Connect with us

Mancanegara

Trump Pertimbangkan Opsi Militer Sikapi Krisis Venezuela

Published

on

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Reuters/Carlos Barria )
Presiden AS Donald Trump (Foto Getty)

Presiden AS Donald Trump Tentang Krisis Venezuela (Foto Getty)

NUSANTARANEWS.CO, Bedminster – Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mempertimbangkan opsi militer sebagai tanggapan terhadap krisis yang terus meningkat di Venezuela. Trump menggambarkan situasi di Venezuela dalam kekacauan yang sangat berbahaya.
Sebelumnya, AS memberikan sanksi ekonomi kepada Venezuela menyusul peresmian majelis baru yang terbentuk pada Jumat pekan lalu, yang bertujuan menulis ulang konstitusi negara tersebut, yang dianggap dapat memberikan kekuatan baru yang luas kepada Maduro dan partai sosialisnya yang berkuasa. Pemerintahan Trump yang mendukung pandangan oposisi Venezuela telah menuduh Maduro yang ingin memperkuat kekuasaannya.
AS kemudian mempertegas ancamannya dengan sanksi ekonomi, dan memperingatkan bahwa siapa pun yang bertugas di majelis baru tersebut dapat menghadapi sanksi dari AS. Seperti diketahui, AS dan Uni Eropa menolak hasil pemilihan majelis baru tersebut walaupun dilakukan secara demokratis.

Baca: Standar Ganda Sanksi AS Terhadap Venezuela

Selain itu, Washington juga memberikan sanksi kepada Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan sekutunya sekaligus mencap mereka sebagai pemimpin dictator karena berupaya menghancurkan kelompok oposisi di negara tersebut. Tapi, Venezuela sebaliknya menyerang dan menuduh AS telah melakukan agresi imperialis.
Akibatnya lebih lanjut, Trump kini dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk bertindak lebih keras dengan opsi menerjukan militer AS ke Venezuela.
“Kami memiliki banyak pilihan untuk Venezuela, termasuk kemungkinan opsi militer jika diperlukan,” kata Trump kepada wartawan di New Jersey seperti dikutip AFP.
“Kami memiliki pasukan di seluruh dunia di berbagai daerah yang sangat jauh, Venezuela tidak terlalu jauh dan orang-orang di sana (Venezuela) menderita dan mereka sekarat,” imbuhnya.
Trump mengatakan, krisis politik Venezuela merupakan salah satu topik yang dibahas dalam pembicaraan yang dia gelar di New Jersey pada hari Jumat dengan Sekretaris Negara Rex Tillerson dan Duta Besar PBB Nikki Haley.
“Venezuela berantakan. Ini sangat berbahay,a berantakan dan situasi yang sangat menyedihkan,” kata Trump.
Tetapi jika ada rencana kontinjensi militer AS sedang berlangsung, maka harus dalam tahap awal. Seorang juru bicara Departemen Pertahanan, Eric Pahon, menolak untuk menguraikan komentar Trump, dengan mengatakan, “Sampai sekarang, Pentagon tidak menerima perintah apapun,” kata dia.

Baca: Krisis Venezuela di Tengah Tekanan Sanksi Ekonomi Amerika

Baca Juga:  Si ‘Bengal’ Trump dan Kegaduhan Peta Politik Dunia
Peringatan Trump terjadi dua hari setelah pemerintahannya memberlakukan sanksi baru terhadap Venezuela, yang menargetkan anggota majelis loyalis yang dipasang minggu lalu untuk mendukung apa yang Washington sebut kediktatoran Maduro.
Pemerintah Venezuela menanggapi sanksi tersebut dengan mengatakan bahwa AS membodohi dirinya sendiri di depan dunia.
Pada hari Kamis, Maduro menyatakan bahwa Majelis Konstituante baru Venezuela memegang kekuasaan tertinggi atas semua cabang pemerintahan, bahkan di atas posisinya, dan pekerjaannya akan mengembalikan perdamaian negara tersebut.
Namun Amerika Serikat dan negara-negara Amerika Latin utama mengatakan bahwa Maduro menggunakan konstituante tersebut sebagai alat untuk mencegah pembangkangan, dengan menekan oposisi dan legislatif yang dikendalikannya.
Krisis itu telah memicu demonstrasi di jalan yang telah mencengkeram Venezuela selama empat bulan terakhir. Hampir 130 orang tewas dalam bentrokan antara pemrotes dan pasukan keamanan.
Protes telah mulai menyusut dalam sepekan terakhir karena pasukan keamanan meningkatkan penindasan dan demonstran semakin ciut sebab kegagalan oposisi untuk membawa perubahan.
Oposisi terhadap Maduro di antara 30 juta warga pengekspor minyak negara meningkat selama krisis ekonomi panjang yang membawa kekurangan pangan dan hiperinflasi ke tempat yang pernah menjadi negara terkaya Amerika Latin. (ed)
Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler