Connect with us

Artikel

Umat Islam Terlalu Banyak Memberi, Tapi Terlalu Sedikit Menerima

Published

on

Lautan Umat Islam menggelar aksi demonstrasi di Monas, Jakarta pada 2 Desember 2016. (Foto: Istimewa)

Umat Islam memainkan peranan sangat strategis di dalam menstimulus lahirnya pergerakan bangsa Indonesia dari mulai gerakan tradisional sampai gerakan nasional modern.

Di atas adalah fakta sejarah dan realitas ilmiah, bahwa umat Islam sangat banyak memberikan sumbangsihnya buat Indonesia, bahkan sampai sampai hari ini. Dan pemberian umat Islam ini menjadi pilar yang kokoh dalam menopang tegaknya negara Indonesia, Pancasila, sosial, ekonomi dan keamanan.

Namun, meski di negara ini umat Islam mayoritas tetapi belum pernah ada fakta empiris umat Islam Indonesia menyerang dan memusuhi agama lain, termasuk paham kepercayaan. Selanjutnya, pemberian umat Islam kepada negara dan bangsa ini sangat terukur dari sisi kekokohan dan tegaknya negara ini yang berdasarkan Pancasila. Itu ditopang oleh kekuatan umat Islam.

Perlu digarisbawahi bahwa umat Islam belum pernah memberontak dan bersikap anti Pancasila. Hanya kelompok komunis Marxisme saja yang tercatat telah dua kali melakukan pembrontakan terhadap Pancasila. Sedangkan dari sisi sosial dan peradaban, umat Islam secara nyata, faktual dan empiris telah menjadi stabilitas sosial dan keamanan serta telah memberikan rasa aman pada semua agama di Indonesia, termasuk kebudayaan. Demikian juga pada sektor ekonomi dan kekuasaan, meskipun secara fakta dan ilmiah bahwa umat Islam telah banyak sekali memberi untuk negara dan bangsa ini, mulai merebut kemerdekaan sampai mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, umat Islam telah menjadi customer industry, sandang, papan dan pangan serta menjadi penabung setia dan rutin pada sistem perbankan nasional termasuk sektor informal, dalam menyediakan kebutuhan bangsa Indonesia sebagai mediasi antara petani dan konsumen. Pun sama halnya disektor politik dan kekuasaan, umat Islam menjadi faktor penentu utama perolehan suara partai politik di dalam meraih kekuasaan politik, baik legislatif eksekutif maupun yudikatif. Singkatnya, banyak sekali umat Islam telah memberikan perannya kepada negara dan bangsa Indonesia.

Tapi mari kita menengok apa yang telah diterima umat Islam dari negara ini. Rasa-rasanya terlalu sedikit negara memberikan kepada umat Islam, tak sebanding dengan pemberiannya. Dari sisi ekonomi, umat Islam mengalami kemiskinan absolut, umat Islam mengalami produktivitas ekonomi rendah, negara sangat sedikit menyediakan kebutuhan papan, kesehatan, pangan dan kesejahteraankepada umat Islam.

Dari sisi komunitas sosial, umat Islam dituduh radikal dan intoleran. Kesempatan berusaha umat Islam terlalu sedikit diberikan oleh negara. Dan parahnya lagi, negara ingin memaksakan kehendaknya pada umat Islam untuk menerima demokrasi, meskipun demokrasi tersebut bertentangan dengan akidah umat Islam.

Dari segi UU atau perlindungan kepentingan seperti ormas, partai politik, produk produk halal, negara terlalu sedikit memberikan pada umat Islam, bahkan justru umat Islam ditekan secara politik. Padahal umat Islam adalah faktor penentu dalam membentuk kekuasaan politik.

Selanjutnya, dari sisi kekuasaan Negara. Justru kekuasaan itu sendiri terlalu sedikit yang berefek pada umat Islam. Artinya, umat Islam terlalu sedikit menerima manfaat dari kekuasaan negara. Meskipun sudah 72 tahun merdeka, namun secara ilmiah umat Islam di negara ini terlalu banyak memberi daripada menerima. Mau sampai kapan?

Ketidakadilan absolut selalu mengarah dan ditujukan kepada umat Islam. Karenanya, umat Islam wajib meninjau kembali preferensi politiknya, merubah irama politiknya serta membangun kembali infrastruktur dan substrasttukrut politiknya, mengikis pragmatisme dan oportunisme serta menciptakan labirin politik yang kohesif.

Penulis: Habil Marati, Politisi Senior dan Mantan Anggota DPR RI

Loading...

Terpopuler