Budaya / SeniCerpen

Tukang Cukur Rambut – Cerpen Kurnia Gusti Sawiji

NUSANTARANEWS.CO – Lelaki itu sering terlihat berada di pinggir jalan di pusat kota, duduk di sebuah kursi kayu kecil tanpa sandaran. Di antara kerumunan manusia yang saling dorong itu, ia dengan bersahaja duduk menunggu jika ada sesiapa yang mendatanginya. Sesekali ia rapikan kotak kayu kecil yang berada di sampingnya, namun lebih banyak ia diam tanpa ada gerakan, hanya melihat kepada kerumunan dan sesekali tersenyum. Kerumunan manusia itu tidak menghiraukannya, sibuk dengan kegiatan mereka yaitu saling dorong sesama untuk mencapai tujuan masing-masing. Hanya ada sedikit orang yang sadar akan kehadiran lelaki itu dan akhirnya meminta ia menunjukkan keahliannya. Hanya ketika itulah ia akan membuka kotak kayunya dan mulai beraksi.

Ia adalah seorang tukang cukur rambut keliling. Tukang cukur bersahaja yang hanya ditemani oleh sebuah kotak kayu berisikan sisir, cermin, dan gunting untuk mencukur rambut orang-orang yang menyadari keberadaannya dan yang menyadari bahwa rambut mereka sudah panjang awut-awutan dan perlu dicukur. Ada sesekali orang yang memang menginginkan rambutnya dicukur, maka dengan begitu gesit dan tangkas, rambut-rambut panjang dan awut-awutan itu dicukur dengan rapi oleh sang tukang cukur, membuat rambut orang itu menjadi rapi kembali.

Sayang, tidak banyak orang-orang yang menyadari keberadaan sang tukang cukur itu. Atau mungkin lebih tepatnya, orang-orang itu enggan menyadari keberadaannya. Hanya ada dua jenis rambut yang digemari oleh mayoritas orang-orang di kota ini; benar-benar botak dan benar-benar gondrong. Mereka yang botak tentu saja tidak memerlukan sang tukang cukur dan menganggapnya pengemis jalanan; terkadang beberapa dari mereka memberi uang, namun sang tukang cukur menolaknya dengan bersahaja. Mereka yang benar-benar gondrong lebih senang berkutat dengan kegondrongannya.

Namun begitulah, sang tukang cukur rambut tetap duduk bersahaja hingga senja.

***

Satu pagi, saya mendapati tukang cukur itu sedang duduk bersahaja tanpa dihiraukan orang-orang. Tidak terlalu banyak orang di tengah kota hari ini.

Pasalnya, sebuah gerakan radikal dari suatu agama akan melakukan arak-arakan yang katanya damai tengah hari nanti dan akan terus berlanjut hingga seminggu lamanya. Mereka semua adalah orang-orang berambut gondrong yang memang dikatakan memanjangkan rambutnya atas perintah pemimpin mereka yang katanya merupakan Sang Pembawa Pesan.

Maka, orang-orang yang berambut botak tentu saja tidak ingin keluar rumah karena tidak mau ambil resiko. Mereka yang berambut gondrong bersikap sedikit lebih leluasa, namun juga penuh waspada sebab mereka tidak ingin dikira sebagai bagian dari gerakan itu. Namun, tetaplah mereka tidak mau mencukur rambut mereka, mungkin karena bagi mereka memanjangkan rambut itu memang baik dan wajib hukumnya, namun itu tidak akan membuat mereka bagian dari gerakan itu.

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

Sebagian lagi adalah orang-orang berambut sedang, seperti saya.

Namun tetaplah saya meraba kepala saya, dan menggenggam segumpal rambut tebal yang sudah tumbuh dengan liar. Rupanya, sudah cukup panjang rambut saya. Jika didiamkan lebih lama lagi, maka saya akan jadi gondrong, sama seperti orang-orang yang pura-pura tidak melihat sang tukang cukur itu dan gerakan radikal yang akan berarak nanti. Maka, saya memutuskan untuk mencukur dan merapikan rambut kepada tukang cukur itu.

“Selamat siang, Tukang Cukur! Mengganggukah jika kiranya saya meminta pertolongan anda untuk mencukur dan merapikan rambut saya?”

“Selamat siang juga, Tuan! Mari, mari. Saya akan mencukur dan merapikan rambut anda dengan gembiranya.”

Dari dekat, sang tukang cukur itu rupanya begitu tampan. Wajahnya cerah, secerah sinar matahari yang kini sedang menyinari kota tanpa lelah. Tubuhnya tegap, seperti pohon jati. Tangannya kekar dan terlihat lincah telapak tangannya, tak heran jika ia bisa mengendalikan berbagai alat cukur dan gesitnya dan mencukur rambut orang tanpa ada cela. Namun, adalah rambutnya yang saya lihat paling bagus diantara semua unsur ketampanannya. Rambutnya yang begitu rapi dan teratur, tidak terlalu gondrong dan tidak pula botak. Rambutnya terlihat tebal, namun sebenarnya tidak terlalu tebal. Hitam klimis, terlihat bahwa ia merawat rambutnya setiap hari.

“Apakah anda adalah tukang cukur yang mampu menggayakan rambut?”

“Oh maaf, Tuan. Saya hanyalah tukang cukur sederhana. Keahlian saya hanyalah mencukur dan merapikan. Tidak bisa saya memberi gaya yang macam-macam kepada rambut. Apalagi, saya merasa rambut yang digayakan hanya akan merusak keindahan kepala dan rambut itu sebagai sebuah kesatuan. Maaf sekali, Tuan.”

“Ah, tidak apa, tidak apa! Itu yang saya suka! Saya juga tidak suka menggayakan rambut, sebenarnya. Saya hanya menguji anda untuk bisa tahu tukang cukur jenis apa anda. Rupanya, anda memang tukang cukur sejati!”

“Terima kasih, Tuan. Saya sungguh malu menerima pujian Tuan.”

Sesaat setelah itu, ia langsung bergerak dengan peralatan cukurnya. Rupanya, sebelum ia mencukur rambut saya, ia menyemprotkan air kepada kepala saya terlebih dahulu. Ia bilang, rambut yang sudah awut-awutan biasanya akan lebih susah untuk dicukur dan dirapikan. Maka, menyemprotkan air kepada rambut awut-awutan dengan tujuan melembutkannya adalah suatu kewajiban. Setelah ia yakin bahwa rambut saya sudah selembut yang ia inginkan, ia lalu memulai pencukuran.

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

“Sungguh, anda begitu mahir dalam bidang ini! Melembutkan rambut saya dengan air seperti itu, sungguh cerdas! Lalu, mengapakah kiranya anda jarang mendapatkan pelanggan? Mengapakah kiranya orang-orang di kota ini menganggap anda seakan tiada?”

“Tuan, hampir semua orang-orang di kota ini menyukai hal-hal yang sifatnya keterlaluan; kalau tidak keterlaluan panjangnya hingga gondrong menutupi mata, ya benar-benar botak. Tuan, rambut itu berada di kepala, dan kepala adalah anugerah. Maka rambut yang tumbuh diatas kepala itu, yang terkadang dibilang akar anugerah, malah jadinya penghalang anugerah. Tak sedikit orang-orang yang menginginkan rambut yang begitu panjang dengan harapan memperbesar anugerah mereka. Tak sedikit pula mereka yang beranggapan bahwa rambut hanyalah pengganggu kepala, maka mereka akan membotakkan kepala mereka.”

“Lalu, bagaimanakan menurut anda rambut yang sebaik-baik rambut?”

“Bagi saya sebagai tukang cukur, adalah rambut yang rapi, tak terlalu panjang namun tak pula botak, adalah sebaik-baik rambut. Rambut yang terlalu panjang akan menutupi mata dan membutakan kita, dan kebotakan akan membuat kulit kepala kita rentan dan rapuh.”

Saya mengangguk-angguk. Benar adanya kata sang tukang cukur ini. Saya sudah melihat kebenaran yang dikatakan olehnya; betapa manusia-manusia disini begitu gemar memanjangkan rambut mereka hingga membutakan mereka, atau membotakkan rambut mereka. Sungguh kasihan, apalagi pada akhirnya mereka bangga pada keadaan mereka yang keterlaluan. Walau sudah tidak bisa melihat, orang-orang yang berambut terlalu panjang dan awut-awutan masih mengatakan bahwa mereka bisa melihat dan benar adanya. Walau kepala mereka sudah melepuh dan luka-luka, orang-orang botak masih bertahan dengan pernyataan bahwa mereka tidak memerlukan rambut.

Satu hal yang saya bingung, adalah bahwa rambut itu akan selalu tumbuh lebih cepat jika tidak dicukur hingga botak. Maka, tidak akan menutup kemungkinan bahwa kelak rambut saya akan kembali panjang seperti orang-orang gondrong tak teratur itu.

“Oh, itu memang lumrah, Tuan. Selagi masih ada rambut di kepala kita, maka rambut itu akan terus tumbuh dan memanjang selagi kita masih bernafas dan melangkah. Selagi masih ada yang namanya kehidupan, maka rambut-rambut itu akan terus tumbuh. Keputusan berada di tangan sang pemilik rambut, apakah ingin merapikan dan rambut yang terus tumbuh itu, atau ingin membiarkan tumbuh tak terkendali. Atau, mungkin ingin menghabiskannya,” jawab sang pencukur ketika saya menanyakan tentang hal itu.

Kembali lagi saya mengangguk-angguk. Rupanya, tukang cukur ini lebih pintar dan bijaksana dari apa yang saya lihat. Ah, andai saja keramaian ini—terutama yang gondrong, bagi yang botak sudah tidak bisa diubah lagi pilihannya—mau meluangkan waktunya untuk mencukur dan merapikan rambut kepadanya. Sayang, kini manusia lebih gemar untuk berpegang kepada diri sendiri.

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

“Satu pertanyaan lagi, wahai tukang cukur. Sebagai tukang cukur rambut, tidak takutkan anda dengan gerakan yang akan berarak disini tengah hari nanti?,” tanya saya.

“Tentu saja tidak, Tuan. Saya disini untuk mencukur mereka yang mau dicukur rambutnya. Mereka yang tidak mau, ya tidak apa,” jawabnya.

“Namun jika mereka menyerang anda?”

“Maka itu adalah takdir, dan sesungguhnya saya menerima apapun takdir saya.”

***

Seminggu sudah saya menjalani kehidupan dengan rambut saya yang lebih rapi dari sebelumnya. Ingin saya mencari sang tukang cukur rambut bersahaja itu, namun betapa anehnya, tidak saya temukan dirinya yang bersahaja itu duduk di tengah kota keesokan harinya setelah saya memintanya untuk mencukur rambut saya. Saya berharap tidak ada hal buruk yang terjadi kepadanya, apalagi melihat berita selama seminggu ini, nampaknya arak-arakan itu tidaklah memakan korban jiwa.

Saya pergi keluar untuk membeli koran minggu. Harap saya, berita hari ini baik-baik saja. Seusai saya membeli koran, saya terus pulang ke rumah dan membaca berita. Halaman depan koran adalah sebuah berita mengenai terbongkarnya aksi jahanam gerakan radikal seminggu lalu. Maka, saya membaca berita itu dengan wajah yang meleleh seperti lilin bertemu api.

Mengenaskan. Arak-arakan damai yang dilakukan gerakan radikal seminggu lalu rupanya secara terselubung memakan korban jiwa, banyak dari mereka adalah orang-orang yang bertentangan dengan aliran mereka. Hal ini diketahui setelah beberapa mayat yang sudah hampir membusuk ditemukan oleh kepolisian di lorong-lorong jalanan dan kesemuanya memiliki luka berupa ukiran-ukiran kepercayaan. Salah satu korban yang ditemukan adalah seorang tukang cukur rambut jalanan yang…

Kuala Lumpur, 17 Februari 2015

__________________________________
Kurnia Gusti Sawiji, kelahiran Tangerang. 26 November 1995. Ia tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Fisika, Fakultas Sains, University of Malaya, Malaysia. Ia aktif di Grup Kepenulisan FAM (Forum Aktif Menulis) Indonesia dan komunitas penulis muda UNSA. Beberapa karyanya termaktub dalam beberapa antologi bersama, salah satunya Antologi Cerpen Orang Bunian (Unsapress, 2016). Juara ke-3 di lomba menulis essay se-ASEAN oleh Universitas Diponegoro, Semarang. Dan menjadi salah satu juara favorit lomba menulis cerpen tingkat nasional yang diadakan oleh Rayakultura. Kini berdomisili di Kuala Lumpur. Email: [email protected]
__________________________________
Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected].

Related Posts

1 of 49