Connect with us

Budaya / Seni

Urban, Kehidupan Paling Buruk dan Pasti Akan Mati!

Published

on

Ilustrasi Kehidupan Urban di Jakarta. (Foto Istimewa)

Ilustrasi Kehidupan Urban di Jakarta. (Foto Istimewa)

“Masyarakat urban adalah masyarakat yang paling buruk dan pasti akan mati. Ia adalah laron yang datang ke lampu neon.”

NUSANTARANEWS.CO – Gotong royong akan mati oleh masyarakat urban. Dengan kata lain urban adalah pembunuh gotong royong. Karena masyarakat urban itu sifatnya struggle.

Sebagai contoh seseorang bekerja ke luar kampung halamannya. Ia pindah dari desa menuju ibu kota. Ini adalah masyarakat urban. Kemudian ia memilih kos sebagai tempat tinggalnya.

Praksis dalam kehidupan kos, seseorang tersebut tidak akan mengenal satu sama lain secara baik, layaknya di desa. Banyak faktor pemicu asosial dalam kehidupan urban. Seseorang tersebut kemungkinan capek, karena bekerja seharian. Karena capek, ia lebih memilih istirahat dan mengesampingkan bersosial.

Sehingga dalam kehidupan urban, tidak akan pernah muncul yang namanya masyarakat gotong royong. Berbeda dengan masyarakat di desa yang tidak melakukan urbanisasi. Mereka bekerja di sekitaran rumahnya. Jam 5 sore ia berhenti bekerja, pulang dan mandi. Dia tidak membutuhkan transpot, karena tempat kerjanya dekat.

Loading...

Dia stay bertempat tinggal di wilayah tersebut. Tetangganya pun juga sama, jam 5 sore dia selesai bekerja. Tetangga satunya juga sama-sama selesai. Duduklah mereka, ngobrol di pos gardu atau di depan rumah. Maka situasi ini pasti akan terbentuk interaksi yang melahirkan gotong royong.

Berbeda dengan masyarakat urban. Sama-sama bertetangga tapi ia tidak berinteraksi. Maka tidak akan pernah mungkin ada gotong royong di tempat itu. Itulah sebabnya, dalam kehidupan urban kemudian muncul kelompok pengangkut sampah orang lain. Tidak ada istilah kerja bakti.

Masyarakat urban adalah masyarakat yang paling buruk dan pasti akan mati. Ia adalah laron yang datang ke lampu neon. Sudah banyak kasus.

Baca Juga:  Haji Lulung Segera Pindah Ke PAN

Salah satunya adalah sebuah kota urban di Amerika Serikat bernama Boston (Helltown) Ohio. Boston pertama kali dibangun pada 1806. Pada 1820-an dan 30-an, kota ini booming berkat pabrik kertas dan pembangunan dekat Kanal Ohio & Erie. Situasi ini membentuk kehidupan urban. Masyatakat dari desa berbondong melakukan migrasi ke tempat ini.

Kota ini bahkan menjadi kota yang sangat besar dengan memiliki stasiun kereta api. Namun, segera setelah booming, kota ini mulai kehilangan warganya. Tidak sampai 1974 kota ini benar-benar menjadi kota mati tak berpenghuni.

Urban Pembunuh Ekonomi Gotong Royong?

Konsep ekonomi gotong royong sesungguhnya telah tertuang jelas dalam GBHN repelita ketiga tahun 1984. Di dalamnya berbunyi mengenai mekanisme pembangunan top down transisi bottom up yang dikenal dengan delapan jalur pemerataan antara lain: pemerataan usaha bagi golongan ekonomi lemah dan menengah, pemerataan kesempatan berpartisipasi bagi generasi muda serta pemerataan pembangunan antar daerah.

Menciptakan ekonomi berbasis gotong royong bukan hal utopis. Negara-negara Eropa sejatinya telah menerapkan sistem tersebut. Lihat saja, dalam kasus pembuatan jam tangan. Sebuah perusahaan jam tangan di Eropa untuk membuat satu jam tangan mereka memperoleh komponen komponen jam berasal dari berbagai tempat.

Misal kota A hanya khusus memproduksi jarum jam, kemudian kota B membuat strap (tali jam), kota lain memproduksi per, pun demikian dengan komponen komponen lainnya seperti mesinnya diproduksi di daerah lain.

Kesemua komponen itu kemudian dikumpulkan oleh sebuah perusahaan jam tangan untuk selanjutnya dirakit menjadi produk bermerek.

Kondisi ini bisa berjalan baik karena negara dan masyarakatnya sepakat untuk tidak membolehkan adanya satu sentra industri di Eropa yang menerapkan konsep ekonomi hulu ke hilir. Itu hebatan Eropa. Ia mampu mempraktekkan ekonomi gotong royong secara sempurna. Nah, tapi hal itu tidak akan pernah terjadi pada masyarakat urban. [*]

Baca Juga:  E-KTP [E Ketauan Tipu Publik]
Loading...

Terpopuler