MancanegaraTerbaru

Tupolev-95 Intai Latihan Militer Gabungan AS-Korea Selatan

NUSANTARANEWS.CO, Moskow – Jet pembom strategis Rusia, Tupolev-95MS, yang diberi kode nama ‘Bears’ oleh NATO terlacak mengudara di Samudera Pasifik, Laut Jepang, Laut Kuning dan Timur Laut Cina. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (24/8) kemarin, yang mendorong Jepang dan Seoul melepaskan jet tempur mereka untuk mengawal jet milik Rusia itu.

Tupolev-95MS tak sendirian melainkan ditemani jet tempur Sukhoi-35S serta pesawat kontrol dan peringatan dini A-50. Pesawat-pesawat itu sengaja diterbangkan ke wilayah-wilayah tersebut dengan maksud mengintai latihan perang gabungan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan di semenanjung Korea.

Rusia tidak senang dengan kegiatan latihan tersebut. Dan keberadaan pesawat Rusia di atas perairan tersebut diakui Kementerian Pertahanan Rusia.

“Pesawat pembom TU-95MS dikawal jet militer Korea Selatan dan Jepang,” kata Kemnhan Rusia seperti dikutip Reuters.

“AS dan Korea Selatan yang memegang latihan angkatan laut dan angkatan laut berskala besar tidak membantu mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea. Kami mendesak semua pihak untuk berhati-hati. Mengingat penumpukan senjata di wilayah tersebut, setiap gerakan ruam atau bahkan insiden yang tidak disengaja bisa memicu konflik militer,” kata Jubir Kemenlu Rusia, Maria Zakharova dalam sebuah konferensi pers di Moskow.

Baca Juga:  G7 Akan Bangun Koalisi Global Membatasi Harga Minyak Rusia

Amerika Serikat dan Korea Selatan memulai latihan militer bersama pada Senin. Latihan perang gabungan ini membuat Pyongyang (Korea utara) marah dan menyebutnya langkah ceroboh yang memicu konflik nuklir.

Beberapa ahli militer menyebutkan, Tupolev-95MS Rusia adalah pesawat peninggalan Perang Dingin. Dalam sejumlah literatur, Tupolev TU-95 mengangkasa pertama kalinya pada November 1952. TU-95 juga tercatat sebagai pesawat Soviet terakhir yang dibuat di bawah kepemimpinan Joseph Stalin sekaligus merupakan pesawat pembom antarbenua pertama Soviet. TU-95 dikatakan menggunakan 8 mesin turboprop dan 4 baling-baling berdiameter 5,6 meter. Pesawat ini berisik, bahkan suaranya bisa terdeteksi oleh sonar kepal selam. Tapi, TU-95 tercatat sebagai pesawat baling-baling tercepat di dunia dan satu-satunya pesawat pembom bermesin turboprop.

Sejak bertahun-tahun Soviet terus memodifikasi TU-95. Dan sejak 2007 lalu, Rusia telah menggunakan TU-95 untuk mendukung diplomasinya dengan menunjukkan kekuatan serta untuk keperluan menyelidiki wilayah udara negara-negara lain.

A-50 Rusia setara dengan pesawat Boeing E-3 Sentry AWACS, dirancang untuk melacak target udara dan darat pada jarak yang jauh, di antara kemampuan lainnya.

Baca Juga:  Jepang Mempertahankan Sanksi Tetapi Meningkatkan Impor LNG dari Rusia

“Pilot penerbangan jangka panjang kami, sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, secara teratur melakukan penerbangan di atas perairan netral di atas Atlantik, Arktik, Laut Hitam dan Samudera Pasifik dari basis mereka dan dari lapangan udara taktis,” kata kementerian pertahanan dalam ernyataan yang sama. Seperti diketahui, TU-95 dirancang untuk dapat melayani Angkatan Udara Rusia sampai setidaknya 2040 mendatang.

Dikatakan bahwa pembom TU-95MS mengisi bahan bakar di udara selama misi tersebut, dan bahwa pada bagian-bagian rute mereka telah dikawal oleh jet militer Korea Selatan dan Jepang.

Baca: Jet Tempur Rusia Terbang Dekat Langit Jepang

Rusia, yang berbagi perbatasan dengan Korea Utara, telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea yang disebabkan oleh program rudal nuklir Pyongyang, dan juga mengeluhkan kemungkinan rencana oleh Jepang untuk menerapkan sistem anti-rudal AS.

Jepang setidaknya sudah dua kali sebelum tahun ini terpaksa mengerahkan jetnya untuk mencegat pesawat Rusia. Oktober tahun lalu, surat kabar Izvestia melaporkan Rusia hampir menyelesaikan pembentukan divisi baru pembom berat untuk berpatroli di segitiga Kepulauan Jepang-Guam-Hawaii. (ed)

Baca Juga:  Sekali Lagi Pemerintah Ukraina Gelar Operasi “False Flag” di Kharkov Untuk Menyalahkan Rusia

Editor: Eriec Dieda

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 25