliun. Dengan demikian, lanjut Daeng, maka total kewajiban terkait utang pemerintah pada tahun 2018 adalah sebesar Rp. 650 – Rp. 700 triliun (tergantung perkembangan kurs).

Baca Juga:  Munculkan Calon Tunggal, Ansor Jatim Dinilai Alami Kemunduran

“Nilai kewajiban yang besar ini tampaknya akan sulit dapat dibayar oleh pemerintah,” ujar Daeng.

Mengenai situasi tersebut, Daeng menjelaskan, bagi para pemilik uang mengingat kondisi ekonomi Indonesia sebagaimana tergambar di atas dalam keadaan tidak sehat atau “demam tinggi”, “jadi disimpulkan lebih baik pegang dolar,” pungkasnya.

Pewarta: Alya Karen
Editor: Romandhon

Terpopuler