Connect with us

Ekonomi

UGM: Stunting Terjadi Akibat Kemiskinan

Published

on

Menurut data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), ada 9 juta anak Indonesia mengalami stunting atau kekurangan gizi, baik di perdesaan maupun perkotaan. (Foto: YouTube)

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengusulkan pembangunan 4 strategi sistem pertanian yang berwawasan ekologis, ekonomis, dan berkesinambungan atau yang dikenal sebagai sistem pertanian terpadu (integrated farming system).

“Empat strategi integrated farming system ini ditujukan untuk perbaikan nasib dan kesejahteraan petani di Indonesia,” ujar Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus dalam keterangan tertulisnya menyikapi pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro tentang permasalahan stunting yang menyebar di seluruh wilayah dan lintas kelompok pendapatan, Yogyakarta, Kamis (5/4/2018).

Dia mengatakan permasalahan stunting terjadi akibat kemiskinan yang dialami masyarakat Indonesia. Padahal, sekitar 60% penduduk Indonesia menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan bekerja sebagai petani, buruh tani, pekebun, peternak dan nelayan.

“Meskipun kehidupan sehari-hari mereka sangat dekat dengan sumber daya alam, kesejahteraan mereka tidak kunjung datang, bahkan akhir-akhir ini semakin ironis dan semakin sulit. Karena itu, upaya peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Indonesia mutlak diperlukan,” terangnya.

Kemiskinan Petani

Petani Indonesia, kata Prof Ali, hanya memiliki lahan sempit, yaitu kurang dari 0,3 hektare, terutama mereka yang berada di Pulau Jawa. Selain itu, sistem pertanian dalam negeri masih mengandalkan input produksi tinggi dan harga jual berfluktuasi. Akibatnya, petani berada dalam lingkaran kemiskinan yang tiada putus-putusnya.

Selain itu, lanjutnya, di berbagai belahan dunia, kaum marjinal dan terpinggirkan yang hidup dalam kondisi keterbatasan, kemiskinan, dan kefakiran umumnya adalah mereka yang hidup sebagai nelayan, petani, dan buruh tani.

“Petani dengan pendapatan rendah tidak akan mampu menabung, tidak mampu meningkatkan pendidikan dan keterampilan, sekaligus juga tidak mampu meningkatkan gizi keluarganya. Hal ini jadi permasalahan serius bagi masyarakat Indonesia, sehingga berpotensi meningkatkan angka stunting dan kurang gizi masyarakat,” papar Prof Ali yang pada Sabtu 31 Maret 2018 lalu dilantik oleh Ketum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI Purn. Moeldoko, menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah HKTI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sistem Terpadu

Salah satu usulan UGM dalam meningkatkan kesehatan gizi dan kesejahteraan petani adalah dengan menjalankan sistem pertanian terpadu. Tujuannya, untuk memperpanjang siklus biologis dengan mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping pertanian dan peternakan.

“Yaitu setiap mata rantai siklus menghasilkan produk baru yang memiliki nilai ekonomis. Baik keterpaduan pelaku, komoditas, maupun pengorganisasian,” kata Prof Ali menambahkan.

Dia menambahkan, dalam sistem pertanian terpadu, ternak menjadi salah satu bagian penting karena menghasilkan bahan pangan berkualitas seperti telur (ayam, itik, puyuh), daging (ayam, puyuh, entok, kelinci, dan lain-lain) dan susu (sapi, kambing), yang bisa dikonsumsi anak-anak guna mencukupi kebutuhan gizi mereka.

Empat Strategi

Lebih jauh, Prof Ali menjelaskan, 4 strategi menuju integrated farming system. Pertama, meningkatkan variasi sumber-sumber pendapatan petani. Untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan keluar dari lingkaran kemiskinan adalah dengan cara mengembangkan sistem pertanian nir-limbah yang ekonomis, ekologis, dan berkelanjutan.

Kedua, menurunkan biaya produksi, dengan penggunaan bahan organik yang berasal dari ternak atau hasil sisa pertanian, akan sangat membantu untuk mempertahankan kesuburan tanah.

Ketiga, optimalisasi pemanfaatan lahan secara bijak. Sebab di dalam sistem pertanian terpadu, upaya-upaya intensifikasi tidak harus ditinggalkan guna mencapai produktivitas pertanian sebagai penghasil pangan dalam skala besar sepanjang tetap mempertahankan aspek konservasi lahan dan tanah.

“Selain itu, aspek biaya produksi dapat murah, kompetitif, dan terjangkau. Dengan demikian, sistem pertanian terpadu baik diaplikasikan pada lahan subur maupun lahan marjinal, akan mengoptimalkan fungsi lahan sehingga mampu membantu peningkatan pendapatan petani,” ungkapnya.

Keempat, pengembangan kelembagaan yang terpadu, sebab keterpaduan tidak hanya dari segi teknis pertanian, tetapi juga kelembagaan yang mantap untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“SDM yang mampu mengintegrasikan sistem pertanian dan peternakan serta perikanan yang efisien, sehingga kemakmuran petani secara nyata dapat ditingkatkan,” katanya.

Data Pemerintah

Sebelumnya, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, hingga saat ini ada 9 juta anak mengalami stunting atau kekurangan gizi, baik di perdesaan maupun perkotaan. Jika terus dibiarkan stunting dapat merugikan ekonomi Indonesia, hingga mencapai Rp 300 triliun per tahun.

“Diharapkan SDM Indonesia mampu bersaing di era ekonomi digital yang memerlukan penguasaan teknologi dan skill yang tinggi, serta memutus mata rantai kemiskinan antar-generasi,” kata Bambang. (red)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler