Connect with us

Opini

Ustadz Abdul Somad Memang Beda!

Published

on

abdul somad, ustadz abdul somad, ustadz absu somad, dai indonesia, dai kondang, pendawah indonesia, magnet abdul somad, ustadz somad, shamsi ali, imam as, nusantaranews

Ustadz Abdul Somad. (Foto: Instagram)

NUSANTARANEWS.CO – Beberapa hari ini perhatian rakyat Indonesia tertuju pada sosok ustadz Abdul Somad. Betapa tidak belakangan hampir seluruh media memberitakannya. Bukan karena tersandung kasus hukum namun karena beliau termasuk salah satu ustadz yang dilamar menjadi calon wakil presiden dalam Pemilu 2019. Pesona UAS yang sangat fenomenal ini terus melejit bak artis yang sedang naik daun.

Ketertarikan publik pada sosok UAS bukan tanpa alasan. Semua ini tidak terlepas dari kepiawaiannya dalam menyampaikan ceramahnya. Sosok yang mencuri perhatian ini memiliki keunikan dalam berdakwah. Beberapa di antaranya pertama, mengangkat tema yang lagi tren. Kedua, penyampaian dakwah yang lucu sekalipun sedikit banyak menyinggung perilaku-perilaku yang tak sesuai syariat.

Baca juga: Ustadz Somad Menyerukan Kepada Umat: Jangan Berkelahi Karena Perbedaan

Ketiga, penyampaian dakwah yang detil tak hanya berkaitan dengan sejarah dan ilmu hadits namun juga terkait solusi praktis perbaikan masyarakat. Keempat, mampu menjawab semua problem dakwah umat dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Keistimewaan dakwah UAS inilah yang mampu menghipnotis masyarakat untuk berhijrah. Hampir seluruh kalangan sangat mendambakan sosok ini. Apalagi ditambah viralnya video ceramah beliau di Youtube maupun media digital lainnya semakin memperlihatkan booming-nya sosok UAS. Sekalipun pernah terjadi persekusi yang menimpa beliau, tak mampu menghentikan Somad effect yang sudah menjadi gelombang besar tak terbendung.

Citra baik yang ditampilkan mampu menjadikan umat percaya pada sosok UAS ini. Maka tak ayal tak sedikit umat yang akhirnya menjadikan beliau representasi umat Islam sehingga mendorong beliau terjun ke dalam dunia politik yang dirasa lebih efektif dalam dakwah. Lagi-lagi UAS menjadi sosok ulama yang berbeda, tak tergiur dengan dunia politik sekalipun banyak yang menjamin beliau dengan kemudahan politik saat ini. Sungguh sosok yang terus jadi fenomenal dan tak akan terlupakan.

Baca juga: Imam di Amerika Serikat: Magnet Ustadz Abdul Somad Berada di Luar Batas Pemikiran Rasional

Publik seharusnya menghormati keputusan UAS yang menolak terjun dalam dunia politik saat ini. Tentunya keputusan yang diambilnya bukan tanpa alasan. Dengan kecerdasan UAS pastinya alasan yang dimilikinya sangat kuat sehingga bersikukuh untuk tak jadi politisi.

Jika kita melihat praktek politik saat ini yang jauh dari kata terpuji bahkan hal ini menjebak para politisi yang terjun di dalamnya. Pertama, tak lepas dari asing. Kepentingan asing yang akan selalu mendominasi kebijakan politik Indonesia. Maka tak mengherankan apabila asing turut campur dalam Pemilu, bahkan memenangkan siapapun yang berpihak padanya. Sehingga siapapun yang terpilih akan terus menerima apapun yang didikte asing. Hal inilah yang tak akan berubah sekalipun ulama yang menjadi pemimpin. Apalagi keberadaan ulama dalam politik saat ini hanya dijadikan magnet mendulang suara saja.

Baca juga: Fenomena Ustadz Abdus Somad

Kedua, politik sekuler. Sistem politik saat ini masih menggunakan politik sekulerisme, memisahkan agama dari kehidupan. Politik seperti ini pasti akan menjebak siapapun yang terpilih menjadi budak sekulerisme. Sekalipun ulama sholih lambat laun akan melebur dengan sistem ini. Bukan sebaliknya. Dengan praktek politik seperti ini maka wajar apabila UAS menolak menjadi politisi yang nantinya akan bernasib sama dengan sebelum-sebelumnya.

Oleh karena itu, publik seharusnya mengapresiasi positif keputusan dirinya, bukan malah mencemooh dan cenderung menyalahkan. Tak hanya sekadar ngefans namun juga diimbangi kecerdasan politik yang benar sehingga tak akan salah tafsir dengan keputusan UAS. Karena keputusan ini justru semakin menunjukkan bahwa UAS memang sosok ulama yang langka, beda dan berkelas.

Penulis: Dian AK, Women Movement Institute
Catatan: Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis dan tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi nusantaranews.co

Advertisement

Terpopuler