Hankam  

Turki Beli Rudal S-400 Rusia

NUSANTARANEWS.CO – Keputusan Turki membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia, menjadi pukulan bagi AS dan NATO. Turki telah menyiapkan anggaran sebesar US$ 2,5 miliar untuk membeli sistem pertahanan rudal paling canggih Rusia S-400. Moskow pun setuju untuk mentransfer teknologi sebagai syarat dari pembelian tersebut.

Menurut Bloomberg, aspek kunci dari kesepakatan itu adalah transfer teknologi di mana Rusia memberikan dua baterai S-400 untuk diproduksi di Turki. Dengan kesepakatan itu, Rusia akan mengirim dua sistem S-400 ke Turki tahun depan dan kemudian membantu negara Turki untuk memproduksi dua baterai lagi di dalam negeri.

Menurut sumber pejabat Turki yang tidak mau disebutkan namanya, S-400 Turki tidak akan dilengkapi dengan sistem identifikasi teman atau lawan sehingga memungkinkan digunakan untuk melumpuhkan semua target tanpa ada batasan. S-400 memang dirancang untuk menghancurkan pesawat terbang, pesawat tidak berawak atau rudal sejauh 250 mil jauhnya. Kelebihan sistem pertahanan rudal S-400 adalah dapat membawa tiga jenis rudal yang berbeda yang mampu menghancurkan target udara pada jarak dekat hingga jarak jauh. Sistem pertahanan rudal S-400 sejauh ini hanya dijual ke China dan India.

Dorongan Turki mendekat ke Rusia tampaknya merupakan akibat rasa frustrasi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang semakin kesal dengan Uni Eropa dan Amerika. Turki kecewa dengan sikap AS yang tidak memenuhi tuntutannya untuk mengekstradisi tokoh oposisi utama Fethullah Gulen, yang dianggap sebagai aktor di belakang layar kudeta gagal tahun lalu.

Pemerintah Turki mengatakan bahwa pihaknya memiliki bukti nyata yang melibatkan Gulen dalam upaya kudeta pada 15 Juli yang menewaskan sekitar 250 orang dan melukai lebih dari 2.100 orang.

Baca Juga:  Sepakat Pembelian S-400, Hubungan Turki-Rusia Semakin Mesra

Di samping itu, Erdogan juga kecewa dengan dukungan AS terhadap beberapa kelompok Kurdi di Irak dan Suriah, yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional negara Turki. Apalagi setelah Washington pada tahun 2015 menarik sistem rudal permukaan-ke-udara Patriot-nya dari perbatasan Turki dengan Suriah.

Pewarta: Banyu
Editor: Romandhon