Connect with us

Opini

Ulama Mempesona, Ulama Dambaan Umat

Published

on

ulama, kelas menengah, peran ulama, kriminalisasi ulama, propaganda politik, ulama indonesia, gerakan ulama, ulama jadi korban, persekusi ulama, nusantaranews

ILUSTRASI – Ulama. (Foto: NU Online/Jawa Pos)

NUSANTARANEWS.CO – Sikap ulama memang memberikan contoh, suri tauladan, mendidik umat agar taat kepada seluruh hukum-hukum Al-Qur’an. Membuat umat merasa ‘puas’ ketika ia menyampaikan lantunan ayat suci demi tegaknya Islam sebagai agama yang sempurna. Ulama adalah waratstul anbiya pewaris para nabi. Pewaris dari seluruh risalah yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Sikap, serta tutur kata seorang ulama memberi makna mendalam ketika memutuskan suatu fatwa dan perkara. Karenanya, ikuti ulama yang paling dibenci oleh kaum munafik, di akhir zaman kelak, seperti perkataan Imam Syafi’i rahimahullah. Peran ulama sangatlah besar, ulama berhasil menanamkan kesadaran ideologis dan politis di tengah umat.

Ulama hendaknya menjadi pengontrol penguasa atas kebijakan-kebijakannya. Bukan justru menjadi stempel penguasa untuk mengatur rakyat dengan hawa nafsu. Untuk itu, ulama harus benar-benar memahami konstelasi politik baik nasional maupun global. Umat rindu akan peran ulama yang lantang membela kebenaran, bukan membela yang bayar. Umat rindu akan ketegasan ulama yang siap mengorbankan ilmu bahkan nyawa. Karena ulama adalah panutan umat, panutan pewaris tahta Baginda Muhammad.

Kiranya, ulama dan partai politik Islam seharusnya menjadi garda terdepan dalam menolak sekulerisme, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Bukan justru bergabung memperkuat tatanan aturan barat. Karena sekulerisme berakar dari barat, dan ini tidak sesuai dengan realita Islam.

Urun rembuk memang ada, tapi tidak lantas menggadaikan keteguhan akidah demi mendapatkan ‘kepuasaan’ agar dicintai umat. Malah akan membuat keteguhan, menjadi goyah karena tidak bisa berbuat banyak untuk kesejahteraan rakyat. Membelenggu diri dan golongan, karena cepat ataupun lambat kebijakan sekuler dan liberal akan menyeret siapa pun yang duduk sebagai kepala.

Dengan begitu banyak dorongan untuk maju, ingatlah bahwa umat ingin ulama yang senantiasa memberi perubahan kearah yang lebih baik. Baik menurut Islam, bukan baik menurut sekulerisme.

Demi Islam jangan sampai hati dan pikiran buta, karena Islam membersihkan, sedangkan sekulerisme adalah jalan rapuh, mengotori setiap insan yang inginkan perubahan. Dilema atas kebaikan Islam lebih baik dari pada menelan akhir penyesalan citra yang menghantarkan pada lumuran kubangan kotor bercampur kehinaan.

Oleh sebab itu, jadilah ulama yang dengan ilmunya mampu menjadi panutan umat, jadilah tokoh Islam yang dengan kecerdasannya senantiasa memberikan pengaruh gerak umat agar senantiasa taat syariah dan mau berhukum kepada Al-Qur’an dan As-sunah.

Penulis: Bagas Kurniawan, Peneliti dari Aliwa Institute
Catatan: Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi nusantaranews.co

Advertisement

Terpopuler