Connect with us

Khazanah

Tradisi Megibung Bali Perteguh Kebersamaan dan Budi Pekerti Luhur

Published

on

Tradisi Megibung Warga Kampung Islam Kepaon Denpasar Bali/ Ilustrasu SelArt / Foto dok. Novita Anggraeni

Tradisi Megibung Warga Kampung Islam Kepaon Denpasar Bali/ Ilustrasu SelArt / Foto dok. Novita Anggraeni

NUSANTARANEWS.CO – Tradisi Megibung Bali Perteguh Kebersamaan dan Budi Pekerti Luhur. Bukti masuknya Islam ke Indonesia dengan jalan damai salah satunya bisa ditemui di Bali. Contoh yang paling nyata terdapat dalam kehidupan warga Kampung Islam Kepaon, Serangan, Denpasar, Bali, khususnya di bulan suci Ramadhan.

Umat muslim di Indonesia yang tersebar hampir di seluruh Indonesia memiliki tradisi masing-masing dalam mengkhidmati bulan Ramadhan. Sebagian besar menunjukkan kegembiraannya memasuki bulan Ramadhan, menyambut bulan Ramadhan tradisi tertentu sesuai akar tradisinya masing-masing.

(Baca selengkapnya: Ragam Tradisi Masyarakat Kalimatan, Madura, dan Lombok Jelang Puasa || Tradisi Orang Jawa, Sunda dan Betawi Sambut Ramadan)

Di Bali, khususnya bagi warga Kampung Islam Kepaon memiliki tradisi di bulan Ramadhan pada hari ke sepuluh.Tradisi ini disebut dengan tradisi Megibung atau acara buka puasa bersama dalam satu nampan.

Secara filosofis, tradisi Megibung selain bermakna memperat kebersamaan warga juga mengandung nilai yang mengajarkan budi pekerti luhur. Tradisi ini sudah dilaksanakan oleh nenek moyang warga Kampung Islam Keaon dan dilestarikan secara turun temurun.

Pada prinsipnya Megibung diselenggarakan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur warga setelah khataman (menamatkan membaca) Al-Quran. Khataman ini dilakukan sejak malam pertama puasa. Dimana pasca shalat Tarawih, warga melanjutkan dengan tadarus (baca Al-Quran bersama) di masjid sebanyak tiga juz setiap harinya. Di malam kesepuluh ketika sudah khatam maka Megibung dilakukan. Demikian juga pada hari ke-20 dan ke-30, warga Kepaon melaksanakan megibung untuk buka puasa bersama, sebagaimana disampaikan oleh tetua ada Kampung Islam Kepaon, Haji Ishak Ibrahim (76).

Baca Juga:  Penganut Islam Wetu Telu Setia Dengan Maleman Qunut dan Likuran

“Pada hari ke-10 sudah tamat 30 juz dan ibadah shalat tarawih sepuluh malam. Kita bersyukur kepada Allah karena diberikan kesehatan bisa melaksanakan puasa, shalat tarawih dan membaca Al-Qur’an sampai pukul 03.00 dini hari menjelang sahur,” terang Ishak setelah acara Megibung di Masjid Al-Muhajirin, Rabu (15/6) malam seperti dikutip tempo.

Megibung tidak hanya bertujuan merekatkan persaudaraan antar sesama muslim tetapi juga dengan umat Hindu yang hidup berdampingan di Kepaon, Bali. Sehingga kehidupan antar agama bisa berlangung harmonis yang mana telah terjadi sejak ratusan tahun silam.

“Kami berada di kawasan Desa Pemogan, ada dua agama, Islam dan Hindu. Pada saat hari raya takbiran Idul Fitri saudara kami warga Hindu ikut keliling, dan ngejot (ikut membagikan makanan – red). Warga lain umat Islam di luar kampung ini juga bebas kalau mau ikut megibung di sini. Meski dia Palembang, atau Kalimantan. Kalau sudah dalam tradisi Magibung, maka adalah Saudara,” imbuh Ishak.

Dalam pelaksanaanya megibung tidak diikuti dengan aturan yang ketat terkait jumlah orang yang makan dalam satu nampan. Walaupun pada umumnya setiap satu nampan dikerumuni oleh 4 sampai 8 orang. Sesuai usia, semakin muda yang berkerumun, maka semakin banyak jumlahnya dan tentu semakin nikmat suasananya. Menikmati makan bersama dalam satu nampan bagi warga Kepaon juga dimanfaatkan untuk saling berbagi satu sama lain dan bertukar pikiran. (Sel)

Loading...

Terpopuler